Padukan Rasa Kecut Gurih dan Manis, Es Tape Gosrok Tetap Digemari
YOGYAKARTA – Sajian kuliner berupa minuman es saat ini sudah sangat beragam. Berbagai macam jenis dan rasa produk minuman es ditawarkan untuk mengobati rasa dahaga, terutama saat cuaca panas terik di musim kemarau seperti saat ini.
Di Yogyakarta terdapat minuman es tradisional yang begitu melegenda. Namanya es tape gosrok. Meski saat ini sudah jarang ditemukan karena kalah bersaing dengan produk minuman es lainnya, es tape gosrok pernah sangat popuper dan digemari di tahun 80-an.
“Zaman dulu, sekitar tahun 80-an, tidak ada yang menyaingi es tape atau es gosrok ini. Masih banyak pedagang berjualan dengan gerobak keliling kampung. Beda dengan sekarang, sudah kalah dengan minuman lainnya. Pedagangnya juga cuma tinggal satu dua,” ujar salah seorang pedagang es tape gosrok, Dirjo (77) asal Bintaran, Yogyakarta.
Dirjo memang merupakan salah satu dari sedikit pedagang es tape gosrok yang tersisa di Yogyakarta. Mulai berjualan sejak tahun 1975, ia biasa mangkal di sekitar Jalan Kusumanegara dan kawasan Puro Pakualaman.
Tak seperti minuman es lainnya, es tape gosrok memang memiliki cita rasa khas yang tiada duanya. Meski bahan baku dan cara pembuatannya cukup sederhana, es satu ini terbilang memiliki kombinasi rasa yang unik.
Terbuat dari campuran tape ketela, kuah santan, serutan kelapa muda serta irisan nangka, es berwarna putih sedikit kekuningan ini memiliki perpaduan rasa kecut, gurih serta manis. Rasa kecut berasal dari tape. Sementara rasa gurih berasal dari santan dan kelapa muda. Sedangkan rasa manis berasal dari irisan nangka.
“Disebut es gosrok karena es dicampur dengan cara digosrok (diparut), ” ujar Dirjo kakek 4 cucu itu.
Kombinasi rasa unik itulah yang menjadi daya tarik orang menyukai minuman yang juga cukup mengenyangkan perut ini. Biasanya penikmat minuman es tape gosrok ini juga kerap mencampurkan roti tawar yang disuwir-suwir sebagai pelengkap.
“Saat ini satu gelas saya jual Rp3000. Kalau tambah roti tawar jadi Rp4000,” ujar Dirjo yang masih ingat pernah menjual es dagangannya seharga Rp5 tiap gelas, pada 1975 lalu.
