Hama Tupai Serang Komoditi Kakao di Lamsel
LAMPUNG — Sejumlah petani di wilayah Kecamatan Sragi dan Bakauheni, Lampung Selatan, mulai mengeluhkan serangan hama tanaman kopi coklat atau kakao, di antaranya hama pemakan buah jenis tupai atau bajing.
Radmiadi, pemilik lahan sawah serta lahan pertanian tanaman kakao di Dusun Serungku, Desa Kelawi, menyebut tingginya intensitas hama tupai diakui wajar dengan berkurangnya sumber pakan alami dari beragam buah-buahan di perkebunan akibat musim kemarau melanda.
Serangan hama tupai atau bajing tersebut berimbas pada berlubangnya cangkang buah kakao, selanjutnya mengering dan tidak berproduksi. Pengendalian hama tupai saat musim sebelumnya pada tanaman kakao dilakukan dengan melakukan proses pembungkusan buah kakao menggunakan plastik, memasang perangkap, bahkan kerap menggunakan senapan angin untuk mengurangi populasi hama tupai.
“Diserangnya buah kakao oleh hama tupai cukup beralasan, karena saat ini memasuki satu bulan musim kemarau melanda tanaman buah yang biasanya jadi makanan alami tupai berkurang, sehingga sasarannya berupa buah kakao”, terang Radmiadi, yang menjadikan tanaman kakao sebagai tanaman sela pada pola penanaman multikultur dengan tanaman pisang dan kelapa di kebun miliknya, Sabtu (16/9/2017).
Radmiadi menyebut, dampak dari hama tupai yang berimbas buah kakao tidak menghasilkan buah produktif dengan keringnya buah kakao, membuatnya memilih merombak tanaman kakao miliknya. Beberapa tanaman kakao miliknya yang masih bisa dipertahankan, sementara tanaman kakao tak produktif ditebang untuk diganti dengan tanaman lain yang lebih produktif berupa tanaman jagung dengan usia panen lebih cepat selama empat bulan.
Hama tupai yang dikendalikan dengan cara memasang perangkap dan melakukan perburuan menggunakan senapan angin, diakui Radmiadi merupakan salah satu hama yang menyerang, selain hama lain berupa penggerek buah, pengisap buah dan penyakit busuk buah. Selain hama tersebut, petani di wilayah Kecamatan Sragi juga mengalami serangan hama kutu putih yang ikut mengurangi produktivitas buah kakao.
Hama kutu putih yang mulai menyerang sejak satu bulan terakhir semenjak kemarau tiba, dialami salah satu petani di Desa Baktirasa, Kecamatan Sragi. Pemilik tanaman kakao sebanyak ratusan batang, Bambang, menyebut populasi kutu putih dapat berkembang pesat, karena faktor cuaca kering yang mulai melanda, bahkan semakin banyak saat kondisi suhu cukup tinggi ditambah penanaman pohon kakao yang mengakibatkan hama semakin berkembang pada buah kakao.
Cara mengatasi serangan hama kutu putih diakuinya dilakukan dengan cara memetik buah kakao yang yang terindikasi terkena kutu putih dan mudah dikenali dengan menempelnya hama kutu putih pada buah kakao muda. Cara manual dengan memisahkan buah kakao terserang kutu putih dan membakarnya. Selain itu penggunaan pestisida pemusnah kutu bisa dilakukan untuk mengurangi populasi hama kutu putih.
“Kami biasanya justru membiarkan hama menyerang, karena semua buah merata terserang selama kemarau, karena akan kami musnahkan secara serentak pada saat menjelang musim penghujan datang”, terang Bambang.
Bambang menyebut, hama kutu putih serta bajing pada musim kemarau berdampak pada penurunan produktivitas tanaman kakao, sehingga dirinya memilih tidak menanam buah kakao yang biasanya menghasilkan sekitar 50 kilogram kakao basah sekali panen, yang dilakukannya dua pekan sekali pada sebanyak 200 batang pohon kakao tersebut.
Ia bahkan berencana melakukan pemangkasan pada ranting-ranting kakao miliknya untuk proses pertumbuhan tunas baru untuk merangsang pertumbuhan daun baru dan ranting.
Lahan tanaman kakao yang sebagian terpaksa dirombak akibat berkurangnya produksi saat kemarau dan serangan hama. [Foto: Henk Widi]
Bambang, petani kakao di Kecamatan Sragi yang memperlihatkan buah kakao terserang penyakit kutu putih. [Foto: Henk Widi]
Hama kutu putih berimbas buah kakao mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan menurunkan produksi kakao petani. [Foto: Henk Widi]