UKM Asesoris Varida dari Ponorogo Tembus Pasar Hongkong
PONOROGO — Varida Widayanti (29 tahun) terlihat serius mengerjakan pesanan pelanggannya. Ia tengah sibuk dengan lem, kain dan pernak-pernik lainnya. Tangannya tampak terampil membuat aksesoris, mulai dari bros, headpiece, headband, flowercrown, bando dan aneka souvenir handmade.
Seluruh karya Varida dipasarkan secara online. Pelanggannya terdiri dari Ponorogo, Madiun, Kediri, Ngawi dan Kalimantan. Bahkan hasil karyanya sempat dikirim ke Hongkong yang dipasarkan oleh salah satu Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Ibu satu orang anak ini awalnya belajar dari salah satu temannya, ia diajari membuat dua model bros. Karena menurutnya, modelnya biasa saja ia pun ingin mengembangkan model lain yang lebih menarik, belajar secara otodidak melalui Youtube, ia berani membuat berbagai macam aksesoris.
Usaha yang digelutinya sejak tahun 2012 ini membawa berkah tersendiri baginya. Setiap bulan pesanan aksesoris selalu ada. Ia pun merasa bersyukur dengan adanya internet sehingga memudahkannya dalam berjualan secara online.
“Awalnya saya jualan dengan sistem titip di toko – toko, terus coba online malah lebih banyak pesanan lagi,” jelasnya kepada Cendana News, Selasa (1/8/2017).
Guna memajukan usahanya ini, Varida pun tergabung dalam komunitas Ponorogo Crafter Comunity (PCC). Komunitas yang baru terbentuk sejak tahun 2016 lalu ini berisikan anggota yang memiliki usaha dalam bidang Crafting.
“Kalau dinas terkait, biasanya mengundang komunitas kami saat ada bazar besar di Kabupaten,” tuturnya.
Untuk bros sendiri dibanderol dengan harga Rp5-35 ribu per satuan, sedangkan headpiece kisaran Rp50-200 ribu. Omzetnya mencapai jutaan tiap bulan tergantung banyaknya pesanan. “Kadang ada pesanan souvenir itu omzetnya sampai Rp1 juta lebih,” ujarnya.
Ada yang menarik dari hasil karya Varida, salah satu bros buatannya terdapat hiasan bulu merak. Seperti halnya kota Ponorogo yang identik dengan Reog, Varida pun tak ingin kalah.
“Bros merak yang paling laris,harganya Rp30 ribu,” tukasnya.
Selain menggunakan bulu merak, Varida juga memanfaatkan kain perca. Ia mengumpulkan kain perca dari penjahit sekitar rumahnya.
“Kalau ada pesanan banyak baru saya beli kain baru, kalau tidak ya memanfaatkan kain perca,” tuturnya.
Produk buatan Varida diberi label Annabil Accesories & Craft. Ia berharap usaha yang berawal dengan memanfaatkan kain perca ini bisa brkembang, memiliki banyak pelanggan sekaligus bermanfaat untuk orang-orang sekitar.
“Mereka yang tidak kerja, bisa mulai usaha dengan kemampuan dan bahan yang ada dan memanfaatkan barang bekas sehingga menghasilkan barang berkualitas, manfaatkan kain perca menjadi sesuatu yang bernilai istimewa,” pungkasnya.