Sendratari Sinta Obong Pancaran Kesucian Dewi Sinta

JAKARTA – Taman Mini Indonesia Indah (TMII) kembali mempersembahkan pergelaran kolosal Ramayana di panggung Candi Bentar, TMII, Jakarta, Minggu (15/10/2017) malam. Kali ini pagelaran mengambil episode Sinta Obong.

Gelaran Sinto Obong ini berkisah di dalam perang Brubuh di Alengka akhirnya Rama berhasil mengalahkan Rahwana dan mendapatkan kembali Dewi Sinta. Untuk membuktikan kesuciannya, Dewi Sinta bersedia dibakar dalam api.

Di dalam kobaran api, Dewi Sinta terlihat tenang dan tak terbakar sedikitpun hingga api kembali padam. Rama yang paham dengan kejadian tersebut, mempercayaai kesucian Dewi Sinta. Akhirnya cinta kasih mereka bersatu kembali.

Pagelaran tersebut tercatat melibatkan kurang lebih 100 seniman dan seniwati serta potensi Diklat TMII. Dan pertunjukan kali ini terbagi menjadi tiga bagian, yakni adegan Goa Kiskenda. Yang berkisah, Rama dan Lesmana dihadap pasukan kera sedang menunggu kedatangan Hanoman yang telah diutus untuk meyakinkan keadaan Dewi Sinta. Sekaligus mengukur kekuatan Alengka.

Tiba-tiba datang Wibisana yang ingin bergabung dan mengandikan diri kepada Rama, Sugriwa dan pasukan kera yang curiga langsung menyerang Wibisana. “Namun dapat dilerai Hanoman. Hanoman pun menjelaskan kejadian di Alengka, hingga Rama menerima Wibisana untuk bergabung bersamanya,” kata Sulistio.

Adegan kedua adalah Kekerasan Alengka. Ini berkisah, Rahwana yang telah dihadap para pasukan Alengka sedang membahas kepergian Wibisana dan Kumbokarno. Lalu datang Kalamarica melaporkan jika pasukan Rama telah sampai di perbatasan negara Alengka dimana Wibisana terlihat telah bergabung bersama Rama.

Mendengar penjelasan Kalimarica, Rahwana pun menjadi murka dan mengutus suluruh pasukan Alengka untuk menggempur pasukan Rama. Dan Adegan terakhir adalah Medan Perang Alengka. Diungkapkan Sulistio, ini berkisah peperangan antara pasukan Rama dan pasukan Rahwana pun terjadi.

Dengan semangat juang tinggi pasukan Rama berhasil mengalahkan semua pasukan Alengka, hingga Rahwana pun berhadapan dengan Rama.”Dengan pertempuran yang sengit Rahwana dapat dikalahkan. Akhirnya Rama bertemu kembali dengan Dewi Sinta,” ujar Sulistio.

Namun ada perasaan curiga Rama meragukan kesuciaan Dewi Sinta. Untuk membuktikan kesuciaannya, Dewi Sinta pun rela dibakar hidup-hidup. Rama mengutus Hanoman untuk membuat tungku api untuk membakar Dewi Sinta. Dengan berat hati Hanoman menjalankan tugas dan membakar Dewi Sinta.

Didalam kobaran api, Dewi Sinta terlihat tenang dan tak terbakar sedikitpun hingga api kembali padam. “Rama yang paham dengan kejadian itu, mempercayai kecusian Dewi Sinta, hingga cinta mereka kini bersatu kembali,” ungkap Sulistio.

Dengan pagelaran kisah Ramayana ini, Sulistio berharap masyarakat Indonesia khususnya generasi muda bisa melestarikan seni budaya bangsa dan tidak menganggulkan budaya luar. Menurutnya, ragam budaya bangsa Indonesia patut dijaga dan dilestarikan hingga menggema ke keseluruh dunia.

Lihat juga...