Ketahuilah, bahwa yang terpenting bukan hanya “bagaimana belajar sejarah”, melainkan “bagaimana belajar dari sejarah”. Pada masa lalu, Soekarno menegaskannya dengan Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah dikenal dengan istilah: “Jasmerah”. Ini tertulis di dalam halaman depan Dinas Sejarah Angkatan Darat Jalan Belitung No.6 Bandung. Bahkan, seorang Cicero sejarawan Yunani begitu menghargai sejarah dengan menyebutnya sebagai “Historia Vitae Magistra” atau sejarah adalah guru kehidupan.
Sedangkan Presiden Cuba Fidel Castro berteriak dengan lantang di pengadilan, “Historia Me Absolvera !!!” yang artinya sejarah yang akan membebaskanku!!!. Haruskah kita menyingkirkan sejarah?, bored with history?, hated social scientific history?
Salah satu Episode Sejarah Nasional bangsa indonesia adalah masa penjajahan atau yang lebih dikenal dengan Era kolonialisme. Bangsa Indonesia hidup dalam penjajahan selama hampir 450 tahun. Sebuah penderitaan yang berat dialami oleh bangsa Indonesia, karena dimana pun dan apapun bentuknya, kalau itu penjajah, tidak akan membawa kebahagiaan.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki agama, iman, dan takwa, serta patuh dan taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dimana dalam satu ajarannya adalah, ”manusia diberi cobaan tidak akan melampaui batas kekuatannya. Dan di balik penderitaan dan cobaan itu ada hikmah dan anugerah Tuhan yang indah dan besar.” Itulah salah satu kecerdikan dari bangsa Indonesia menghadapi sikap dan perilaku penjajah Belanda.
Kecerdikan dan kearifan itu ditunjukkan sebagian kecil dari bangsa Indonesia, yaitu Raja dan Keraton Surakarta Hadiningrat. Pada suatu ketika, Raja berkesempatan berdiskusi dengan Adipati.
Seluruh Kerajaan Nusantara satu pun tidak tersisa kekuasaannya, bahkan yang terlihat hanya tinggal puing dan reruntuhan bangunan kerajaan. Para pemimpin Kerajaan Mataram berpikir lain, yaitu, ”Kalau aku ngotot terus berperang dan menentang Belanda Maka Kerajaan dan Budaya Leluhurku akan musnah dan sirna. Kalau aku menerima dan bekerjasama dengan mereka Kebudayaan Kerajaan akan tetap berlanjut dan anak cucuku masih bisa melihat kejayaan pendahulunya.” Karena Kerajaan di luar jawa yang diluluh lantakkan Belanda, tetap saja rakyat menderita.
Satu Kerajaan yang tersisa di Indonesia, yaitu Kerajaan MATARAM. Karena tipu muslihat Belanda untuk menguasai bangsa Indonesia dengan politiknya devide at impera atau politik memecah belah. Akhirnya Kerajaan Mataram ini terbagi menjadi empat kerajaan yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Mangkunegaran, dan Paku Alaman.
Kerajaan tersebut adalah Kasunanan Surakarta Hadingrat, atau dimasa sekarang lebih dikenal dengan sebutan Keraton Solo. Salah satu Rajanya bergelar ISKS Paku Buwana X, yang berdasarkan UU nomor 20 Tahun 2009, juga Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2010. Paku Buwono X lahir pada 29 November 1866. Menjadi putera mahkota di usia 3 tahun, pada 4 Oktober 1869. Kemudian di usia 26 tahun naik takhta pada 30 Maret 1893, dan mengangkat diri dari Sunan menjadi Susuhunan pada 3 Januari 1901. Setelah berkuasa selama 36 tahun, raja Solo ini kemudian meninggal pada 20 Februari 1939.
PEMIKIRAN YANG KREATIF
Faktanya saat itu, Kraton Kasunanan menjadi kerajaan di bawah kekuasan Belanda. Para pemimpin Kerajaan harus menerima kondisi itu, dan berbagai kebebasan dibatasi. Tidak memiliki wewenang dan juga tidak memiliki kuasa untuk memerintah. Semua dilakukan atas ijin dan restu dari Belanda. Tidak punya kekuasaan politik, pertahanan, dan pemerintahan.
Kemudian, kemerosotan pamor Kerajaan Surakarta Hadiningrat mencapai titik terendah. Ketika pada tahun 1903, kekuasaan pengadilan diambil alih oleh Belanda. Lengkap sudah cengkeraman kekuasaan kolonial terhadap bangsa Indonesia, dimana sebelumnya, kekuasaan politik dan pertahanan telah seratusan tahun berada dalam cengkeraman kolonial. Sejak pusat Mataram masih di Kotagede, Jogja.
Sekalipun yang dihadapi demikian sangat sulit, karena kedudukannya sebagai Raja dilemahkan oleh Penjajah Belanda. Namun, beliau memiliki sebuah pemikiran yang kreatif untuk memanfaatkan dan mengerahkan kemampuannya yang masih tersisa dimilikinya. Sebagai
seorang Raja tentu memiliki kelebihan intelektual, pengetahuan, dan kebathinan.
Ketika melihat adanya pergerakan nasional perjuangan Indonesia hadir di Solo, maka beliau memberi dukungan kepada organisasi perjuang tersebut. Seperti organisasi nasionalisme Boedi Oetomo dan Syarikat Islam di Solo. Para pejabat di keraton dianjurkan dan diperintahkan untuk terlibat dan menjadi pengurus organisasi tersebut.
Beliau juga memberikan dukungan secara tidak langsung, karena kalau terlihat mendukung pergerakan, perlakuan Belanda terhadap beliau akan menjadi lain. Intensitas kunjungan keluar wilayah Kerajaan dipadatkan, bahkan kunjungannya beliau diarahkan keluar pulau Jawa saja. Misalnya, kunjungan yang dilakukan hingga ke Lampung, Sumatera, Bali, dan Lombok.
Kunjungan itu ternyata dimaksudkan oleh beliau untuk menggalang dukungan pada Sarekat Islam. Metode yang dilakukan, setiap kunjungan selalu disertai oleh pengiring dari Abdi Dalem dan Pejabat Keraton dengan jumlah besar. Dalam suatu kunjungan atau lawatan selalu diiringi ribuan orang pengikutnya. Ketika melihat sambutan dan terkumpulnya banyaknya rakyat disetiap wilayah yang dikunjungi, Belanda merasa khawatir. Akhirnya kegiatan kunjungan Raja Pakubuwono yang saat itu di jabat oleh Gubernur Jenderal De Vogel pada tahun 1903 jumlah yang pengiring dibatasi.
Namun, Belanda tetap merasa khawatir melihat kunjungan raja. Maka, diberikan pembatasan pejabat dan Abdi Dalem yang mengikuti kunjungan Raja, hanya sampai 200 orang. Dengan peserta yang sedikit itu, Belanda masih khawatir juga. Maka, Gubernur Belanda yang saat itu dijabat oleh Van Wijk, mengurangi lagi menjadi 80 orang saja.
Menurut analisa dan penelitian para ahli sejarah, dan hasil penelitian mahasiswa sejarah yang membuat Belanda khawatir, karena kunjungan raja Jawa ini ternyata sangat efektif menggalang persatuan dan kesatuan serta membangun nasionalisme. Padahal, saat itu, baru ada dua organisasi pergerakan, yaitu Sarekat Islam dan Budi Utomo.
Sementara, di Solo, Paku Buwono X juga berhasil menarik simpati rakyat dan para bupati di wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Oleh karenanya, Solo kemudian dikenal sebagai kota yang turut mempelopori nasionalisme. Itulah suri tauladan yang ditunjukkan kepada generasi muda bangsa Indonesia. Dalam perang kemerdekaan, pemuda Indonesia melakukan hal yang sama, sekalipun dalam bentuk yang berbeda. Dimana dalam kondisi terjepit tidak memiliki senjata yang modern, hanya berupa bambu runcing, mampu mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan.
Dalam catatan sejarah, kita dapatkan, Paku Buwono X telah mengunjungi Batavia, Buitenzorg sekarang dikenal Bogor, Priyangan sekarang dikenal Bandung, Priangan Timur sekarang dikenal Tasikmalaya, Pekalongan, Cirebon, Madiun, Surabaya, Bangkalan, Bali, Lombok, Kediri, Cepu, bahkan ke Lampung Sumatera.
GADJAH MADA DI MASA KOLONIAL
Kharisma dan Wibawa seorang Raja dapat terlihat ketika melakukan kunjungan ke daerah lain. Di sepanjang jalan yang dilewati, selalu dipenuhi rakyat dari berbagai pelosok pedesaan untuk ngalap berkah dalem atau mendapat sebagian bentuk berkat dan anguerah seorang raja. Rakyat bersedia dan nekad untuk memperebutkan sisa-sisa makanan dan air bekas mandi Paku Buwono X, yang dijual oleh abdi dalem keraton. Ini dijadikan cerminan, betapa besar kharisma dan wibawa yang berhasil dibangun sang raja melalui kunjungannya.
Bahkan, ketika tiba di kota di satu wilayah kunjungan, Pakubuwono X selalu disambut dengan pasar malam dan pertunjukan Upacara Kerajaan. Di situ, Paku Buwono X menyebar udik-udik atau uang sedekah bagi rakyat yang dikunjunginya. Dengan tujuan, agar rakyat dapat bergembira, sehingga bersedia taat dan patuh pada perintah pemimpinnya. Dengan apa yang dilakukan Paku Buwono X tersebut, maka kepercayaan para bupati dan rakyat untuk berjuang melawan penjajah semakin menguat. Tidak hanya di Kasunanan Surakarta Hadingrat saja, melainkan juga pemimpin wilayah di wilayah yang dikunjunginya.
Maka, banyak sejarawan yang mengakui, PB X adalah adalah raja Jawa yang pertama kali menempatkan politik kunjungan kerja sebagai senjata melawan Belanda. Berdasarkan pendapat itulah, maka sebagian orang menyebut beliau sebagai GAJAH MADA di masa kolonial. Yang membedakan Gajah Mada, yaitu menyatukan dengan peperangan dan minta upeti sebagai tanda kekuasaan. Kalau Paku Buwono X justru sebaliknya, justru memberikan sedekah dan bantuan kepada rakyatnya.
Kunjungan PB X juga diarahkan pada yang bersifat fundamental, yaitu membangun persatuan dan kesatuan. PB X berusaha menyadarkan kepada rakyat indonesia bahwa kita bangsa yang besar dan berkuasa. Kunjungan juga tidak hanya ritual menyapa rakyat dan rekreasi, tetapi juga menunjukkan eksistensi dirinya dalam meneguhkan kekuasaan Jawa yang harus dipertahankan.
Belanda melihat ada kemunculan perilaku aneh dari rakyat di wilayah yang dikunjungi Pakubuwono X, sehingga Belanda menaruh rasa curiga yang demikian dalam. Belanda menilai, kunjungan Paku Buwono X berpotensi untuk melakukan pemberontakan. Dengan kegeramannya pada masa Gubernur Jenderal Belanda dijabat oleh Sehneider pada tahun 1908, kegiatan kunjungan Raja Pakubuwono X ke wilayah, dilarang sama sekali.
MEMILIKI HUBUNGAN LUAR NEGERI
Sebenarnya, semula, di hadapan Belanda, PB X dinilai sebagai seorang anak manja, peminum, suka pesta, rajin bersolek, dan foya-foya, terkesan tidak memikirkan masa depan. Namun, dalam pandangan orang Jawa, beliau seorang raja terbesar. Maka, rakyat memberinya gelar Sinuwun Ingkang Minulyo soho Ingkang Wicaksono, atau Paduka yang mulia dan juga bijaksana.
Ini sebenarnya tidak diperhitungkan Belanda. Di balik kemanjaannya, ada tersimpan sikap kenegarawanan dari Paku Buwana X. Terkadang, kita sebagai manusia hanya bisa melihat apa yang ditampilkan dari luar. Tetapi, Tuhan Yang Maha Kuasa dapat melihat dan menggerakan yang ada dalam hati manusia.
Untuk menarik perhatian dan simpati masyarakat Solo dan Rakyat Indonesia, maka Belanda mengundang Raja dari negara lain datang ke Indonesia. Karena, setelah ada larangan untuk melakukan kunjungan, terkesan ada kevacuman. Dan Belanda merasa, ada penurunan sikap simpati masyarakat Solo terhadap Belanda.
Kemudian, Kasunanan Surakarta juga memiliki hubungan dengan Kerajaan lain seperti Kerajaan SIAM. Sehingga, pada tahun 1929, Raja Siam mengadakan kunjungan ke Keraton Kasunanan Surakarta Hadingrat. Sebenarnya, Sinuwun PB X akan mengadakan kunjungan balasan, namun hal itu tidak mendapat persetujuan dengan Belanda. Yang menjadi alasan ketidaksetujuan Belanda adalah adanya konflik Eropa dan Jepang.
PEJUANG SPIRITUAL
Spiritual yang beliau miliki dalam memimpin Kerajaan dan rakyatnya adalah tidak lepas dari kekuatan dan kemampuan spiritual. Seperti lazimnya adat yang berlaku bagi suksesi kerajaan adalah faktor tersebut. Setiap anak yang disiapkan untuk memimpin didikan yang diberikan adalah olah rasa, olah jiwa, dan olah raga. Juga melalui kegiatan lelaku dan bertapa, juga menyepi. Tempat untuk menyepi tidak sembarang tempat, melainkan disediakan khusus bagi keturunan Kerajaan.
Pengetahuan Spiritual memang tidak ada sekolahnya dan tidak ada pengetahuan formalnya. Hanya ada dalam Tutur Tinular, yaitu sebuah Ilmu yang dapat diajarkan dengan turun temurun. Tingkatan dan stratanya sama dengan pendidikan modern sekarang ini. Kalau ilmu untuk Profesor tidak mungkin diajarkan kepada anak murid SD, demikian pula untuk Mahasiswa tidak mungkin diberikan kepada siswa SMA.
Dihadapkan dengan macamnya, ilmu tabib atau pengobatan tidak bisa digabung dengan ilmu memanah. Ilmu kepanditaan tidak bisa digabung dengan ilmu telik sandi. Kegiatan mentradisi dan sifatnya abadi sepanjang zaman, namun tidak kekal. Karena ini masih bagian dari tradisi, budaya, dan kehidupan manusia.
Pengamat budaya Universitas Sebelas Maret atau UNS Surakarta, Tunjung W Sutirto memberikan penilaian, Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah satu-satunya keraton yang dua rajanya menjadi pahlawan nasional. “Ya, ini memang menjadi nilai tambah bagi Keraton Surakarta Hadiningrat. ”Artinya, kehebatan rajanya, diakui sumbangsihnya bagi negara, sehingga layak diapresiasi sebagai pahlawan.”
Sebelumnya, Paku Buwana VI juga diangkat sebagai pahlawan. PB VI dinilai sangat layak menjadi pahlawan karena saat itu langsung memimpin rakyat Surakarta mengangkat senjata melawan pemerintahan kolonial Belanda. Raja terlibat langsung dalam upaya fisik, mengusir penjajah Belanda kala itu dari wilayah Solo dan sekitarnya yang menjadi wilayah kekuasaan keraton. Maka, rakyat setuju dan merasa sangat wajar jika Sinuwun Paku Buwana VI masuk dalam kategori pahlawan perintis kemerdekaan. Karena perjuangan fisiknya tersebut.
Jasa Paku Buwana X, meski secara fisik tidak lagi mengangkat senjata melawan penjajah, dapat dikatakan, perjuangan secara spiritual. Paku Buwana X dapat membebaskan rakyatnya terutama di wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat terlepas dari belenggu kemiskinan. Pemikiran-pemikiran Sinuhun Paku Buwono X tentang kemasyarakatan sangat maju. Diantaranya, pembangunan saluran Air minum dari sumber air Cokrotulung ke Solo. Sekarang, wilayah itu masuk kabupaten Klaten, Pasar Gedhe, dan bangunan yang lain.
Salah satu Putera Paku Buwana X yang menjadi Pahlawan Nasional adalah Djenderal GPH Djati Kusumo, KSAD pertama. Djati Kusumo mewarisi sikap dan perilaku orang tuanya. Banyak ide cerdas yang beliau lahirkan, sehingga dapat diwariskan kepada generasi Angkatan Darat sekarang ini. GPH Djati Kusumo mendirikan Korps Zeni Angkatan Darat. Cermin loyalitas Prajurit, karena dari Jenderal, pangkatnya diturunkan menjadi kolonel. Beliau juga diangkat menjadi Pahlawan nasional.
Dengan tulisan ini, dari generasi muda Bangsa Indonesia tidak ada lagi anggapan atau pendapat yang mengatakan, bahwa Keraton Solo dan Jogja adalah produk kolonial. Tetapi, merupakan sisi kehidupan kebangsaan yang patut dilestarikan untuk dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi kita sekarang ini. Hikmah yang kita dapat dari penjajahan adalah, kita bisa belajar dari mereka, tentang kehidupan modern, ilmu pengetahuan, dan pemerintahan. Tetapi, semua itu berpulang pada diri pribadi yang menilainya. Dari arah dan sisi mana melihatnya dan pemikiran yang digunakan.
MENJADI PAHLAWAN NASIONAL
Dari seluruh sejarah kehidupan Paku Buwono X, yang paling terkenang oleh saya adalah jajaran medali yang ada di badannya. Tubuhnya yang gemuk dan semakin tambun menggelembung, karena demikian banyaknya medali yang terpasang di baju kebesarannya itu. Meskipun telah terpasang 28 medali yang menghiasi bajunya, tetapi masih juga tersisa yang belum mendapat tempat.
Selama memerintah, ia memang banyak mendapatkan medali penghargaan dari negara lain. Dan ia juga gemar sekali memakainya di setiap kesempatan. Hingga baju kebesaran yang dipakainya penuh medali. Bahkan, konon bukan hanya di dada dan bagian depan tubuhnya, melainkan juga mencantolkan medali-medali itu sampai di punggungnya. Maka, tak heran, kalau ada yang mengatakan dengan bercanda, bahwa Paku Buwono adalah raja terbesar dan ‘terbesar’. Karena saking besarnya tubuh yang dimilikinya.
Dan satu lagi kenangan tentang raja terbesar dan terlama di Solo ini, adalah banyaknya perempuan yang menjadi istrinya. Sejarah mencatat, Paku Buwono X mempunyai istri sebanyak 45 orang dan putra putrinya berjumlah 68 orang. Karena itulah, selain dikenal sebagai raja terlama dan ‘terbesar’, ia juga dikenang sebagai raja ‘terkuat’ di Tanah Jawa.
Melaui proses yang panjang dan berliku, akhirnya Sinuwun Pakubuwono X ditetapkan sebagai PAHLAWAN NASIONAL. Pada tanggal 8 Nopember 2009, Presiden SBY menganugerahkan gelar pahlawan kepada Sinuwun Pakubuwono X. Dalam upacara yang khidmat, gelar pahlawan nasional diterima oleh para ahli waris. Untuk gelar pahlawan nasional Paku Buwono X diterima oleh BRA Mooryati Soedibyo.
Selain Sinuwun Paku Buwono X, juga ada 6 tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan nasional. Diantaranya, Mr Syafruddin Prawiranegara pernah menjabat Gubernur Bank Indonesia, Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono sebagai pendiri Partai Katolik, dan Idham Chalid pernah menjabat Ketua MPR, Buya Hamka, Ki Sarmidi Mangunsarkoro, dan I Gusti Ketut Pudja.
PENUTUP
Semua tergantung dari pribadi kita yang menilai, dari sudut pandang dan landasan pemikiran yang digunakan. Namun, yang menjadi pelajaran bagi kita adalah setiap peristiwa enak dan tidak, terhormat atau terpuruk. Ada hikmah yang dapat dijadikan pelajaran dan pembelajaran. Response menentukan untuk menapak kehidupan selanjutnya. Ketika response-nya positif, maka hasilnya positif. Ketika response-nya negatif, hasilnya negatif.
Itu suri tauladan yang ditunjukkan oleh pendahulu kita. Hanya demi keluhuran dan kelestarian budaya bangsa Indonesia, mereka rela diperlakukan semena-mena oleh Belanda. Sedih, menderita, dan pasrah. Hanya yang memiliki fundamental berpikir bahwa sejarah itu perlu. Yaitu dengan memahami dan mengerti, maka akan melahirkan sikap kehidupan yang bijaksana. Semoga tulisan ini bermanfaat. ***
Eko Ismadi adalah pemerhati sejarah
DAFTAR PUSTAKA
1. A.Benyamins, Bab Alaki Rabi; Wayuh Kalian Boten, Semarang, Suwara, Tahun 1913.
2. Soemarsaid Moertono, Negara dan Bina Usaha Negara di Jawa Masa Lampau. Studi tentang Masa Mataram IIAbad IV sampai XIX, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, Tahun 1985.
3. KuntowijoyoRaja, Priyayi, dan Kawula, Yogyakarta, Ombak, Tahun 2006.