Potensi Kebakaran Tinggi Saat Kemarau, Petani Rutin Bersihkan Lahan

LAMPUNG – Pembukaan lahan pertanian menggunakan cara dibakar masih dilakukan oleh masyarakat di kawasan lahan perkebunan dan pertanian di wilayah Kabupaten Lampung Selatan.

Salah satunya di Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan dengan proses pembakaran sisa sampah limbah pertanian jagung dan tanaman pertanian lain. Kondisi tersebut diakui Sugino merupakan cara lama yang masih dipergunakan sebagian besar petani untuk melakukan penghematan penggunaan herbisida dan pupuk kimia serta dipercaya menyuburkan tanah meski menimbulkan bahaya kebakaran lahan yang meluas.

Sugino menyebutkan, beberapa lahan pertanian di dekat jalan kerap terbakar. Terutama  pada  semak-semak. Sebagian akibat sengaja dibakar serta dampak kelalaian masyarakat yang membuang puntung rokok sembarangan di tepi jalan yang merembet ke lahan pertanian. Beberapa lahan pertanian pisang di Desa Margajasa terbakar akibat adanya kelalaian orang yang membakar lahan di tepi jalan. Berimbas beberapa tanaman pisang hangus terbakar.

Lahan pertanian pisang yang berada di tepi jalan terbakar. Diduga akibat pengendara membuang puntung rokok sembarangan. [Foto: Henk Widi]
“Lahan pertanian pisang kerap memiliki daun yang kering ditambah saat ini musim kemarau banyak rumput mengering. Mudah terbakar oleh api yang bersumber dari puntung rokok pengendara kendaraan yang melintas,” terang Sugino, salah satu petani di Desa Margajasa Kecamatan Sragi, saat ditemui Cendana News tengah melakukan pembersihan lahan miliknya yang ditanami berbagai jenis tanaman kayu dan pisang, Kamis (14/9/2017).

Selain merugikan pemilik lahan yang tidak sengaja membakar lahannya, dampak kebakaran lahan tersebut juga bisa merembet ke area pertanian milik petani lain yang masih produktif di antaranya jagung serta tanaman kayu. Kabut asap yang ditimbulkan akibat kebakaran tanpa sengaja tersebut bahkan mengganggu perjalanan pengendara yang melintas melalui jalan penghubung antara Kecamatan Penengahan dan Kecamatan Sragi.

Sebagai antisipasi mencegah kebakaran akibat ketidaksengajaan, Sugino menyebut menggunakan cara melokalisir sampah limbah pertanian pada satu lokasi dan membiarkannya membusuk menjadi pupuk kompos. Proses pembakaran dalam membersihkan lahan melihat kondisi musim di mana saat kemarau risiko kebakaran lahan yang meluas bisa berdampak merembet ke lahan petani lain.

“Pembersihan lahan selalu kita lakukan agar sampah dedaunan tidak terserak dan saat terjadi kebakaran api tidak mudah merambat ke bagian lahan lain,” ujar Sugino.

Dampak kebakaran lahan membuat tanaman pisang milik petani layu. [Foto: Henk Widi]
Petani lain, Hendra, di Desa Margajasa menyebut, musim kemarau yang melanda wilayah tersebut membuat dirinya waspada dengan adanya lahan sawit seluas lima hektare yang ada di wilayah tersebut. Maka perlu adanya pengawasan terus-menerus termasuk penyediaan tandon atau penampungan air yang diambil dari aliran sungai. Meski musim kemarau stok air untuk antisipasi kebakaran telah disiapkan oleh pemilik kebun kelapa sawit guna menghindari kebakaran meluas.

“Pengalaman dua tahun silam, saat musim kemarau kondisi sumur jauh dan proses pemadaman terpaksa dilakukan manual dengan ember. Sebab khawatir merembet ke pemukiman warga,” beber Hendra.

Tanaman kelapa sawit yang saat ini masih berproduksi meski hasilnya merosot juga dampak dari kemarau. Maka selalu dibersihkan oleh petani, termasuk Hendra. Hal itu untuk  mengantisipasi terjadinya kebakaran yang bisa terjadi saat kemarau. Ia bahkan memasang peringatan di tepi jalan untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan serta barang yang berpotensi mengakibatkan kebakaran di lahan pertanian miliknya. Selain imbauan itu, dirinya juga sering membersihkan dahan kering selama musim kemarau pada tanaman kelapa sawit yang dirawatnya.

Lihat juga...