Lewohari dan Kisah Perjuangan Masyarakat Lewoingu Melawan Penjajah

LARANTUKA — Sebuah taman doa yang berada di pinggir tebing persis di sebelah selatan jalan negara trans Flores tepatnya di sebelah timur kampung Eputobi saat ini yang dinamakan Lewohari.

Taman doa ini dibangun oleh pater Kremes, SJ untuk mengenang pembantaian yang dilakukan oleh warga Lewowerag terhadap tentara Belanda yang kemudian jasadnya dibuang ke jurang persisi di sisi selatan taman doa yang hingga kini terpampang sebuah Salib besar.

Kisah heroik yang dilakukan leluhur Lewoingu dalam melawan penjajah ini yang coba diangkat kembali dan dipentaskan oleh teater rakyat desa Lewoingu dengan judul Setetes Juang dari Jantung Lewoingu dalam pentas seni budaya Titehena beberapa waktu lalu.

Dalam pementasan yang dibawakan 14 anak muda Lewoingu yang terdiri dari  10 laki-laki dan 4 perempuan ini digambarkan tentang kehidupan warga desa Lewowerang setelah kembali menetap ke kampung mereka karena kampung Lewolaga saat itu sedang dilanda penyakit.

Menghayati Perjuangan

Saat ditemui Cendana News usai pementasan, Ignas Tukan salah seorang pemuda Lewoingu menjelaskan, skeitar tahun 1917-1918 warga Lewoingu disuruh menetap di Lewolaga atas perintah kompeni Belanda.

Kakang Lewoingu saat itu sebut Ignas, dipimpin oleh Sani dari rumpun suku Kung de Terong Tewo sementara kepala kampung Lewowerang dipimpin oleh Baleng Emar dan awalnya mereka menjalani kehidupan dengan baik.

Saat wabah penyakit menyerang Lewolaga, orang Lewowerang meninggalkan kampung dan kembali ke kampung lama mereka di Lewowerang dan Baleng yang saat itu sebagai kepala kampung diminta Belanda mengumpulkan seluruh masyarakat Lewowerang di Tubeawo.

“Karena merasa khawatir dengan keselamatan warganya, Baleng menyuruh masyarakatnya menyembunyikan diri sehingga membuat kompeni Belanda marah dan dirinya pun ditangkap,” ujarnya.

Baleng terang Ignas, ditahan di Lewolaga dan menjalani penyiksaan hingga akhirnya dibunuh dan menyebabkan perlawanan dari masyrakat kampung Leweowerang terhadap penjajah Belanda saat itu.

Di bawah pimpinan Dalu Kumanireng dan Sare Kelen, bebernya, pemuda Leweowerang melakukan perlawanan dengan membunuh tujuh orang tentara Belanda di Lewohari dan untuk menghilangkan jejak mayat tentara tersebut dibuang di jurang Lewohari.

“Pesan yang mau disampaikan dengan pementasan ini agar bagaimana kita generasi muda menghayati perjuangan  tokoh Lewoingu pertama dalam melawan penjajah agar kita membangun Lewotana ini menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Ke depannya kata Ignas, pihaknya  akan terus mementaskan drama ini dengan mengemasnya menjadi lebih baik agar masyarakat Flores Timur bisa mengetahui sejarah Lewoingu dan kenapa  ada taman doa di Lewohari.

Ignas Tukan (kiri) dan Elis Kwen anak muda desa Lewoingu yang berperan di balik pementasan drama perjuangan leluhur Lewoingu. Foto : Ebed de Rosary

Hargai Sejarah

Elis Kwen pemudi Lewoingu lainnya yang ditemui Cendana News mengatakan, meski hanya berlatih serius selama sehari akibat kesibukan anak muda di kampung, pihaknya bisa mementaskan drama ini dengan baik.

“Kalau kita benar-benar menghayati maka tidak sulit membawakan adegan tersebut sebab ini berkaitan dengan perjuangan leluhur kita yang mau tidak mau sebagai generasi muda kita harus mewariskan nilai-nilai kepahlawanan mereka,” tuturnya.

Elis jelaskan, pementasan di Titehena hanya dibawakan tiga adegan saja dari 10 adegan dalam drama ini sebab waktu pementasannya yang dibatasi hanya 30 menit saja namun pihaknya pun selalu mementaskannya hingga tuntas semua adegan.

Memang ada beberapa hal yang harus diperbaiki sebutnya, dimana pihaknya akan terus memperbaiki penyajian dalam setiap adegan, dan dari penampilan serta penghayatan kami berusaha untuk mementaskannya lebih bagus lagi.

“Kepada generasi penerus apapun yang kita lakukan saat ini harus diingat bahwa ada sejarah di balik itu jadi bagaimanapun kita harus menghargai sejarah di tempat kita masing masing,” pungkasnya.

Lihat juga...