DUBAI – Arab Saudi menangkap dua pegiat hak asasi manusia, yang dikatakan sebagai dorongan penguasa kerajaan itu untuk menghancurkan gerakan hak asasi manusia di negara tersebut, kata kelompok hak asasi manusia pada Senin, Abdulaziz al-Shubaily dan Issa al-Hamid, keduanya anggota pendiri Pehimpunan Hak Warga dan Politik Saudi (ACPRA), ditangkap pada akhir pekan lalu, kata laporan Amnesty International.
Keduanya menunggu keputusan hukuman penjara, yang dijatuhkan terhadap mereka pada tahun lalu, dengan tuduhan mencemarkan nama baik badan keagamaan tertinggi negara itu untuk menyampaikan informasi palsu, yang merusak citra negara, kata permohonan banding Amnesty International atas nama Hamid pada tahun lalu.
Pejabat Saudi belum dapat dihubungi untuk memberikan tanggapan atas penangkapan pada akhir pekan lalu itu, di tengah tindakan keras terhadap kemungkinan lawan penguasa kerajaan, yang memicu teguran dari kelompok hak asasi.
“Ini adalah saat kegelapan untuk kebebasan berekspresi di Arab Saudi,” ujar Samah Hadid, direktur kampanye Amnesty International di Timur Tengah dalam sebuah pernyataan di Dubai, Selasa (19/9/2017)
“Penangkapan kedua orang ini telah mengonfirmasi ketakutan kita bahwa kepemimpinan baru di bawah Mohammed bin Salman bertekad menghancurkan gerakan hak asasi manusia oleh Kerajaan,” tambahnya merujuk kepada pangeran mahkota Saudi, yang tampaknya menjadi eksportir minyak dunia.
ACPRA didirikan pada 2009, kemudian ditutup pada 2013. Seluruh 11 anggota pendirinya dipenjara.
“Masyarakat hak asasi sangat menderita di tangan pihak berwenang dan dengan penangkapan terbaru itu, hampir semua pembela hak asasi paling menonjol dipenjara karena tuduhan terkait terorisme palsu,” demikian Amnesty Internasional dalam pernyataannya pada Senin.
Pejabat Saudi mengumpulkan sekitar 30 ulama, cendekiawan dan ilmuwan pada bulan ini dalam yang digambarkan Human Rights Watch sebagai “tindakan keras tergalang terhadap perbedaan pendapat”. (Ant)