Musim Tanam Padi Terkendala Musim Hujan

PADANG – Musim hujan yang melanda sejumlah daerah di Sumatera Barat (Sumbar) membuat para petani untuk memilih berdiam diri di rumah sementara waktu, meski tengah memasuki musim tanam.

Seperti halnya yang dialami petani di Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, menjelang berakhirnya bulan November ini dan hingga awal bulan Desember nanti, merupakan musim tanam para petani di Sutera, atau disebut dengan tanam serentak.

“Kami di sini baru saja selesai membajak sawah, sementara benih padinya sudah masuk masa tanam. Tapi, kalau hari hujan begini terus, dan tidak ada jedanya, bagaimana mau turun ke sawah,” kata Wido, Senin (27/11/2017).

Sejumlah petani tengah melakukan penanaman padi di sawah/Foto: M. Noli Hendra

Menurutnya, meski pada dasarnya untuk menanam padi kondisi sawah harus ada airnya. Akan tetapi, jika hujan yang turun dalam kondisi yang berlangsung lama, maka akan sangat tidak baik untuk memaksakan untuk menanam padi.

Ia menjelaskan, hal tersebut dikarenakan, jika padi tetap ditanam dalam kondisi cuaca hujan, ada dua kemungkinan buruk yang alami petani. Pertama padi yang baru ditanam dimana kondisi batang padi sangat lunak, akan mudah habis dimakan oleh keong sawah.

“Keong paling mudah memakan padi yang baru ditanam, apabila air yang menggenangi di dalam sawah mencapai sekira 10 cm. Padahal idealnya, kondisi air sawah saat melakukan penanaman padi, hanya sekedarnya saja, artinya cukup untuk membuat lumpur menjadi benar-benar lunak,” ujarnya.

Pemandangan sawah yang terbentang dan dihiasi pegunungan. Sawah ini berada di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar/Foto: M. Noli Hendra

Sedangkan untuk kemungkinan buruk kedua ialah, padi-padi yang baru ditanam itu akan mudah tercabut. Karena, usia tanam masih sangat baru, sehingga urat yang ada di benih padi itu, belum lagi memasuki proses penyantuan dengan lumpur di sawah.

Untuk itu, air yang menggenangi sawah, dengan kondisi sulit untuk dialiri ke sawah lain, mengingat hujan terus turun, akan membuat padi yang baru ditanam itu, akan mengapung dan bahkan bisa hanyut terbawa arus air sawah.

“Itu kalau bicara persoalan teknisnya, selain memiliki kemungkinan buruk bagi padi yang baru ditanam. Hal lainnya ialah, juga tidak memungkinkan jika tetap memaksa para ibu untuk turun ke sawah dalam kondisi hujan,” tegasnya.

Wido menyatakan, solusi dari dua persoalan itu ialah, perlu adanya jeda waktu turun hujan. Seperti, hujan yang turun dinilai aman bagi para petani yakni hujan turun dengan rentang watu satu kali dalam tiga hari. Artinya, dengan demikian, ada waktu proses mengaliri genangan air ke arah sawah lainnya hingga sampai ke irigasi. Serta dengan jeda waktu yang demikian, turut memberikan proses penguatan akar padi yang ditanam di dalam lumpur sawah.

Sementara itu, Kasi Observasi dan Informasi BMKG Ketaping, Sumatera Barat, Budi Imam Samiaji menjelaskan, prospek cuaca Sumatera Barat hingga tiga hari ke depan secara umum berawan banyak dan berpotensi hujan dengan intensitas variasi ringan-lebat.

Ia menyebutkan, potensi terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terutama pada sore dan malam hari di wilayah Mentawai seperti Siberut, Sipora dan sekitarnya serta perairan barat Mentawai, Pasaman Barat, Pasaman, Agam, Lima Puluh, Padang Pariaman bagian pesisir dan Padang bagian pesisir, Pesisir Selatan.

“Sedangkan untuk potensi hujan-hujan intensitas sedang diperkirakan melanda ke Padang Panjang, Tanah Datar bagian barat, Kota Solok, Sawahlunto, Lima Puluh Kota, Payakumbuh, Bukitinggi, Agam bagian timur, Solok Selatan, Kab Solok dan Pesisir Selatan,” jelasnya ketika dihubungi melalui pesan singkat.

Menurut Budi, perkiraan potensi hujan itu, juga diperkirakan adanya potensi angin kencang dengan maksimum 30-40 km/jam, namun tidak terjadi terus menerus. Wilayah yang kemungkinan dilanda, yakni Solok Selatan, Pesisir Selatan, Mentawai, Padang, Padang Pariaman, Kota Pariaman, Agam Tiku, Pasaman Barat, dan Pasaman bagian barat.

Lihat juga...