Pasca Panen Padi, Penggembala Bebek Serbu Lahan Pertanian

LAMPUNG – Wilayah Desa Bandanhurip Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan merupakan kawasan lahan pertanian dengan hamparan mencapai ribuan hektar. Menjadi lahan potensial bagi peternak bebek di wilayah tersebut.

Warid (59) salah satu peternak bebek menyebut di wilayah tersebut mayoritas warganya memiliki usaha sampingan sebagai penggembala bebek di sela-sela pekerjaan sebagai petani dan pemelihara ikan. Namun suasana berbeda berlangsung seusai masa panen gadu yang berlangsung sejak bulan Oktober hingga November bahkan awal Desember dengan datangnya peternak bebek dari kabupaten lain.

Warid bahkan menyediakan tempat menginap bagi beberapa peternak yang memelihara bebek dengan sistem gembala atau “angon” dalam bahasa Jawa layaknya menggembalakan ternak kerbau, kambing atau sapi. Bedanya, penggembalaan bebek dilakukan lintas kecamatan bahkan kabupaten untuk memenuhi kebutuhan pakan alami bebek penghasil telur tersebut.

Kandang sementara dari bambu, waring dan atap terpal dipergunakan untuk berteduh bebek. [Foto: Henk Widi]
Yanto (39) warga asal Kabupaten Pringsewu, Antoko (39) asal kecamatan Ambarawa kabupaten Pringsewu, Dermawan (40) asal Kedondong kabupaten Pesawaran terlihat tengah beristirahat saat tengah hari sembari membiarkan bebek yang mereka gembalakan mencari makan.

”Kami sudah hampir satu bulan ada di sini semenjak pertengahan Oktober waktu musim panen dimulai sehingga kami bisa menggembalakan bebek secara kebetulan.  Di sini banyak kawan sesama peternak bebek jadi diberi fasilitas penginapan dan bisa berbagi pengalaman,” terang Yanto saat ditemui Cendana News, salah satu penggembala bebek yang membawa bebeknya lintas kabupaten untuk mencari makan dengan harapan memperoleh hasil telur melimpah saat masa panen di kabupaten Lampung Selatan, Selasa (28/11/2017).

Bukan perkara mudah membawa ratusan bahkan hingga ribuan bebek yang dimiliki oleh setiap pemilik bebek untuk digembalakan. Sebab Yanto menyebut sebelum pergi ke suatu wilayah yang sedang panen tidak serta merta pemilik lahan atau masyarakat mengizinkan sehingga diperlukan akses setidaknya warga setempat dengan pola peternakan bebek yang juga dilakukan oleh warga. Sebab jika tidak, justru larangan atau komplain dari pemilik lahan sawah dengan alasan bebek justru mencemari sawah dan membuat gatal-gatal seusai proses penggembalaan dilakukan.

Sebagian bebek tengah beristirahat di tepi sungai. [Foto: Henk Widi]
Kondisi tersebut diakui oleh Dermawan yang menjadi penggembala bebek sejak 18 tahun lalu dan memelihara bebek dari usia 0 bulan hingga 5 bulan. Selanjutnya digembalakan hingga mencapai usia produktif maksimal pada usia 3 tahun. Selanjutnya akan dijual sebagai bebek potong dengan harga jual Rp30.000 per ekor. Dermawan menyebut sudah biasa menerima penolakan pemilik sawah sehingga harus berpindah ke beberapa kabupaten di antaranya Pringsewu, Pesawaran, Lampung Timur, Lampung Tengah dan Lampung Selatan serta kabupaten lain yang memiliki potensi lahan sawah luas.

“Kami selalu melakukan koordinasi dengan warga sekitar sehingga saat berangkat dengan luas hamparan sawah ribuan hektar, kami berangkat bersama puluhan peternak bebek dengan membawa ribuan ekor bebek,” beber Dermawan.

Setelah sebuah wilayah bisa menjadi lokasi penggembalaan bebek, ia dan rekan-rekan menyewa kendaraan pengangkut jenis L300 dengan kandang khusus, membawa ratusan hingga ribuan bebek dengan sistem borongan menggunakan biaya Rp700 ribu hingga sampai di lokasi. Sesampai di lokasi terpal dan bambu beserta pagar bilah bambu dengan waring digunakan untuk kandang sementara berukuran 3 meter x 10 meter. Menyesuaikan jumlah bebek yang dimiliki karena setiap penggembala memiliki jumlah bebek berbeda.

Para penggembala bebek tengah beristirahat menunggu bebek mencari makan di areal persawahan kecamatan Palas. [Foto: Henk Widi]
Setibanya di lokasi penggembalaan, ia menyebut, bebek dipastikan belum bertelur maksimal. Selain melakukan penyesuaian habitat juga pasokan pakan alami belum diperoleh bahkan bebek akan produktif bertelur diakuinya sekitar 10 hari. Dari 300 ekor bebek bisa bertelur sebanyak 200 butir telur dan akan maksimal setelah 25 hari. Sumber pakan berupa keong, cacing, ikan kecil, katak, bahkan sisa hasil padi menjadi pakan alami bagi bebek untuk bisa bertelur.

“Hasil telur dari bebek yang kami gembalakan memang alami karena bahan makanan bukan pakan buatan, melainkan pakan alami langsung dari alam sehingga telur yang dihasilkan disukai konsumen,” terang Dermawan.

Meski antarpenggembala bebek menempatkan bebeknya dalam kandang yang saling berdekatan penggembala bebek lain bernama Antoko memastikan bebek tidak akan tercampur dengan bebek milik penggembala lain. Karena umumnya bebek akan mengenal koloninya masing-masing dan dikeluarkan dalam jam yang berbeda-beda. Setiap hari para penggembala bebek memiliki jadwal mengeluarkan ternak bebek dari pukul 07.00 secara bertahap antarpenggembala hingga pukul 08.00. Antar koloni bebek akan terpisah dalam jarak yang jauh sekaligus ditunggui oleh pemilik. Bebek baru akan digiring pulang saat sore hari mulai pukul 17.00 hingga 18.00 sembari melakukan pengecekan pada lahan sawah, ada tidaknya bebek yang bertelur selama mencari makan.

Sebelum proses penggembalaan pada pagi hari, diakui Antoko sekaligus pemeriksaan pada kandang untuk pengambilan telur sehingga waktu mengeluarkan bebek dari kandang butuh waktu yang berbeda sembari mengumpulkan telur ke penampungan. Harga telur bebek di level peternak diakuinya kini dijual dengan harga Rp1.200 per butir. Atau rata-rata dirinya bisa memperoleh Rp1.200.000 untuk hasil 1000 butir. Bisa dicapai dalam sepekan pada puncak masa bertelur setelah berada di lahan penggembalaan atau jutaan rupiah selama kurun waktu penggembalaan.

Warid, warga desa Bandanhurip kecamatan Palas menyiapkan bambu bahan pagar bebek. [Foto: Henk Widi]
Ia menyebut, kelebihan telur bebek gembalaan banyak disukai konsumen. Karena bahan pakan alami dari alam dengan ciri khas kuning telur warnanya lebih cerah dan lebih kuning. Berbeda dengan bebek ternak yang diberi pakan sentrat warnanya tidak lebih cerah. Selain diburu konsumen langsung dengan harga yang sama, Antoko juga menyebut telur bebek miliknya kerap diburu oleh produsen pembuat telur asin yang juga mengambil langsung telur bebek tersebut darinya.

Telur asin hasil telur bebek angon atau digembalakan, ujar Antoko, memiliki warna kuning lebih cerah dan lebih masir atau gembur sehingga menjadi pilihan bagi pembuat telur asin yang kerap memesan 300 hingga 500 butir per pekan. Bahkan saat dirinya ada di Palas pesanan bisa mencapai ribuan butir dari para pemilik usaha telur asin dari kecamatan Palas dan kecamatan Sragi.

Selain tidak perlu membeli pakan kegiatan menggembala bebek hingga ke beberapa daerah diakuinya menjadi pekerjaan yang menyenangkan. Menurut Antoko dirinya bisa mengenal karakter serta kondisi wilayah yang ada di Lampung. Selain menghasilkan secara ekonomis dalam hitungan harian hingga bebek berusia maksimal tiga tahun pada penghujung masa produktif bebek bertelur, bebek masih bisa dijual menjadi bebek pedaging yang menghasilkan. Bisa pula diganti dengan bebek anakan baru atau dikenal dengan meri.

Antoko dan kawan-kawannya menyebut, kerap tidak bisa mematok hingga kapan akan berada di lokasi penggembalaan. Namun dengan memperhatikan pola masa tanam petani ia menyebut akan segera bergeser saat alat-alat traktor pengolah tanah sudah mulai diturunkan ke sawah. Tanda dimulainya masa tanam berikutnya. Pertanda bebek gembalaannya harus segera dipindah ke wilayah lain atau sementara dibawa pulang ke tempat asal masing-masing pemilik bebek. Hasil yang menjanjikan dari telur bebek, usaha penggembalaan bebek digunakan oleh penggembala untuk biaya operasional, makan, penginapan, transportasi. Sisanya dipergunakan untuk modal peremajaan bebek yang sudah tak produktif.

Lihat juga...