Ketergantungan Pupuk Kimia Tinggi, Petani Sulit Beralih Sepenuhnya ke Organik

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Penggunaannya di lahan pertanian yang berlangsung selama puluhan tahun secara terus menerus membuat para petani memiliki ketergantungan tinggi terhadap pupuk kimia atau pupuk sintetis buatan pabrik. Hal ini terbukti dari dari mayoritas petani di Indonesia yang selalu menggunakan pupuk kimia dalam menanam berbagai jenis komoditas di lahan pertanian mereka sepanjang tahun.

Para petani biasanya mengaku tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal jika hanya menggunakan pupuk organik. Padahal berdasarkan berbagai penelitian, penggunaan pupuk kimia berlebihan akan menurunkan tingkat kesuburan tanah.

Salah seorang petani, Jamal asal dusun Sanggrahan Kidul, Bendungan, Wates, Kulonprogo mengaku biasa menggunakan pupuk kimia untuk menanam padi setiap musimnya. Pengunaan pupuk kimia tersebut dikatakan mampu meningkatkan hasil panen hingga 3 kali lipat jika dibandingkan tanpa menggunakan pupuk sintetis.

“Kalau pakai pupuk kimia itu lahan 1.000 meter bisa menghasilkan panen 12 karung atau sekitar 6 kwintal. Sementata jika hanya pakai pupuk kompos dan pupuk kandang hasil panen hanya sekitar 4 karung atau 2 kwintal saja,” ungkapnya, Senin (20/9/2021).

Atas dasar itulah Jamal mengaku memilih menggunakan pupuk kimia meski ia harus mengeluarkan biaya operasional lebih. Padahal ia sendiri mengetahui bahaya penggunaan pupuk kimia bagi lahan pertanian miliknya.

“Kalau tidak pakai pupuk kimia itu rasanya kurang mantap. Jadi ya harus tetap pakai pupuk kimia. Walaupun memang biayanya tambah mahal. Karena kalau tidak pakai pupuk kimia itu pertumbuhan tanaman jadi lambat dan hasilnya kurang maksimal,” ungkapnya.

Salah seorang petani cabai, Jamal (biru) asal dusun Sanggrahan Kidul, Bendungan, Wates, Kulonprogo, Senin (20/9/2021). Foto Jatmika H Kusmargana

Meski begitu, Jamal mengaku saat ini ia mulai mengurangi dosis penggunaan pupuk kimia sebagaimana anjuran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) secara bertahap. Hal itu ia lakukan agar kondisi lahan pertanian miliknya bisa tetap terjaga kesuburannya dalam jangka waktu yang lama.

“Anjuran PPL memang harus dikurangi pelan-pelan. Agar tanah tidak bantat. Selain itu setiap selesai masa tanam, tanah juga harus diistirahatkan dan diolah terlebih dahulu. Kalau tidak, tanah akan menjadi tidak subur dan sulit untuk ditanami,” jelasnya.

Sementara itu, petani lainnya, Maman asal Argorejo Sedayu Bantul, mengaku berupaya mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetis dengan memanfaatkan pupuk organik. Berbagai pupuk organik seperti pupuk kandang, kompos, pupuk cair hingga pupuk fermentasi ia buat sendiri dengan harapan dapat menggantikan pupuk kimia pabrikan.

“Memang kalau mau praktis ya pakai pupuk kimia. Tinggal beli jadi. Tidak perlu repot-repot buat ramuan pupuk organik sendiri. Tapi kalau pupuk organik ini kan tersedia gratis. Tinggal kita ambil dan manfaatkan saja. Walaupun memang dampak terhadap pertumbuhan tanaman tidak secepat pupuk kimia,” katanya.

Lihat juga...