Peringati Tahun Baru Islam, TMII Gelar Pekan Suro

JAKARTA — Direktur Budaya TMII, Sulistyo Tirtokusomo mengatakan, untuk memperingati 1 Suro atau Tahun Baru Islam 1439 Hijriah, TMII menyenggarakan acara yang dikemas dalam ‘Pekan Suro’.

“Tahun Baru Islam yang dikenal dengan tahun baru Suro merupakan momentum pelestarian budaya yang kental dengan ritual-ritual yang telah menjadi tradisi,” kata Sulistyo, dalam konferensi pers ‘Pekan Suro’ di perpustakaan TMII, Jakarta, Kamis (14/9/2017).

Direktur Budaya TMII, Sulistyo Tirtokusumo

Sulistyo menjelaskan, dalam rangkaian Pekan Suro tersebut dimulai tanggal 20 September 2017, pukul 17.00 WIB akan digelar Kenduri Agung dan Kirap Pusaka di Pondopo Agung Sasono Utomo, yang akan diikuti oleh semua anjungan dan organisasi penghayat kepercayaan.

Pada kesempatan tersebut akan dipentaskan juga tari ritual Bedoyo Manunggal. Kemudian juga Kirap Pusaka, dengan mensucikan pusaka-pusaka yang ada di Museum Pustaka TMII. Ada juga Kirap Tumpeng yang akan diikuti oleh semua anjungan, penghayat kepercayaan, dan komunitas budaya.

“Pustaka dan tumpeng akan didoakan bersama dengan harapan kita semua sehat dalam lindungan Tuhan,” ujar Sulistyo.

Rangkain budaya Pekan Suro juga dimeriahkan dengan Festival Dalang Bocah tingkat Nasional TMII, pada 21-23 September 2017 di Candi Bentar. Festival ini diikuti oleh 29 dalang bocah yang diikuti 10 provinsi. Selanjutnya, Parade Musik Daerah skala nasional ke 6 yang diikuti 18 peserta akan diselenggarakan di Sasono Langen Budoyo, pada 22 September 2017. Gelaran budaya wayang kulit Sanggar Putro Pandowo dipanggung Candi Bentar, pada 23 September 2017.

Selanjutnya, Ruwatan Sukerto bertempat di panggung Candi Bentar yang dilanjutkan pagelaran wayang kulit berlakon “Murwakala” dengan menampilkan dalang KMA Arum Ajangmas Kenyo Warsito.

Sulistyo menegaskan, sebagaimana tujuan utama TMII yaitu wahana pelestarian budaya bangsa. Maka sebuah bangsa itu akan diakui dunia manakala punya identitas. Salah satu identitas kita adalah bahwa kita sebagai bangsa punya sistem kalender sendiri, begitu pula dengan beberapa suku bangsa juga punya huruf sendiri.

Dari dua hal tersebut, kata Sulistyo, akan diketahui bahwa kita punya peradaban. Yang akan disampaikan dari gelaran Pekan Suro ini yakni, pertama, kita sebagai bangsa punya tradisi yaitu melestarikan atau mengharmoniskan antara hubunga manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam.

“Ini semua terangkum dalam Kenduri Agung atau selamatan, dimana ada sajian tumpeng. Tumpeng itu salah satu simbol dari tiga harmonisasi antara hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam,” ungkap Sulistyo.

Adapun pesan kedua ‘Pekan Suro’, terkandung dalam Festival Dalang Bocah. Dikatakan dia, wayang telah diakui sebagai warisan budaya dunia. Dan, salah satu tujuan bahwa sebuah negara teleh diakui budayanya oleh dunia, bagaimana kita melestarikan dan melakukan regenerasi.

“Dengan kita mengadakan Festival Dalang Bocah menunjukan pada tujuan bahwa wayang bisa tumbuh karena ada regenerasi,” ungkap Sulistyo.

Lihat juga...