PARIS – Pemimpin Prancis, Inggris dan Jerman memperingatkan Amerika Serikat untuk tidak mengambil keputusan yang dapat membahayakan kesepakatan nuklir Iran.
Peringatan dari ketiga pemimpin ketiga negara tersebut sebagai respon terhadap keputusan Presiden Donald Trump tidak mengesahkan kesepakatan nuklir tersebut.
“Kami mendorong Pemerintah AS dan Kongres untuk mempertimbangkan implikasi keamanan AS dan sekutu-sekutunya sebelum mengambil langkah-langkah yang dapat merusak JCPOA, seperti menjatuhkan sanksi kepada Iran berdasarkan kesepakatan,” kata Presiden Emmanuel Macron, Kanselir Angela Merkel dan Perdana Menteri Theresa May dalam sebuah pernyataan bersama, Sabtu (14/10/2017).
Trump menolak pengesahan kesepakatan nuklir Iran 2015 pada Jumat (13/10/2017). Sikap tersebut dianggap bertentangan dengan kekuatan dunia lainnya yang memilih untuk tidak mengonfirmasi jika Teheran mematuhi kesepakatan tersebut.
Ketiga pemimpin tersebut, dalam posisi yang sama telah menyetujui bahwa mendukung kesepakatan penting tersebut. Mereka juga mengatakan bahwa mereka berbagi keprihatinan dengan Amerika Serikat mengenai program rudal balistik Iran dan kegiatan regional dan siap untuk bekerja dengan Washington untuk menangani masalah tersebut.
“Kami siap untuk mengambil langkah lebih lanjut untuk menangani masalah ini dalam kerja sama yang erat dengan Amerika Serikat dan semua mitra terkait. Kami menanti Iran untuk melakukan dialog yang konstruktif untuk menghentikan tindakan yang tidak menstabilkan dan bekerja menuju solusiyang dinegosiasikan bersama.” ujar ketiganya.
Sebelumnya, Pengawas nuklir PBB pada Jumat (13/10/2017) kembali mengkonfirmasi Iran telah melaksanakan kesepakatan nuklir Iran di bawah rejim pengabsahan nuklir yang kuat. Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Yukiya Amano mengatakan Teheran bekerjasama dengan badan pengawas atom tersebut untuk melaksanakan komitmen yang harus dilakukan oleh Teheran.
“Iran sekarang untuk sementara melaksanakan Protokol Tambahan bagi Kesepakatan Perlindungan Menyeluruhnya dengan IAEA. Alat pengabsahan yang kuat yang memberi para penyelidik kami akses lebih besar bagi informasi dan dan lokasi di Iran,” kata Amano.
Berdasarkan kesepakatan nuklir Iran yang dicapai pada 2015, IAEA diminta mengabsahkan apakah Iran memenuhi komitmennya untuk mengurangi program nuklirnya dan memberi transparan lebih besar pada rencana atomnya.
Sementara itu pencabutan sertifikasi AS takkan membuat Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir Iran pada saat ini, tapi itu akan membuka jendela 60-hari, yang memungkinkan Kongres AS memberlakukan kembali sanksi yang berkaitan dengan nuklir atas Iran, langkah yang akan berarti pelanggaran terhadap kesepakatan oleh pihak AS.
Selama pidatonya pada Jumat, Trump menyebut kesepakatan nuklir Iran, yang secara resmi dikenal dengan nama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), sebagai salah satu transaksi yang paling jelek yang pernah dimasukan Amerika Serikat. Trump menyalahkan Iran karena melakukan banyak pelanggaran kesepakatan dan tidak menghidupkan semangat kesepakatan tersebut.
Tuduhannya mengenai pelanggaran Iran terhadap kesepakatan itu tampaknya bertolak-belakang dengan pernyataan Menteri Dalam Negerinya Rex Tillerson, yang sebelumnya mengatakan berdasarkan JCPOA, Amerika Serikat tidak membantah bahwa Iran melakukan kepatuhan teknis.
IAEA pada masa lalu delapan kali memberi pengesahan mengenai kepatuhan Iran pada kesepakatan nuklir tersebut. “Sebagaimana telah saya laporkan ke Dewan Gubernur, komitmen yang berkaitan dengan nuklir yang dilakukan oleh Iran berdasarkan JCPOA dilaksanakan,” kata Amano. (Ant)