MANILA – Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana, mengatakan, China telah menjamin Filipina, bahwa pihaknya (China) tak akan menduduki kawasan atau teritorial baru di Laut China Selatan, berdasarkan status quo baru yang dimediasi oleh Manila, sementara kedua pihak mencoba memperkuat hubungan.
Menteri Luar Negeri Filipina, Alan Peter Cayetano, juga mengatakan Filipina sedang mengerjakan suatu ‘persetujuan komersial’ dengan China untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber-sumber gas dan minyak di kawasan-kawasan yang diperselisihkan di Laut China Selatan dengan tujuan untuk memulai pengeboran dalam setahun.
Menhan Lorenzan,a mengatakan dalam dengar pendapat di Kongres, bahwa Filipina dan China telah mencapai suatu ‘modus vivendi’, atau cara untuk berhubungan di Laut China Selatan yang melarang pendudukan baru pulau-pulau.
“Pihak China tak akan menduduki kawasan-kawasan baru di Laut China Selatan atau mereka tidak akan membangun fasilitas di Scarborough Shoal,” kata Lorenzana, kepada para pembuat undang-undang, merujuk kepada daerah perikanan utama dekat dengan Filipina yang China blokade sejak tahun 2015 hingga 2016.
China mengklaim, hampir semua Laut China Selatan, perairan yang dilintasi kapal-kapal pengangkut barang dagangan senilai 3 triliun dolar tiap tahun. Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam juga memiliki territorial yang diklaim di kawasan tersebut.
Ketika ditanya tentang komentar Filipina itu, juru bicara Kemlu China, Hua Chunying, mengatakan China memiliki kedaulatan atas Kepulauan Spratly dan perairan di dekatnya, dan China akan terus mendedikasikan dirinya bagi penyelesaian perselisihan itu secara damai melalui pembicaraan dengan pihak-pihak yang terlibat langsung.
Presiden Rodrigo Duterte, yang mulai berkuasa Juni lalu, telah menjalin hubungan baik dengan China dan menghindari perselisihan atas kedaulatan maritim dengan negara itu. Kebijakan tersebut berbeda dari yang diambil para pendahulu Duterte. Pemimpin Filipina itu mencaci maki sekutu lamanya Amerika Serikat atas beberapa isu.
China telah membangun tujuh pulau di batu-batu karang di kawasan-kawasan yang diperselisihkan, tiga di antaranya, kata para pakar, mampu mengakomodasi jat-jet tempur. Pulau-pulau tersebut memiliki landasan pacu, radar dan peluru kendali permukaan ke udara yang China katakan bertujuan untuk pertahanan.
Lorenzana tidak berkomentar ketika para pembuat UU, yang mengutip laporan-laporan dari militer, mengatakan kepadanya, bahwa lima kapal China telah menunjukkan diri hampir 5 km di luar perairan Pulau Thitu yang dikuasai Filipina di Kepulauan Spratly pada Sabtu.
Kolonel Edgard Arevalo, kepala urusan publik militer, menolak berkomentar sampai angkatan bersenjata memiliki ‘gambaran utuh mengenai situasi terkini’. (Ant)