Posdaya di Pandanwangi Bangkitkan Semangat Wirausaha Ibu-ibu

MALANG — Berbagai upaya dan inovasi terus dilakukan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) untuk memberdayakan masyarakat, agar dapat meningkatkan kesejahteraan terutama melalui peningkatan perekonomian warga.

Topeng Malangan hasil karya posdaya. -Foto: Agus Nurchaliq

Hal ini pula yang diterapkan dua Posdaya binaan Universitas Gajayana (Uniga), yakni Posdaya Teratai Putih (RW4) dan Posdaya Edelweis (RW2) yang sama-sama berada di Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Dikatakan, Posdaya Teratai Putih yang diketuai Rahayu Widi Lestari dan Posdaya Edelweis yang diketuai Dartik, terbentuk bersamaan pada 2016. Kedua posdaya ini sejak awal terbentuk sudah saling bersinergi untuk lebih memudahkan kegiatan dalam memberdayakan warga di kelurahan Pandanwangi.

Beberapa kali pelatihan sudah pernah mereka gelar untuk menularkan ilmu yang sebelumnya mereka dapat dari Uniga. Target peserta pelatihan tidak lain adalah masyarakat prasejahtera, terutama Ibu-ibu rumah tangga yang ingin memiliki penghasilan tambahan, untuk membantu perekonmian keluarga.

Rahayu Widi Lestari, mengatakan beberapa pelatihan yang sudah pernah dilakukan dua Posdaya tersebut di antaranya pelatihan aneka olahan panganan berbahan dasar jagung.

Kerajinan tas berbahan daur ulang kreasi Posdaya. -Foto: Agus Nurchaliq

“Kebetulan oleh pemerintah kota Malang, saat ini kelurahan Pandanwangi dijadikan sentra olahan Jagung, seperti marnig geprek, nuget jagung, brownis jagung, susu jagung dan biskuit jagung. Kemarin waktu ada kegiatan gerak jalan, kita mengeluarkan produk-produk olahan jagung,” ujarnya, kepada Cendana News.

Dari pelatihan yang diberikan posdaya ini, masyarakat bisa memiliki keterampilan terutama dalam mengolah makanan dari jagung. Beberapa warga sekarang sering menerima pesanan untuk membuat kue dari jagung.

“Kemarin momennya tepat sekali. Kita mengadakan pelatihan sebelum puasa. Jadi, pada saat menjelang lebaran akhirnya mereka bisa menerima pesanan seperti stik jagung, meski belum dalam jumlah yang banyak, karena di samping produknya tidak memakai pengawet maupun pemanis buatan, jadi otomatis ketahanannya tidak bisa sampai lama,” ungkapnya.

Bahkan sampai sekarang, masih terus berlanjut pesanannya, meskipun tidak sebanyak bulan Ramadhan, kemarin. Dan, ada salah satu masyarakat yang memasukkan olahan jagungnya ke koperasi di penjara. Ada juga warga binaan posdaya yang awalnya belum punya gilingan untuk membuat stik jagung, sekarang bisa punya gilingan sendiri.

“Jadi, paling tidak mereka punya semangat untuk menaikkan penghasilan mereka. Itulah yang ingin kita bangkitkan dari Ibu-ibu rumah tangga,” ucapnya.

Menurutnya, di zaman sekarang sudah tidak musimnya lagi ibu-ibu hanya berdiam diri di rumah, minimal mereka harus bisa bergerak bagaimana caranya agar bisa mendapatkan penghasilan sendiri untuk membantu perekonomian keluarga.

Sementara itu, Ketua Posdaya Edelweis, Dartik, menceritakan selain olahan jagung, dua posdaya tersebut kini mulai memanfaatkan sampah-sampah yang ada. Mulai dari sampah dapur yang dimanfaatkan untuk kompos, hingga koran bekas yang bisa digunakan untuk membuat topeng Malangan.

“Kalau boleh jujur, sampah terbanyak memang dihasilkan oleh para Ibu-ibu rumah tangga. Untuk itu kita ingin mulai mengubah cara berfikir Ibu-ibu, kita ajarka mereka untuk memilah sampah-sampah yang ada. Sampah mana saja yang bisa dimanfaatkan untuk dibuat kompos maupun sampah untuk dijadikan kerajinan,” terangnya.

Dartik mengaku, posdaya Edelweis dan Teratai Putih saat ini juga sering bekerjasama dengan Bank Sampah Malang (BSM) untuk mendapatkan sampah-sampah yang masih bisa diolah, seperti koran bekas untuk dijadikan bahan pembuatan topeng.

Dikatakan Dartik, hal pertama yang harus dilakukan untuk membuat topeng adalah harus membuat cetakannya terlebih dulu yang terbuat dari gipsum. Dari cetakan tersebut, baru kemudian koran-koran bekas bisa ditempelkan dengan menggunakan perekat hingga penuh dan membentuk topeng.

Menurutnya, semakin tebal lapisan koran yang ditempelkan, hasilnya akan semakin baik. Setelah itu baru topeng diberi cat dasar putih dan dijemur, agar cepat kering.

Topeng-topeng dari koran bekas ini nantinya bisa dipakai sebagai gantungan kunci maupun suvenir. “Selain itu, kita juga memanfaatkan ring-ring botol bekas minuman gelas untuk dibuat tas,” katanya.

Dartik dan Rahayu mengaku tertarik membentuk posdaya, agar mereka bisa lebih bermanfaat lagi bagi masyarakat. “Kebetulan teman-teman kita kebanyakan adalah Ibu-ibu yang butuh keterampilan untuk ke depan bisa digunakan sebagai penghasilan tambahan. Inilah yang ingin posdaya jembatani,” akunya.

Minimal, Ibu-ibu bisa memanfaatkan waktu luang dan memanfaatkan limbah yang dibuang untuk digunakan lagi. Karena masalah sampah ini sudah sangat meluas sekali dan sangat mengerikan. Kalau dari Ibu rumah tangga sudah bisa memilah sampah sendiri otomatis masyarakat hanya membuang sampahnya hanya sedikit, sehingga bisa mengurangi volume sampah yang ada di kota Malang.

“Ke depan kami berharap dengan hadirnya posdaya bisa lebih banyak lagi memberdayakan ibu-ibu rumah tangga yang ada di sekitar. Ibu-ibu yang punya waktu luang atau ibu-ibu yang punya keinginan untuk menambah penghasilan keluarga mereka. Dan, bisa lebih luas lagi sasaran kita mumpung ada jembatannya, yakni melalui posdaya binaan dari Uniga,” harapnya.

Sampai sekarang, kita masih terus belajar dari posdaya yang lainnya, bagamaina untuk berinovasi dan cara mereka mengahadapi setiap masalah yang ada. “Minimal kita bisa sharing pengalaman dengan posdaya-posdaya yang lainnya,” pungkasnya.

 

 

Lihat juga...