Kerap Dilanda Banjir, Petani Tanam Varietas Inpari
LAMPUNG — Sebagian petani di wilayah Desa Palas Jaya Kecamatan Palas masih merasa was was dengan datangnya musim hujan. Sebab hujan deras bisa berimbas pada meluapnya air sungai di tanggul irigasi di wilayah tersebut. Meskipun pada Agustus tahun ini debit air di Sungai Way Pisang masih cukup stabil.
Menurut Sahrul salah seorang petani di desa tersebut sebagian besar petani di wilayah tersebut mulai menerapkan sistem penanaman padi varietas benih yang tahan terhadap banjir atau genangan air saat terjadi limpasan air dari tanggul Sungai Way Pisang.
Semula petani di wilayah Kecamatan Palas masih menanam padi varietas Muncul dan IR64. Sayangnya akibat terjangan banjir sebagian petani mengalami kerugian dan memilih varietas padi yang tahan genangan air sekaligus juga tahan terhadap hama wereng coklat.
Penanaman varietas Inpari 24 dan Inpari 33 oleh sebagian besar petani menjadi upaya untuk menghindari kerugian akibat banjir kiriman yang kerap melanda wilayah tersebut.

“Lahan pertanian di wilayah Palas berada di dataran rendah kerap menerima banjir kiriman dari aliran Sungai Way Pisang dan mengalir ke saluran air meski lebih tinggi akibat banjir besar bisa mengakibatkan genangan air selama berhari hari,” kata Sahrul saat ditemui Cendana News ketika ia melakukan proses penyulaman di lahan sawahnya, Senin (7/8/2017)
Berada di wilayah dataran rendah memang mempunyai risiko. Daerah tersebut menerima aliran Sungai Way Pisang dari berbagai kecamatan di Lampung Selatan termasuk limpasan air Sungai Way Sekampung akibat proses pasang surut air laut dari perairan pantai Timur Lampung. Akibatnya banjir limpasan menghantui petani.
Banjir limpasan tersebut sebagian bisa diatasi dengan sistem buka tutup pintu air yang ada di sebagian wilayah tersebut. Tetapi apabila limpasan air yang berlebih tak bisa dicegah meski dengan membuat tanggul buatan.
Masa tanam Juli hingga Agustus dengan target masa panen Oktober menyesuaikan umur padi varietas Inpari 24 selama empat bulan lebih diakuinya untuk mencegah terjadinya banjir saat padi masih mengalami masa muncul bulir.

Beruntung pada saat ini debit air dari Sungai Way Pisang masih cukup stabil bahkan ratusan hektar sawah di wilayah Palas yang terletak lebih tinggi dari saluran air harus dialiri dengan menggunakan mesin pompa untuk kebutuhan padi yang baru ditanam serta selama proses pengolahan lahan.
Sahrul mengaku dirinya memilih mengeluarkan uang untuk bahan bakar proses pemompaan air ke lahan pertanian dengan biaya Rp200 ribu hingga Rp300 ribu untuk beberapa hari menyesuaikan kebutuhan dibandingkan jika harus mengalami kebanjiran.
Ia berujar dengan adanya banjir bisa mengakibatkan kerugian besar bagi petani di wilayah tersebut karena saat musim hujan genangan air bisa terjadi selama berminggu minggu.
Berbeda dengan wilayah Kecamatan Palas pantauan Cendana News di Desa Bandanhurip Kecamatan Sragi sebagian lahan pertanian sawah di wilayah tersebut justru kekurangan air akibat saluran irigasi tersier kering.
Sebagian petani bahkan harus memanfaatkan sumur sumur pompa yang disediakan secara mandiri dan sebagian disediakan oleh Dinas Pekerjaan Umum untuk lahan pertanian.
Sarnen, seorang petani padi jenis Ciherang di desa tersebut bahkan mengaku terpaksa menunggu selama dua jam lebih untuk mengalirkan air ke puluhan petak sawah miliknya yang kering. Kekeringan lahan sawah miliknya tersebut sudah terjadi selama sepekan akibat kekurangan pasokan air sementara saluran irigasi di wilayah tersebut tidak mengalirkan air.
“Saluran irigasi memang tersedia namun airnya tidak ada sehingga kami memanfaatkan aliran air dari sumur bor produksi yang dialirkan menggunakan selang ke lahan pertanian secara bergilir, ” ungkap Sarnen.
Ia menyebut sebagian wilayah Kecamatan Sragi yang jauh dari aliran sungai memanfaatkan aliran Sungai Way Sekampung yang saat ini masih dalam proses surut sehingga air tidak bisa mengalir secara alami ke lahan pertanian melalui saluran irigasi.
Beruntung di Desa Bandanhurip Kecamatan Sragi Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Selatan membuat sumur produksi dengan kedalaman 110 meter dan debit 88,6 liter/detik sejak 2008 untuk memenuhi kebutuhan ratusan hektar lahan pertanian sawah di wilayah tersebut.
Fasilitas tersebut diakui Sarnen dan ratusan petani di wilayah tersebut memiliki peranan yang penting sehingga dalam kondisi kekeringan petani masih bisa memanfaatkan air untuk pengairan.
“Bagi yang jaraknya dekat dengan fasilitas sumur produksi mudah mengalirkan air tapi bagi yang jauh memang harus lebih lama menunggu giliran”terang Sarnen.
Petani di wilayah tersebut mulai memasuki masa tanam dengan penanaman padi varietas Ciherang, Inpari dan sebagian IR64 dengan pola tanam jajar legowo dan pola penanaman sudah menggunakan sistem modern menggunakan mesin penanam padi (rice transplanter) dan saat panen menggunakan mesin pemanen padi (combine harvester).
Masa tanam ini diakuinya sebagian petani masih was was dengan adanya hama keong mas yang menyerang padi berusia muda sehingga petani terpaksa melakukan proses penyulaman dengan bibit tanaman baru.
