Bayi 14 Bulan di Natamage Meninggal Bukan Karena Keracunan Ubi Hutan

MAUMERE — Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Sikka dr.Maria Bernadina Sada Nenu, MPH menyebutkan, bayi berusia 14 bulan dari desa Natarmage diduga meninggal karena sakit Pnemonia, radang jaringan paru-paru.

“Bukan karena keracunan akibat sang ibu mengkonsumsi ubi hutan,” sebutnya saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (9/10/2017).

Kepala dinas Kesehatan kabupaten Sikka dr.Maria Bernadina Sada Nenu,MPH.Foto : Ebed de Rosary

Sebelumnya beredar kabar, bayi tersebut meninggal akibat keracunan ASI dari ibu yang mengkonsumsi ubi hutan beracun.

“Sebenarnya tanggal 20 september 2017 balita tersebut sudah mengalami sakit batuk dan pilek tetapi tidak datang berobat ke puskesmas pembantu Natarmage, padahal tempat tinggal orang tuanya dekat sekali dengan lokasi puskesmas pembantu tersebut,” ujarnya.

Tanggal 27 September 2017 terang Maria, balita tersebut mulai terkena diare lalu ibunya membawa ke Puskesmas Pembangtu (Pustu) Natarmage dan diberikan obat serta dipesan oleh petugas kesehatan agar bila belum sembuh dan masih diare segera bawa ke puskesmas pembantu atau puskesmas Tanarawa.

Tetapi itu juga lanjutnya, tidak diindahkan dan balita tersebut juga tidak dibawa berobat kembali ke puskesmas pembantu atau puskesmas. Baru tanggal 1 Oktober 2017 dibawa ke puskesmas Tanarawa dimana balita tersebut sedang dalam kondisi panas tinggi, sesak nafas dan diare berulang-ulang.

“Petugas di puskesmas Tanarawa melakukan upaya pertolongan namun balita tersebut tidak bisa tertolong dan meninggal dunia dan perlu diketahui, Pnemonia itu kan salah satu gejalanya diare dan biasanya sebelum diare mengalami gejala panas tinggi serta batuk dan pilek,” tegasnya.

Saat ditanyai terkait dengan ada tidaknya petugas di lapangan, Maria katakan, surveilans juga ada di setiap puskesmas yang akan melakukan pemantauan kesehatan di lingkungannya secara terus menerus agar bisa segera diambil langkah atau tindakan kesehatan lebih lanjut.

“Kami siang ini ada pertemuan dengan semua kepala puskesmas, petugas surveilans, dokter puskesmas dan perawat yang melakukan pengobatan guna meningkatkan kewaspadaan dini, melakukan penyuluhan kepada masyarakat sebab dengan adanya musim kemarau yang panjang penyakit diare rentan sekali muncul,” terangnya.

Sementara itu, Bupati Sikka, Drs.Yoseph Ansar Rera juga membenarkan bahwa Priska Anasatria, bayi berusia 14 bulan meninggal bukan karena efek dari orang tuanya yang mengkonsumsi ubi beracun.

Dikatakan Ansar sapaannya, berdasarkan pengakuan dari ibu sanga bayi, anaknya meninggal karena penyakit dan mengalami diare walau sempat mendapatkan pertolongan di puskesmas Tanarawa di kecamatan Waiblama serta membantah kabar yang mengatakan anaknya meninggal akibat keracunan ubi hutan atau Magar.

“Berdasarkan laporan dari petugas kesehatan dan Kabag Humas yang turun ke lokasi menemui dan melakukan wawancara dengan orang tua korban, mereka juga mengakui bahwa anaknya meninggal karena penyakit,” ungkapnya.

Lihat juga...