PONTIANAK – Anggota DPRD Kabupaten Sambas, Ivandri, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Perum Bulog Kalbar dalam rangka mencari solusi terhadap anjloknya harga gabah petani Sambas saat ini.
“Koordinasi yang dilakukan sebagai upaya agar padi yang dihasilkan oleh petani dapat terserap dan harga yang layak,” ujarnya, saat dihubungi di Sambas, Sabtu (30/9/2017).
Ia menyebut, berdasarkan hasil koordinasi tersebut Bulog telah menyerap hasil panen masyarakat dan tentu berdasarkan ketentuan yang ada. “Tentu dengan kualitas yang telah di tentukan oleh peraturan yang dalam hal ini mengharuskan Bulog hanya menerima kualitas beras yang baik,” kata dia.
Ia juga menyebutkan soal hasil pertanian sudah menjadi tanggungjawab jawab pemerintah daerah untuk ke depan meningkatkan kualitas hasil pertanian petani di Kabupaten Sambas. “Dengan kualitas yang baik kita yakin petani dapat menjual beras yang harga yang lebih tinggi. Saat ini kendala yang terjadi sepertinya bicara kualitas. Sehingga tidak semua gabah milik petani tidak bisa terserap,” katanya.
Mengenai harga padi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat, ia meminta pemerintah pusat untuk mengubah peraturan tersebut. “Bulog tidak apa-apa jika ada kenaikan tersebut selama aturan seperti itu, karena Bulog diaudit juga. Kepada Pemerintah Kabupaten Sambas perlu dilakukan dengan menurunkan harga pokok produksi beras melalui bantuan oleh pemerintah,” jelasnya.
Satu di antara petani di Sambas, Anto, menyebutkan bahwa harga gabah sejak beberapa bulan terakhir di Kabupaten Sambas belum pernah mengalami kenaikan. Menurutnya, saat ini harga gabah di tingkat petani di kisaran Rp3.400 per kilogram.
“Harga gabah tidak naik sedangkan harga sarana produksi pertanian tidak mengalami penurunan. Kami minta pemerintah Kabupaten Sambas memperhatikan masalah ini. Harapan kami harga gabah minimal Rp4.000 per kilogramn baru bisa menutupi biaya produksi yang kami keluarkan,” harapnya. (Ant)