“Smart Class” Jadi Inspirasi, Psikolog: Fasilitas Semua Kelas Harus Sama

MAKASSAR— Menjadi bagian dari  kelas terpilih “Smat Class” membuat  Andini, siswi SMP 33 merasa bangga. Siswi remaja berhijab yang manis ini lebih termotivasi belajar. Hal ini dilakukan agar dia tidak gugur dalam kelas “Smart Class”.

Penggemar pelajaran Bahasa Inggris ini langsung jatuh hati pada proses belajar di “Smart Class”, seperti berdiskusi dan debat semua itu yang dilakukan dalam kelas “Smart Class”. Guru-guru tidak terlalu mendikte harus seperti apa hanya memonitoring dalam proses mengajar dan belajar.

Menurut Andini cara belajar seperti berdebat dan berdiskusi memancing kami sebagai siswa aktif sehingga pengetahuan para siswa menjadi tidak terbatas.

“Berdebat juga tidak hanya mengasah menganalis. Berdebat juga dapat mengasah kemampuan menyimak saya, “ungkap Andini pada Cendana News di sela-sela proses belajar dan mengajarnya di kelas.

Untuk mempertahankan prestasinya itu andini belajar dangen giat. Sepulang dari sekolah pukul 17.00 Andini beristirahat sebentar.  Selepas Salat Magrib Andini mengulang mata pelajaran yang di ajarkan di sekolah. Tidak hanya mengulang pelajaran di sekolah, Andini juga terbiasa mempelajari mata pelajaran yang akan dipelajari disekolah. Hal itu yang dilakukan Andini agar tetap bertahan di “Smart Class”.

Menurut Andini dirinya tidak merasa terbebani dengan kegiatannya itu. “Saya tidak merasa stres dengan semua itu karena saya memang suka belajar apalagi dengan adanya “Smart Class” saya tambah semangat untuk belajar terus,” tutupnya.

Dengan belajar Andini yang seperti membuat Andini selalu di percaya mewakili SMP 33 dalam lomba debat Bahasa Inggris.  Andini kerap mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris dan selalu memenangkan piala. Meski begitu Andini juga sering meluangkan waktunya untuk mengikuti ekstrakulikuler di sekolahnya.

“Smart Class” Tidak Mengkotak-kotakan

Psikolog menyambut baik  adanya “Program Class Smart” ini. Pratiwi Dian Anugrah, Psikolog dari UNM ( Universitas Negeri Makassar) adanya “Smart Class” sangat baik pada siswa. Tidak hanya memudahkan pengajar dalam memberikan materi kepada siswanya saja. Akan tetapi memberikan visualisasi dapat mengfungsikan semua alat indra pada siswa.

Pratiwi menolak  anggapan “Smart Class” dimaksudkan untuk  pengkotak-kotakan. Akan tetapi adalah bentuk penghargaan sekolah kepada siswanya yang berprestasi.

“Sama halnya dengan kelas unggulan atau kelas akselerasi yang didalamnya dinilai merupakan keseluruhannya adalah orang yang dianggap cerdas, “ujar Pratiwi.

Perempuan kelahiran 1993 ini beranggapan bahwa dengan adanya “Smart Class” ini juga bisa menjadi patokan buat siswa lain. “Smart Class” bisa menjadi inspirasi, sedangkan siswa di kelas lainnya bisa menjadi termotivasi dalam peningkatan kualitas belajarnya.

Pratiwi menambahkan sebenarnya fasilitas seperti itu tidak hanya pada “Smart Class” saja akan tetapi juga kelas lainnya. “Semestinya fasilitas seperti tidak hanya diberikan untuk di Smart Class saja tapi juga di kelas lain, yang dapat menunjang proses belajar mengajar di sekolah,” imbuhnya.

Apa yang diungkapkan Pratiwi patut disimak. “Smart Class” memang terobosan, tetapi dalam soal fasilitas tidak boleh ada diskriminasi.

Pratiwi Dian Anugrah, Psikolog UNM ( Universitas Negeri Makassar)/Foto: Nurul Rahmatun Ummah.
Lihat juga...