Perpustakaan Desa, Sarana Edukasi Warga Terpencil Gayamharjo

YOGYAKARTA – Ruangan perpustakaan desa di Desa Gayamharjo, Prambanan, Sleman, tampak tak terlalu luas. Koleksi buku-buku di perpustakaan itu juga tampak belum terlalu lengkap.

Meski begitu, sejumlah warga antusias mengunjungi perpustakaan di dusun terpencil di atas perbukitan Prambanan itu. Tak sekadar membaca, mereka juga menggunakan ruang perpustakaan untuk sejumlah kegiatan warga.

Salah satunya adalah Ngadinem (54) warga Dusun Parangan Gayamharjo. Ia mengaku sesekali datang ke perpustakaan desa untuk membaca buku. Ia menilai keberadaan perpustakaan desa itu sangat membantu, pasalnya hanya perpustakaan itulah satu-satunya lokasi yang dapat diakses di desa tersebut.

Ngadinem, warga Dusun Parangan Gayamharjo. Foto: Jatmika H Kusmargana

“Saya sering membaca buku agama, pertanian, ataupun masakan. Sangat membantu karena dapat menambah ilmu pengetahuan warga. Apalagi ibu-ibu seperti saya suka memasak. Terlebih perpustakaan semacam ini paling dekat hanya di kecamatan. Cukup jauh dari sini. Sementara perpustakaan keliling jarang sekali,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Gayamharjo, Parwoko, mengakui kondisi perpustakaan desa Gayamharjo memang belum optimal. Selain koleksi buku yang dimiliki belum lengkap juga belum ada pengelola perpustakaan yang dapat fokus mengurus dan mengembangkan perpustakaan.

“Perpustakaan ini memang baru rintisan. Buku-bukunya hanya pindahan dari kantor kelurahan, serta sumbangan dari Perpustakaan DIY. Jumlahnya juga masih terbatas. Namun kita harapkan perpustakaan ini dapat menjadi cikal bakal perpustakaan desa,” katanya.

Parwoko sendiri berkeinginan mengembangkan perpustakaan Desa Gayamharjo sebagai sumber rujukan ilmu bagi warga desa. Pasalnya melalui perpustakaan itulah diharapkan warga desa dapat mengembangkan potensi dusun yang ada di daerahnya masing-masing.

“Saya ingin menambah koleksi buku khususnya buku cerita dan kewirausahaan. Pertama untuk menarik minat warga khususnya generasi muda agar mau membaca dan pada akhirnya dapat mengembangkan potensi yang ada di desa,” katanya.

Dijelaskan, selama 2 tahun berdiri, pengelolaan perpustakaan belum memanfaatkan dana desa. Meski begitu, Parwoko mengaku sudah merencanakan penggunaan dana desa untuk pengelolaan perpustakaan tersebut.

“Rencananya saya ingin menambah taman baca di perpustakaan ini. Agar warga semakin nyaman berada di perpustakaan. Tujuan saya agar sambil menunggu anak-anak berolahraga, bisa sambil belajar dan membaca di perpustakaan. Karena kebetulan perpustakaan ini berada di sebelah gedung olahraga desa,” katanya.

Suasana di perpustakaan Desa Gayamharjo. Foto: Jatmika H Kusmargana
Lihat juga...