Antisipasi Inflasi, Konsumsi Bulan Maulid Nabi Tinggi

MATARAM – Seperti Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) lain misalnya puasa Ramadhan dan Lebaran, tingkat konsumsi masyarakat pada pelaksanaan PHBI maulid Nabi Muhammad SAW saat ini di sebagian kabupaten/kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) juga cukup tinggi.

Kota Mataram merupakan salah satu daerah dengan tingkat konsumsi kebutuhan komoditi bahan pokok paling tinggi dari konsumsi biasa yaitu mencapai 1 persen.

“Konsumsi sejumlah kebutuhan bahan pokok masyarakat di Kota Mataram tinggi selama bulan maulid Nabi, karena itu harus diantisipasi, jangan sampai terjadi inflasi,” kata Asisten Dua Bidang Ekonomi Pemprov NTB Chairul Machul di Mataram, Senin (27/11/2017).

Mengingat pada setiap PHBI seperti sekarang, masyarakat menggelar acara tasyakuran dengan menghidangkan aneka makanan dalam porsi besar sehingga membutuhkan sejumlah kebutuhan pokok dalam jumlah besar juga.

Belanja masyarakat pun jauh lebih besar dibandingkan hari biasa. Beberapa komoditi bahan kebutuhan pokok dengan konsumsi tinggi antara lain beras, cabai rawit, bawang merah dan putih.

“Karena itu, selain melakukan intervensi dalam bentuk Operasi Pasar sebagai langkah terdekat, pengawasan pergerakan harga dan distribusi sejumlah kebutuhan pokok harus dilakukan, supaya tidak ada permainan,” tegasnya.

Stok harus terjaga dengan melakukan identifikasi penyebab inflasi dan pemantauan harga sehingga begitu ada pergerakan harga pasar yang tidak wajar, bisa memasukkan ke dalam data temuan. Maka, perlu pula melibatkan polisi.

Sebelumnya, mengantisipasi terjadinya lonjakan harga sejumlah kebutuhan bahan pokok di sejumlah pasar tradisional, khususnya pada pelaksanaan PHBI, Badan Urusan Logistik (Bulog) Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar Operasi Pasar (OP) dengan harga lebih murah.

“Kalau kita lihat, harga sejumlah kebutuhan pokok, khususnya beras, trennya naik terus. Karena itulah pemerintah melakukan intervensi dengan menggelar OP jangan sampai nanti kita terkejut harga tiba-tiba sudah naik tinggi,” kata Kepala Bulog Wilayah NTB, Achmad Ma’mun.

Dikatakannya pula, intervensi dilakukan dengan menjual sejumlah kebutuhan bahan pokok seperti beras, gula, minyak goreng dan bawang putih kepada masyarakat dengan harga lebih murah dari harga pasaran.

Untuk jenis beras medium, misalnya, kalau beli di Bulog harganya Rp7.300, sementara ketika dijual dengan harga Rp8.100 per kilo. Padahal harga di pasaran mencapai Rp9.000 bahkan lebih.

“Untuk gula, dijual dengan harga Rp12.000 per kilo di pasaran bisa Rp12.500 hingga 13.000 per kilo. Demikian juga dengan minyak goreng dari Rp13.000 menjadi Rp12.000. Begitu juga bawang putih, naik-turun,” katanya.

OP sendiri akan digelar hingga 31 Desember mendatang di seluruh wilayah NTB. Untuk beras Bulog NTB menyediakan stok 3.000 ton, tapi untuk sehari paling tidak tersedia 2 sampai 3 ton. OP bekerjasama dengan pihak pengelola pasar akan dilihat perkambangannya. Setiap minggu dilakukan evaluasi, berapa penyerapannya dalam sehari.

 

Lihat juga...