779 Kasus Gigitan Anjing di Sikka, 6 Positif Rabies

MAUMERE – Dari 779 kasus gigitan anjing sejak Januari hingga Agustus 2017, enam kasus di antaranya terdeteksi positif rabies yang tersebar di kecamatan Lela dan Alok, dan terus cenderung meningkat.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian kabupaten Sikka, Drh. Maria Margaretha Siko, M.Sc. -Foto : Ebed de Rosary

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian kabupaten Sikka, Drh. Maria Margaretha Siko, M.Sc., mengatakan, selama orang masih banyak memlihara anjing dan dilepas, kasus gigitan anjing akan terus meningkat, dan untuk mencegah rabies, bidang Kesehatan Hewan selalu rutin melakukan vaksinasi terhadap anjing setiap tahun.

“Tahun ini, kami sudah melakukan vaksin rabies di 20 kecamatan, kecuali kecamatan Mego, namun Alok dan Alok Timur akan dilakukan vaksin ulang, sebab capaiannya masih rendah,” terangnya, Senin (11/9/2017).

Dua kecamatan di kota Maumere ini, terang Maria, capaiannya rendah. Sebab, masyarakat ada yang tidak mau anjingnya divaksin rabies, dan banyak juga yang saat didatangi rumahnya terkunci dan penghuninya tidak ada di rumah.

“Di daerah kota, anjing dari mana-mana bisa dibawa masuk dan yang jadi persoalan kalau anjing tersebut berasal dari daerah yang endemik rabies dan anjing tersebut sudah tertular,” ungkapnya.

Dalam setahun, lanjut Maria, pihaknya menargetkan melakukan vaksin terhadap 50.000 anjing di kabupaten Sikka, dengan populasi terbanyak berada di kecamatan Nitaq dan Waigete, sebab desanya pun banyak.

Pemerhati rabies, dr. Asep Purnama, mengatakan, seorang perempuan berusia 51 tahun, ibu rumah tangga asal desa Boru, kecamatan Wulanggitang, kabupaten Flores Timur, meninggal dunia di RSUD TC Hillers pada Minggu (10/9/2017) akibat kekejaman virus rabies.

Asep menjelaskan, pasien itu digigit anjing pada bulan Desember 2016 dan sayangnya tidak meminta pertolongan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vaksinasi anti rabies, hingga kondisi korban semakin bertambah parah.

“Info dari Kepala Dusun Klobong Timur, Desa Boru, anjing yang menggigit tidak diketahui pemiliknya dan  setelah menggigit korban, anjing tersebut lari entah ke mana, “ tuturnya.

Menurut Asep, sudah lebih dari 250 warga Flores meninggal sia-sia akibat rabies. Padahal, meski rabies memang mematikan, tapi bisa dicegah setelah digigit, cuci luka dengan sabun dengan air mengalir dan segera ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan VAR (Vaksin Anti Rabies).

“Musuh kita si virus rabies, bukan anjing. Sebab, anjing juga korban virus rabies seperti manusia, anjing juga ingin hidup sejahtera sehingga jadilah pemilik anjing yang bertanggung jawab dengan memastikan anjingnya sudah divaksin rabies,” pungkasnya.

Lihat juga...