Perempuan Mendominasi Buruh Usaha Batu Bata di Palas
LAMPUNG — Usai menyelesaikan pekerjaan rumah tangga pada pukul 8 pagi, bukan berarti Asmaroh bisa beristirahat. Untuk menyambung hidup warga Desa Sukamulya, Palas, Lampung Selatan ini menjadi buruh pencetak batu bata sejak dua tahun terakhir. Dia belajar dari suaminya yang kini beralih jadi buruh bangunan.
Asmaroh menggunakan satu cetakan dari kayu untuk pencetakan manual yang dibentuk bisa membuat sebanyak 10 batu bata sekali pembuatan.
“Karena tenaga perempuan seperti saya terbatas dalam sehari saya bisa membuat rata rata 800 batu bata. Namun kalau laki laki bisa lebih dari 1000 batu bata per hari,” ungkap Amsaroh.
Sebagai catatan umumnya pengusaha batu bata di Palas memberikan upah per seribu batu bata sebesar Rp50.000. Banyak perempuan seperti Asmaroh menjadi buruh pembuat batu bata, sementara suaminya menjadi buruh bangunan. Sekalipun pekerjaan sambilan, peran perempuan mendukung kelangsungan produksi batu bata dan genteng di Palas. Mereka mendominais buruh di usaha ini.
Amsaroh kerap dibantu sang anak yang duduk dibangku SMP saat pulang sekolah sehingga target 1000 batu bata sehari kerap bisa dicapai berkat bantuan sang anak. Kemudahan pencetakan batu dengan cetakan berlubang banyak maksimal 10 lubang membuat dirinya cepat membuat batu bata dengan tetap memperhatikan kekuatan tenaga.
Dia tetap memperhitungkan target perolehan cetakan batu bata. Dalam sebulan ia mendapatkan upah hingga ratusan ribu bahkan bisa mencapai satu juta lebih jika tidak disela istirahat. Namun kadang ada aktivitas keluarga yang mengharuskan saya tidak mencetak batu bata.
Usaha kecil pembuatan genteng juga tak lepas dari peranan perempuan dalam proses produksi yang dilakukan di rumah gubuk besar yang dikenal dengan tobong. Tobong memungkinkan para wanita bekerja tanpa harus kepanasan bahkan mendapat fasilitas makan dan minum dari pemilik rumah yang secara sukarela diberikan pemilik usaha genteng tanpa memotong upah.
“Bagi perempuan yang keluarganya masih memiliki usaha batu bata dan genteng sebagian membantu suami tapi banyak juga yang hanya menjadi buruh lepas,” beber Somad, seorang pengusaha batu bata.
Pembuat Genteng
Rasmi salah satu perempuan yang menjadi pekerja upahan mencetak genteng di Desa Tanjungsari dan beberapa desa lain karena upahan pembuatan genteng di beberapa sentra produksi genteng press. Rasmi dibayar berdasarkan jumlah genteng yang dibuatnya dengan upah lebih tinggi dari proses pembuatan batu bata.
Proses pencetakan genteng dengan sistem press menggunakan plat besi diakuinya untuk sebanyak 1000 genteng dirinya mendapatkan upah Rp100.000 yang biasanya bisa dihasilkan dalam waktu dua hari.
“Upah yang dibayarkan dihitung perseribu genteng sementara proses pembuatan genteng yang harus rapi dan teliti sehari saya rutin mencetak genteng sebanyak lima ratus buah genteng press dilanjutkan hari berikutnya untuk mencapai target seribu genteng,” terang Rasmi.
Genteng cetak yang umum dibuat dan dikerjakan oleh sebagian pembuat genteng di wilayah dikenal dengan genteng press karena sistem pembuatan yang menggunakan alat press manual. Untuk menghasilkan 1000 genteng Rasmi membutuhkan waktu sekitar dua hari.
Upah tersebut diakuinya kerap dibayarkan setelah selesai bekerja atau diakumulasi setelah dirinya mencetak sebanyak 100.000 genteng selama hampir 20 hari kerja bahkan bisa satu bulan dengan upah Rp1juta.
“Jika tidak ada halangan sakit atau lelah selama satu bulan saya masih bisa mengumpulkan sekitar satu juta rupiah bisa dipergunakan untuk membantu ekonomi keluarga dan pekerjaan rumah bisa saya lakukan setelah membuat genteng,” cetusnya.
Palas Sentra Produsen Batu Bata
Puluhan tahun Kecamatan Palas dikenal sebagai sentra produsen batu bata dan genteng yang tersebar di beberapa desa meliputi Desa Sukaraja, Tanjungsari, Kalirejo, Palas Bangunan, Sukamulya dan beberapa desa lain dengan sistem pembuatan batu bata dan genteng secara tradisional.
Somad, salah satu pembuat batu bata di Desa Sukamulya menyebut industri kecil batu bata rata rata merupakan usaha keluarga seperti yang ditekuninya bersama anak, isteri dan tenaga upahan.
Sebagai sebuah usaha keluarga pembuatan batu bata diakuinya sudah dimulai sejak 1989 turun temurun dari sang ayah dan sebagian warga sejak kecil sudah mengenal proses pembuatan batu bata mulai dari pengolahan tanah, pencetakan,penjemuran, pembakaran hingga sistem jual beli batu bata serta mendapatkan konsumen.
Somad bahkan menyebut mulai membuat batu bata saat harga batu bata diakuinya hanya Rp10.000 untuk per seribu bata hingga kini sudah mencapai harga Rp400.000 per seribu bata sampai di rumah konsumen.
Kunci keberhasilan proses pembuatan batu bata diakuinya tak lepas dari ketersediaan modal, tenaga kerja, kondisi cuaca hingga tingkat permintaan akan batu bata untuk bahan bangunan pribadi, proyek pemerintah hingga berbagai proyek pembangunan dengan membutuhkan batu bata.
