NEW YORK – Saat jumlah pengungsi Rohingya yang berlindung di Bangladesh Selatan melebihi 800.000, lembaga PBB yang menanggapi krisis tersebut bekerja keras untuk memastikan akses diperoleh untuk mencapai daerah tersebut.
Tujuannya ialah bantuan yang sangat diperlukan dapat dikirim tepat pada waktunya. “Dengan sangat banyak orang yang telah menetap di daerah yang demikian kecil, perencanaan dan penanganan lokasi penting bagi perlindungan pengungsi Rohingya,” kata Organisasi Internasional PBB bagi Migrasi (IOM), dalam siaran pers pada Jumat (27/10).
“Kami bekerjasama dengan semua mitra (kemanusiaan) dan pemerintah untuk memastikan akses diperoleh ke lokasi pengungsi, yang semuanya didirikan di daerah berbukit terjal, sehingga sangat sulit untuk memberi layanan,” tambahnya.
Sekarang, ada 817.000 pengungsi di Cox’s Bazar di kabupaten paling selatan Bangladesh, termasuk 200.000 orang yang telah mengungsi ke sana sebelum pengungsian besar terjadi pada penghujung Agustus, kata Xinhua –yang dipantau di Jakarta, Sabtu (28/10/2017) siang.
Dari jumlah itu, hanya 46.000 tinggal di tempat penampungan sementara atau lokasi pengungsi, yang didirikan di daerah bukit terjal, sehingga akses ke sana menjadi tantangan yang sangat besar.
Pembuatan jalan dan prasarana dasar seperti saluran dan tangga sangat penting untuk menjamin bahwa semua pengungsi dapat menerima layanan sesegera mungkin.
IOM juga telah mengirim beberapa tim kesehatan untuk memberi layanan darurat dan kesehatan dasar buat lebih dari 53.000 pasien. Lembaga bantuan tersebut juga telah membagikan alat kesehatan pribadi buat ribuan pengungsi.
Pada saat yang sama, Kantor Komisaris Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) telah memindahkan sebanyak 1.700 pengungsi baru dari Kutupalong ke satu lokasi yang disediakan pemerintah di Bangladesh Tenggara, sehingga mengurangi desak-desakan di instalasi yang ada dan kelebihan pengungsi. (Ant)