VCT Mobile Sukseskan Deteksi HIV/AIDS Sejak Dini

SEMARANG — VCT mobile adalah kegiatan VCT  (Voluntary Counselling and Testing) HIV/AIDS yang dilakukan di luar tempat layanan atau klinik VCT. Kegiatan ini dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten.

VCT awalnya hanya bisa dilakukan di tempat layanan kesehatan, namun kali ini ada program VCT mobile yang bisa dilakukan di mana pun dengan alat-alat tertentu yang bisa dibawa ke mana-mana, dan tanpa biaya (gratis).

Rani Widianingsih, salah satu petugas VCT mobile Puskesmas Pegandan Semarang, menjelaskan, VCT merupakan kegiatan konseling dan testing bersifat sukarela dan rahasia, yang dilakukan oleh seorang konselor VCT yang terlatih. Sebelum dilakukan test HIV/AIDS dengan cara test darah, biasanya dilakukan konseling terlebih dahulu.

“Test HIV dilakukan setelah klien terlebih dulu menandatangani surat persetujuan tindakan. Jadi, VCT sebenarnya tes HIV/AIDS yang dilakukan secara sukarela. Karena pada prinsipnya tes HIV/AIDS tidak boleh dilakukan dengan paksaan atau tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan”, imbuh wanita yang akrab disapa Rani, Kamis (24/8/2017).

Rani juga menjelaskan, program pemerintah berupa VCT mobile ini merupakan solusi pendeteksian dini HIV/AIDS. Sebelumnya, program VCT ini hanya bisa dilakukan di tempat layanan kesehatan, sehingga masyarakat yang berpartisipasi sangat sedikit. Sebab, biasanya masyarakat juga malas dan tidak punya waktu untuk datang ke tempat layanan kesehatan hanya untuk bertanya-tanya mengenai HIV/AIDS dan test HIV AIDS.

“Kebetulan saya juga sebagai pemegang program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, jadi saya tahu betul betapa sangat sedikit orang yang tidak ingin tahu apa itu HIV/AIDS dan seringkali juga tidak mau untuk melakukan test. Sebelumnya, justru kebanyakan ibu hamil dan para pencari kerja saja yang melakukan test HIV/AIDS, sebab itu memang kebutuhan mereka sendiri”, kata Rani.

Bagi Rani, program VCT mobile yang diluncurkan pemerintah ini sangat membantu petugas kesehatan untuk melakukan pencegahan sekaligus pendeteksian penyakit HIV/AIDS. Saat ini, program VCT mobile dilakukan di sekolah dan di kampus-kampus yang ada di Semarang sesuai instruksi pemerintah. Selain itu, Rani dan tim juga bekerja sama dengan LSM untuk melakukan VCT mobile di tempat-tempat hiburan seperti tempat karaoke dan panti pijat.

“Untuk di sekolah dan di kampus itu memang program pemerintah. Beberapa kampus yang pernah dilakukan VCT mobile, yaitu Unika Soegijapanata, Politeknik Maritim Semarang, IKIP Veteran Semarang, dan lain-lain. Sedangkan untuk kerjasama dengan LSM itu biasanya LSM yang meminta bantuan kepada pihak puskesmas untuk dilakukan VCT mobile”, ujar Rani.’

Test HIV/AIDS yang yang merupakan bagian dari program VCT mobile ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu, pre test, test, dan post test. Pre test dilakukan untuk melakukan wawancara dengan klien terkait nama, umur, pendidikan, pekerjaan, dan apakah masuk dalam kelompok beresiko atau tidak. Setelah itu dilakukan pengambilan darah klien dan test darah tersebut. Post test dilakukan untuk memberi tahu hasil dari test darah.

Rani mengatakan, hasil test VCT mobile memang langsung disampaikan saat itu juga kepada klien, dan jika memang terdeteksi, maka klien tersebut akan dirujuk di rumah sakit. Hal ini membuktikan program VCT mobile telah berhasil memberikan kemudahan dalam pendeteksian dini HIV/AIDS.

Kendala yang dialami Rani dan tim dalam melakukan program VCT mobile, adalah masalah perijinan di sekolah-sekolah. Sekolah seringkali menutup diri untuk program VCT mobile, sehingga solusi yang ditawarkan petugas kepada sekolah adalah hanya melakukan penyuluhan mengenai HIV/AIDS saja. Kendala ini juga dialami saat akan melakukan VCT mobile di kampus, banyak sekali mahasiswa yang tidak mau dilakukan test HIV/AIDS.

“Kalau sekolah mungkin adik-adik SMA masih malu dan tidak takut untuk diambil darahnya. Tapi, harusnya kalau untuk mahasisa hal tersebut bukanlah hal yang tabu, toh kebaikan untuk mereka sendiri. Tapi, kami sebagai petugas juga tidak bisa memaksakan”, lanjut Rani.

Saat ini, program VCT mobile yang dilakukan Rani dan Tim sudah berlangsung 8 kali di sekolah dan perguruan tinggi, sesuai target yang diberikan pemerintah. Sedangkan untuk program VCT mobile bersama LSM sudah sekitar 3 kali dilakukan. Menurut Rani, dalam program VCT mobile ini ditemukan 2 orang yang positif HIV/AIDS, namun masih dalam stadium awal.

Rani berharap, program VCT mobile ini bisa terus mendapat dukuang dari pemerintah, baik dalam bentuk dana maupun dukungan semangat. Karena dengan program ini, pendeteksian dini HIV/AIDS bisa dilakukan, sehingga jika ditemukan kasus HIV/AIDS pun belum mengalami stadium lanjut.

Lihat juga...