Desa Mandiri Lestari Fokus Penguatan SDM

YOGYAKARTA – Sejak Maret lalu, Desa Trirenggo, Bantul, dicanangkan sebagai desa percontohan pemberdayaan masyarakat oleh Yayasan Damandiri, melalui program Desa Mandiri Lestari. Selama 6 bulan berjalan, Desa Mandiri Lestari Trirenggo terus melakukan berbagai pembenahan. Baik itu di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, ekonomi hingga keagamaan.

Sejumlah infrastruktur desa dibangun melalui dana bantuan Yayasan Damandiri. Tercatat sebanyak 13 lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) digelontor dana sebesar Rp130 juta dengan besaran Rp10 juta per PAUD. Dana itu digunakan untuk perbaikan fasilitas serta penambahan peralatan penunjang seperti alat peraga dan sebagainya.

Sedangkan di bidang lingkungan, melalui program bedah rumah, sejumlah rumah tak layak huni milik warga dibangun menjadi lebih sehat dan nyaman. Sampai saat ini sudah ada sebanyak 4 rumah milik warga yang selesai dibangun dan telah ditinggali. Masing-masing rumah mendapatkan gelontoran dana sebesar Rp20 juta. Sementara 6 rumah lainnya menyusul.

Tak hanya dibangunkan rumah layak huni, sejumlah keluarga miskin juga diberi suntikan modal usaha sebesar Rp2,5 juta tiap KK. Bantuan modal usaha ini diberikan sebagai pemantik agar keluarga miskin atau prasejahtera dapat memulai dan mengembangkan usaha sehingga lebih mandiri.

Sementara itu di bidang keagamaan, Yayasan Damandiri melalui program Desa Mandiri Lestari juga menyalurkan dana bantuan sebesar Rp100 juta untuk pembangunan masjid baru. Bahkan setiap masjid dan mushola di setiap dusun diberi bantuan Al-Quran sebagai sarana warga beribadah.

Koordinator Pendamping Desa Mandiri Lestari Trirenggo, Edward Bot, mengatakan meski sejumlah infrastruktur dibangun, fokus Yayasan Damandiri dalam membentuk Desa Trirenggo sebagai Desa Mandiri Lestari selama semester pertama ini adalah pada penguatan Sumber Daya Masyarakat (SDM). Penguatan ini menjadi sangat penting mengingat berhasil atau tidaknya sebuah program tergantung pada masyarakat desa itu sendiri.

“Pada semester pertama ini kita masih fokus pada penguatan SDM. Yakni dengan menggelar pelatihan-pelatihan, pembinaan-pembinaan hingga pendampingan. Di semua bidang, mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga lingkungan. Seperti misalnya diklat bagi guru PAUD dan TK juga pelatihan dan pendampingan bagi pelaku UKM,” katanya.

Edward mengaku sampai saat ini pihaknya memang belum mampu menyasar seluruh masyarakat desa. Hal itu dikarenakan adanya kendala ketidakcocokan data yang ditemukan di lapangan. Sehingga ia mengaku masih butuh waktu untuk bisa menyalurkan program secara maksimal serta tepat sasaran.

“Untuk pelatihan UMKM misalnya memang belum semua tercover. Karena pada tahap awal, kita membatasi kuota untuk setiap dusun. Namun pada tahap selanjutnya nanti akan kita sasar lagi. Mudah-mudahan semua akan tercover,” katanya.

Setelah penguatan SDM rampung pada semester pertama, Edward mengaku akan mulai fokus untuk mengembangkan setiap potensi yang dimiliki Desa Trirenggo pada semester kedua. Yakni dengan menentukan arah program sekaligus strategi yang diambil berdasarkan pemetaan data dan karakter masyarakat yang telah dipelajari sebelumnya.

Olahan daun kelor menjadi salah satu potensi Desa Trirenggo di bidang kuliner. Foto: Jatmika H Kusmargana

 

Lihat juga...