KANBERRA – Australia mencoba memulai proses penutupan kamp yang menjadi tempat penahanan para pencari suaka. Upaya tersebut dilakukan dengan mencoba memindahkan para pencari suaka yang berada di salah satu dari dua pusat tahanan Pasifik terpencil yang selama ini dikenal sebagai kamp kontroversial.
Skenario yang disiapkan, para pria di Pulau Manus, Papua Nugini, dapat pindah ke pusat di negara kepulauan Nauru yang kecil yang menjadi kamp kedua. Tawaran tersebut diberikan jika mereka mendapat status pengungsi dan dipertimbangkan untuk pindah dan menetap di Amerika Serikat.
“Pengungsi di Amerika Serikat sekarang dapat mengajukan permohonan untuk dipindahkan ke Nauru,” demikian pernyataan pemerintah setempat, Selasa (10/10/2017).
Pusat penahanan Manus direncanakan akan di tutup oleh Australia terhitung mulai 31 Oktober mendatang. Di bawah kebijakan imigrasi garis keras Kanberra, pencari suaka yang dicegat di laut untuk mencapai Australia, dikirim untuk diproses di kamp Manus dan Nauru. Dari penangkapan tersebut, para pencari suaka sudah diberitahu bahwa mereka tidak akan pernah menetap di Australia.
Lebih dari 20 pria pindah untuk ditempatkan di Amerika Serikat bulan lalu. langkah pertama dari pertukaran pengungsi antara Washington dan Kanberra yang dicap Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai kesepakatan bodoh.
Namun hampir 800 orang masih berada di kamp Manus dan hampir semua menolak pindah ke pusat transit terdekat, dengan alasan kekhawatiran soal keselamatan mereka.
“Para pengungsi tidak meninggalkan pusat penahanan meski ada upaya pemerintah untuk membuat mereka keluar dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Behrouz Boochani, seorang wartawan Kurdi yang ditahan di Manus.
Banyak yang telah mendapatkan status pengungsi dan memenuhi syarat untuk pindah dan menetap di AS berdasarkan kesepakatan yang dijamin Australia dengan mantan presiden AS Barack Obama pada akhir tahun lalu.
AS akan menampung hingga 1.250 pencari suaka di Papua Nugini dan Nauru. Sebagai gantinya, Australia setuju mengambil beberapa puluh pengungsi Amerika Tengah. Australia akan mulai memindahkan puluhan pengungsi Amerika Tengah dalam beberapa minggu.
Setiap pemindahan akan memperburuk kondisi di Nauru, di mana lebih dari 1.200 pria, wanita, dan anak-anak selama empat tahun berada di sebuah kamp yang secara luas dikritik oleh PBB dan kelompok hak asasi manusia, karena terdapat beberapa pelanggaran, termasuk pelecehan seksual, dan tindakan menyakiti diri. (Ant)