Hujan Mulai Turun, Petani Penengahan Tanam Hortikultura
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Hujan yang mengguyur sebagian wilayah Lampung Selatan, mulai dimanfaatkan oleh sejumlah petani untuk bercocok tanam.
Anfal Mustofa, salah satu pemilik lahan sawah di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan menyebut, keputusan mulai menanam jagung dilakukan setelah setengah bulan sebelumnya ia melakukan pengolahan lahan menggunakan traktor.
Meski intensitas hujan masih belum maksimal, awal masa tanam jagung disebutnya mulai dilakukan karena tanah mulai basah.
Masa tanam jagung pada pertengahan Oktober merupakan masa tanam ketiga pada tahun ini. Pada lahan seluas 8000 meter persegi, ia menanam benih jagung varietas NK sebanyak 15 kilogram atau sebanyak 3 kampil yang ditanam dengan sistem tugal.
Hujan yang mulai membasahi lahan akan merangsang pertumbuhan benih jagung yang ditanam pada guludan tanah yang dibuat.
“Lahan telah dibuat menjadi guludan sehingga saat intensitas hujan tinggi pasokan air melimpah bisa disalurkan ke saluran irigasi, karena tanaman jagung membutuhkan air terbatas,” terang Anfal Mustofa, salah satu petani jagung yang tengah melakukan proses penanaman bersama sejumlah buruh tanam, Senin (22/10/2018).
Penanaman jagung bersamaan dengan mulainya musim hujan, disebut Anfal Mustofa, merupakan teknik yang kerap dilakukan petani. Pasalnya, setelah proses penanaman dengan adanya hujan, benih jagung sudah bisa tumbuh pada usia empat hari dengan tunas yang cukup seragam (merajik).
Sebelumnya, dalam waktu hampir empat bulan, wilayah tersebut belum diguyur hujan sehingga petani sebagian besar membiarkan lahan terbengkelai.
Upaya mengantisipasi hujan yang belum merata, Anfal Mustofa menyebut, telah menyediakan cadangan mesin pompa serta bak penampungan. Perlakuan atau perawatan tanaman jagung disebutnya lebih mudah dibandingkan saat ia menanam padi dengan kebutuhan air terbatas.
Saat benih jagung tumbuh dan membutuhkan air, Anfal Mustofa akan melakukan sistem penyiraman menggunakan teknik kocor sebelum memasuki usia pemupukan.
Pada pemupukan tahap pertama, dilakukan 25 hari setelah tanam (HST) penyiraman dengan sistem kocor, diaplikasikan bersama pupuk urea, phonska dan SP-36. Cara tersebut, diakuinya lebih efisien untuk proses penyiraman pada tanaman jagung saat hujan belum merata di wilayah tersebut. Meski pada awal masa tanam hujan mulai turun.
Sistem penyiraman kocor bersama pupuk selama ini memanfaatkan air yang disedot dari Sungai Way Pisang dan dialirkan pada beberapa bak penampungan.
Pemanfaatan lahan untuk penanaman jagung, meski musim hujan belum merata, disebut Anfal Mustofa, karena penanaman jagung tidak hanya dilakukan untuk memperoleh buah.
Sebelumnya, pada masa penanaman caturwulan pertama tahun ini, ia bisa mendapatkan hasil sekitar 190 karung jagung. Saat tahap kedua, kebutuhan akan pakan sapi pada tempat penggemukan sapi (feed loter) ia bahkan menjual tanaman jagung lengkap dengan jagung sistem borongan seharga Rp16 juta.
“Setelah dikalkulasi, ketika proses penanaman jagung saya lakukan, tanpa harus menunggu jagung tua bisa dijual sebagai pakan dan lebih menguntungkan,” beber Anfal Mustofa.

Pada musim ketiga ia sengaja melakukan penanaman hortikultura jenis sayuran terong, timun, kacang, cabai merah keriting, serta sayuran lain.
Hujan yang belum merata masih cocok dipergunakan untuk penanaman non-padi. Sejumlah tanaman hortikultura tersebut diakuinya dijadikan tanaman penyelang sebelum proses penanaman padi pada tahap berikutnya.
Proses tersebut masih memberi keuntungan bagi petani dibandingkan membiarkan lahan tidak ditanami. Menanam timun salah satunya, Suroto mengaku, bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp150.000 dengan harga timun Rp3.000 per kilogram sekali panen. Total 9 kali panen ia bisa mendapatkan hasil Rp1.350.000 sekali tanam.
Selain hasil dari timun, ia menyebut, masih bisa menghasilkan sejumlah sayuran lain di antaranya terong, kacang panjang, bayam serta timun suri. Hujan yang sudah mulai turun di wilayah tersebut, diakui Suroto, mulai dimanfaatkan petani untuk melakukan perendaman lahan (ngelep) pada lahan yang akan ditanami padi.
Proses ngelep tersebut akan dilanjutkan dengan proses menyiapkan benih padi (ngurid). Sejumlah petani disebut Suroto bahkan masih melakukan penanaman berbagai jenis sayuran yang tidak memerlukan air cukup banyak.