JAKARTA – Pemerintah sedang menyusun strategi untuk mengatasi gizi buruk di masyarakat.
“Nah sekarang inilah yang kita lakukan di Kementerian Kesehatan, kita intervensi dengan memberikan makanan tambahan atau apapun,” kata Menteri Kesehatan, Nila Djuwita F Moeloek di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis.
Menurut Nila, untuk mengatasi gizi buruk bukanlah hanya tugas Kementerian Kesehatan yang hanya menangani persoalan di hilir.
“Orang semua kurang gizi langsung kita kasih makan, juga tidak ada baiknya. Kita kan tahu bahwa orang kerdil otaknya jadi ikut kerdil itu yang kita sedih. Dalam hal ini, ini cukup tinggi,” ungkap Nila.
Menurut Nila, pada hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia adalah 37,2, artinya dari 10 anak, 4 mempunyai stunting (masalah kurang gizi kronis).
“Tapi kalau sudah terjadi stunting untuk menjadi normal itu dari mulai lahir, kita lihat dia kerdil cuma 15 persen sedangkan sisanya tetap (tumbuh normal). Jadi ini kerja keras yang bukan main. Makanya tidak bisa di hilir,” ungkap Nila.
Pemerintah pun berencana untuk mengadakan Asia Pacific Forum. Food Forum itu mempertemukan akademisi, industri maupun lembaga swadaya masyarakat.
“Artinya itu akademisi, industri kita kaji semuanya bersama juga dengan NGO. Sebenarnya, kekurangan micronutrient. Itu kita tidak tahu makanan kita kekurangan micronutrient. Nah itu bisa dikaji,” tambah Nila.
“Selanjutnya soal cara memberikan makan pada anak dan isi makanan, itu suatu keilmuan juga. Anda kalau anak tidak mau makan didiemin atau hanya diberi nasi dan ikan teri, itu anak mau saja kan tidak benar, karena tidak ada protein dan sebagainya,” tambah Nila.
Dia meminta pihak industri untuk membuat makanan yang bersih dan juga supaya petani tahu tidak kasih pestisida, peternak tidak kasih antibiotik.
Nila pun mendorong agar masyarakat mengkonsumsi lebih banyak protein dari ikan dan bukan hanya susu.
“Susu kalian tahu darimana? Dari sapi. Cukup tidak sapi kita? 250 juta penduduk mesti dapat dari mana? Kalau kita lihat konten dari susu, isinya protein, lemak, gula ada dalamnya bisa diganti ikan? Bisa. Ada ikan lele, nila, mujair, darat. Saya kurang begitu setuju kalau susu saja, gizi itu seimbang. Karbohidrat berapa, protein berapa, kacang hijau, nasi ganti jagung,” ungkap Nila. (Ant)