Kurangi Ketergantungan Pupuk, Titiek Dorong Petani Kembangkan Sistem Organik
YOGYAKARTA — Anggota Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi, SE atau yang akrab disapa Titiek Soeharto mendorong petani untuk mengembangkan sistem pertanian organik. Selain dapat mengurangi ketergantungan pupuk, sistem tersebut juga dinilai dapat menghemat dana subsidi pupuk yang mencapai puluhan trilyun rupiah.
Tak hanya itu, jika dikelola dengan baik dan benar, sistem pertanian organik juga memiliki prospek sangat bagus, karena memiliki nilai jual hingga tiga kali lipat dari hasil pertanian biasa atau non organik. Dari sisi kesehatan, juga sangat menyehatkan bagi tubuh, serta sangat ramah lingkungan, karena tidak menggunakan pestisida maupun pupuk kimia.

“Saya harap kelompok tani maupun petani di desa-desa dapat ikut membuat kebun pertanian organik semacam ini. Selain menyehatkan dan ramah lingkungan, sistem ini juga dapat menghemat biaya subsidi pupuk karena pupuk dapat dibuat sendiri dari sampah. Pendapatan petani juga akan meningkat karena produk pertanian organik memiliki nilai jual yang sangat tinggi,” ujarnya saat meninjau kebun sayur organik “Dowa” di Jalan Godean, Sleman, Yogyakarta, belum lama ini.
Kebun organik Dowa sendiri merupakan kebun sayur organik yang dikelola seorang pengusaha furniture sukses asal Yogyakarta, Delia Murwi Hartini. Wanita paruh baya ini, merenofasi sebagian pabrik furniture miliknya menjadi greenhouse. Di lahan tanam seluas kurang lebih 2400 meter persegi inilah, ia menanam berbagai macam jenis sayur organik, dengan memanfaatkan teknologi terpadu.

“Kebun organik ini merupakan bagian dari perjalanan hidup saya. Setelah sekian lama menekuni bisnis kerajinan tangan asli Jogja, suatu ketika saya sadar bahwa alam perlu diselamatkan dan disembuhkan. Lalu saya melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk bumi. Salah satunya dengan mengubah pabrik furniture saya menjadi greenhouse ini,” ujarnya.
Selain dapat membeli dengan cara memetik langsung beragam sayur segar organik, setiap tamu juga dapat berlajar mengenai bagaimana cara menanam, membuat pupuk dari sampah organik, hingga membuat pestisida organik. Jika ingin menikmati olahan sayur organik tersebut, pengunjung juga dapat memesan aneka makanan dari bahan organik di resto milik Delia.
Koordinator Kebun Organik Dowa, Ahmad Prasetya mengatakan, pihaknya mampu memproduksi beragam sayuran segar organik setiap hari. Terdapat sekitar 50 jenis sayuran organik yang ditanam di tiga lokasi kebun organik Dowa. Seperti bayam, kangkung, cabai, slada, dan bermacam sayur organik lainnya.

“Seperti kangkung itu kita panen 10 hingga 15 kilo setiap hari, bayam lima kilo per hari, cabai dua kilo per hari. Awalnya semua produk sayuran organik ini kita pakai sendiri untuk kebutuhan resto kita. Tapi karena stok berlimpah, dua minggu ini mulai kita jual. Harganya jauh lebih mahal dari sayur non organik. Jika kangkung biasa itu satu ikat Rp500 hingga Rp1.000, kangkung organik bisa mencapai Rp5.000. Karena pasarnya itu masyarakat kelas menengah ke atas,” katanya.
Dalam sistem pertanian organik ini, sayuran ditanam di sebuah naungan yang rapat agar benar-benar terhindar dari polusi bahan kimia, seperti asap kendaraan. Suhu dan sirkulasi udara juga selalu dijaga sedemikian rupa dengan penyemprotan embun dan pemasangan kipas blower. Pupuk dan pestisida yang digunakan juga seluruhnya dari bahan organik. Dibuat dari pengelolaan sampah secara mandiri oleh Kebun Organik Dowa.
“Yang jelas sayur organik ini menyehatkan tanah dan orang yang memakannya. Bahkan bisa untuk terapi penyakit. Lingkungan juga menjadi bersih karena sampah kita olah menjadi pupuk. Jadi pupuknya gratis. Bahkan bisa kita jual dalam bentuk padat maupun cair,” tutupnya.