Permintaan Tinggi, Petani Tanjungsari Bertahan Budidaya Ubi Jalar

LAMPUNG – Budidaya ubi rambat atau dikenal ubi jalar jenis ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L) dan singkong kayu (Manihot utilissima) masih menjadi sumber mata pencaharian bagi warga Desa Tanjungsari Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan.

Sumardi (40) pemilik lahan budidaya ubi jalar ungu mengaku permintaan ubi jalar ungu saat ini terbilang tinggi dengan banyaknya kreasi kuliner dari ubi jalar ungu dan singkong kayu yang banyak dikerjakan oleh perajin kuliner tradisional di wilayah tersebut.

Sumardi mengungkapkan, tanaman yang tumbuh menjalar tersebut kerap dijual dalam kondisi utuh sebagai bahan makanan dengan cara direbus meski tak setenar ubi jalar cilembu yang berasa madu. Namun ubi ungu masih menjadi bahan makanan disajikan dengan pepaya rebus, jagung rebus, dan kerap disajikan dalam acara acara tradisional. Beberapa perajin diakuinya membeli ubi jalar dipergunakan sebagai bahan pembuatan kue bala-bala, jus ubi jalar ungu dan sebagai keripik upi pelengkap keripik singkong kayu.

Kerupuk opak hasil olahan singkong kayu disukai oleh warga salah satunya Yuni. [Foto: Henk Widi]
“Saya sudah membudidayakan sejak enam tahun silam karena sudah dikenal sebagai penanam ubi jalar dan singkong kayu, dan permintaan cukup stabil cenderung meningkat beberapa bulan terakhir,” terang Sumardi, saat ditemui Cendana News tengah melakukan pengolahan tanah yang akan dipergunakan untuk peremajaan tanaman uni jalar ungu miliknya, Senin (6/11/2017).

Tren penggunaan ubi jalar ungu sebagai bahan konsumsi diakuinya seiring dengan kesadaran masyarakat akan bahan makanan alami di tengah tawaran makanan cepat saji (fast food). Bahkan Sumardi mengaku, ada salah satu warga yang berlangganan memesan untuk diet memenuhi anjuran dokter untuk banyak mengkonsumsi ubi jalar ungu. Selain itu sebagian dijual secara eceran ke pasar yang dilakukan oleh sang isteri dalam bungkusan plastik berisi satu kilogram ubi jalar seharga Rp5.000.

Penjualan dalam jumlah banyak hingga 5 kuintal kerap dijual ke pengepul untuk dijual ke pengecer dengan harga Rp3.000 perkilogram dan banyak dimanfaatkan pembuat makanan tradisional. Ubi ungu yang bisa dipanen saat berumur 3-3,5 bulan membuat dirinya menanam secara bertahap sehingga bisa panen ubi jalar ungu bergiliran dan berkelanjutan dengan sistem selang waktu penanaman yang diatur sedemikian rupa. Sementara singkong kayu dijual per karung seharga Rp30.000 untuk bahan baku keripik, opak, eyek-eyek, kerecek oleh warga Desa Kalirejo dan sebagian dijual dalam bentuk olahan gaplek dan tiwul.

Ubi jalar ungu atau dikenal warga sebagai “mantang” menurut Sumardi sengaja ditanam dengan sistem stek batang indukan yang telah dipilih dengan cara diikat dan diletakkan di lokasi yang lembab hingga muncul akar pada ruas batang setelah lima hari. Selama proses penyiapan bibit tersebut ia menyebut menyiapkan sebanyak seratus lebih bedengan tanah dengan panjang masing-masing 20 meter mempermudah perawatan. Sementara pada bagian pinggir sengaja dipergunakan sebagai tempat penanaman ubi kayu.

“Selain sebagai tanaman komoditas pertanian yang menghasilkan saya menanam ubi jalar ungu dan singkong kayu untuk mengurangi ketergantungan pada nasi,” terang Sumardi.

Pelanggan tetap bahan ubi jalar ungu dan singkong kayu, diakuinya, berasal dari perajin pembuatan makanan tradisional dari ubi berupa opak singkong, keripik singkong, manggleng hingga gethuk lindri. Yuni (28) yang kerap membeli singkong kayu dan ubi jalar ungu dari Sumardi menyebut, membeli saat akan ada arisan atau pertemuan keluarga.

“Ubi saya rebus dan disajikan dengan kombinasi kacang rebus, pisang dan opak karena sekarang makanan tradisional lebih disukai,” beber Yuni.

Selain makanan tradisional dibuat tanpa bahan pengawet dan pewarna, Yuni menyebut, dengan menyiapkan hidangan tersebut di rumah sekaligus menambah asupan karbohidrat bagi keluarganya. Jika ada momen khusus, ia bahkan masih mengolah singkong dan ubi jalar ungu menjadi makanan ringan keripik atau hanya digoreng dan berkreasi membuat jus ubi ungu sebagai varian minuman yang menyehatkan.

Lihat juga...