103 Balita di Kabupaten Sikka Alami Gizi Kurang

MAUMERE — Dinas Kesehatan kabupaten Sikka mencatat, pada periode Januari sampai Agustus 2017, dari 21.389 anak yang berusia di bawah lima tahun (Balita) 103 di antaranya mengalami gizi kurang atau dikategorikan sangat kurus.

“Untuk yang kategori sangat kurus ada 14 balita di Agustus, sehingga kalau ditotalkan dari Januari ada 103 balita. Sedangkan yang istilahnya busung lapar tidak ada di kabupaten Sikka sampai saat ini,” tutur Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan kabupaten Sikka, Telly Gandut, SKM saat ditemui Cendana News, Jumat (13/10/2017).

Sementara untuk balita yang dikategorikan kurus ada 460 balita. Di bulan Agustus ditemukan sebanyak 183 balita dan tercatat 277 balita sejak bulan Januari.

Untuk mengetahui balita yang mengalami gizi kurang terang Telly, ada dua cara yang dilakukan Dinas Kesehatan kabupaten Sikka yakni mengukur berat badan menurut umur dan berat badan menurut tinggi badan dimana pengukuran berat badan menurut umur menggambarkan status gizi yang kronis.

“Sementara pengukuran berat badan menurut tinggi menggambarkan status gizi saat ini dimana status gizi saat ini ada yang kurus, ada yang sangat kurus dan kami di kesehatan tidak ada istilah gizi buruk sebab istilah itu lebih kepada politis,” tegasnya.

Kepala Bidang
Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan kabupaten Sikka Telly Gandut,SKM/ Foto : Ebed de Rosary

Perbandingan berat badan menurut umur terangnya, menggambarkan status gizi dari waktu ke waktu sebab terjadi dalam waktu yang lama sedangkan pengukuran berat badan menurut tinggi badan menggambarkan status gizi saat ini atau akut.

“Gizi kurang dipengaruhi oleh kurangnya asupan makanan dan penyakit infeksi sehingga kami berusaha keras untuk membenahi dua permasalahan utama ini agar tidak ada lagi balita yang mengalami gizi kurang,” tegasnya.

Sementara itu kepala dinas Kesehatan kabupaten Sikka dr.Maria Bernadina Sada Nenu,MPH menambahkan, asupan makanan dipengaruhi oleh berbagai hal dan yang terbesar dipengaruhi olah pola asuh, perawatan kesehatannya, pola pemberian makan dimana harus memperhatikan jumlah, usia, frekuensi, bentuk makanan, variasi makanan dengan kandungan gizi cukup.

Kalau anak sakit pinta Maria, harus segera dibawa berobat ke puskesmas terdekat dan harus membiasakan pola hidup sehat.

“Kalau anak susah makan makan ibu harus bisa membujuk ,” ungkapnya.

Dalam mengatsi gizi kurang tandas Maria, pihaknya melakukan pendampingan, sosialisasi, konseling, pemberian makanan tambahan yang dananya disiapkan oleh pihak desa tapi dengan pendampingan dari dinas Kesehatan,pemberian makan bayi dan anak dengan lebih memperhatikan pola asuh dan pola makan.

Data yang didapat Cendana News dari dinas Kesehatan kabupaten Sikka menyebutkan, balita yang mengalami gizi kurang, paling banyak terdapat di puskesmas Tanarawa sebanyak 14 balita disusul puskesmas teluk Pemana dan Beru masing-masing 11 balita serta puskesmas Boganatar ada 9 balita.

Selain itu terdapat di puskesmas Paga, Kopeta Perumnas Maumere dan Mapitara terdapat 8 balita yang mengalami gizi kurang, puskesmas Nanga Lela 7 balita, Nita 5, Hewokloang dan Magepanda 4, Palue dan Waigete 3, Watubaing dan Koting 2, Lekebai, Waipare, Wolofeo dan Tuanggeo masing-masing sebanyak 1 balita.

Lihat juga...