Musim Hujan, Petani di Sikka Mulai Bersihkan Lahan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Hujan yang mulai mengguyur beberapa wilayah di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak awal September 2021 membuat banyak petani mulai membersihkan lahan kebun mereka.

Petani Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, Maria Yupita saat ditemui di kebunnya, Senin (20/9/2021). Foto : Ebed de Rosary

Lahan tadah hujan yang biasa ditanami jagung, kacang hijau, singkong, kacang tanah dan labu kuning ini pun usai panen dibiarkan saja tanpa ditanami apapun dan baru dibersihkan saat memasuki musim hujan.

“Sudah beberapa kali hujan sejak awal bulan September 2021 sehingga kami mulai membersihkan lahan kebun,” sebut Maria Yupita petani Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui, Senin (20/9/2021).

Yupita mengatakan, biasanya pada Oktober, lahan tadah hujan yang akan ditanami jagung sudah mulai dibajak, sehingga harus dibersihkan terlebih dahulu.

Lahan yang dibersihkan sebut dia, akan ditanami dengan jagung lokal karena lebih tahan lama disimpan, sebab dibutuhkan untuk dijual dan dikonsumsi sendiri.

Ia mengakui tidak menggunakan pupuk kimia sehingga sisa batang dan daun jagung, singkong, kacang hijau, serta tanaman lainnya dicampur dengan tanah agar bisa jadi pupuk alami.

“Saya tidak pernah gunakan pupuk kimia sebab kalau harus beli saya tidak punya uang. Kami petani kecil ini paling hasil panen uangnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja,” ucapnya.

Mantan Ketua Gabungan Kelompok Tani Wa Wua Desa Langir, Ignatius Iking menyebutkan, para anggota kelompok tani biasanya sebelum masa tanam akan mendapatkan bantuan benih jagung Hibrida dan Komposit.

Iking mengakui, banyak petani memilih menanam jagung lokal karena bisa disimpan lama dan dipergunakan juga untuk makanan ternak ayam, selain untuk dikonsumsi sehari-hari dengan mencampurnya dengan beras.

“Para petani juga biasanya mendapatkan pupuk subsidi kalau bergabung di kelompok tani. Namun terkadang pupuk sering habis sehingga banyak petani lebih memilih membeli pupuk kimia sendiri atau tidak menggunakan pupuk sama sekali,” ujarnya.

Iking menyebutkan, lahan pertanian di Kecamatan Kangae memang potensial ditanami jagung, namun hanya dapat ditanam setahun sekali saat musim hujan saja karena ketiadaan sumber air.

Menurutnya, ada beberapa sumur bor dan pompa bantuan pemerintah di lahan-lahan jagung, namun hampir semuanya mubazir dan terlantar.

“Banyak mesin pompa yang rusak akibat tidak dipergunakan. Kendalanya mesin pompa air harus menggunakan mesin diesel untuk menggerakannya, sementara para petani sulit untuk membeli bahan bakar dan mengumpulkan biaya perawatan mesin pompa,” ujarnya.

Lihat juga...