CEPF dan Burung Indonesia Monitoring Pendampingan Petani oleh WTM
MAUMERE — Program “Improving Ecosystem Management and Livehoods Around Egon Mountion” kerja sama Wahana Tani Mandiri (WTM) dengan Perkumpulan Burung Indonesia dan Critycal Ecosystem Partnership Fund (CEPF) yang sudah berjalan setahun di wilayah Kecamatan Mapitara sudah dilakukan evaluasi.
Ada berbagai aktivitas usaha tani dan advokasi pengelolaan kawasan hutan yang lestari terus gencar dilakukan WTM itu, dimotoring dan dievaluasi bersama tim perkumpulan Burung Indonesia dan CEPF.
Demikian disampaikan Manager Program WTM Hery Naif saat ditemui Cendana News di kantornya Senin (7/8/2017) siang terkait pengelolaam kawasan hutan dan sistem pertanian tanpa merusak hutan.
Karena itu, kata Hery, kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan selama dua hari tanggal 3 dan 4 Agustus 2017 untuk melihat sejauh mana pencapaian program yang telah dilaksanakan oleh WTM di lapangan.
“Pada hari Kamis 3 Agustus dilakukan diskusi dengan presentasi program di mana beberapa materi yang dipresentasikan adalah Kegiatan Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam yang telah dilakukan di Desa Natakoli, Egon Gahar, Hale dan Hebing,” ungjkapnya.
Selaiin itu, lanjut Hery, juga dilakukan evaluasi mengenai Legal Drafting mulai dari pelatihan hingga pada penyusunan Peraturan Desa (Perdes) yakni Perdes Hebing tentang Perlindungan Kawasan Mata Air, Perdes Hebing tentang Penertiban Ternak; Perdes Natakoli tentang Perlindungan Kawasan Mata Air dan Perdes Egon Gahar tentang Pengelolaan Air Minum.
“Desa Hebing dan Egon Gahar sudah pada tingkatan Konsultasi ke Pemerintah Kecamatan sedangkan Hale dan Natakoli pada tingkatan Konsultasi Publik,” ulasnya.
Mengenai pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Mapi Detun Tara Gahar sebut Hery, sudah pada tahapan Pembahasan dan Penyempurnaan Rencana Kerja Hutan Kemasyrakatan (RK-HKm) dan pembersihan lahan dan diharapkan awal musim tanam, telah dilakukan penanaman sesuai dengan desain kebun yang sudah direncanakan.
Pada tanggal 4 Agustus,terangnya, dilakukan kunjungan lapangan ke kelompok tani Lero Bekor I, desa Egon Gahar yang juga dihadiri oleh Grand Director CEPF Amerika, Daniel Rohberg, Tiburtius Hani (Perkumpulan Burung Indonesia), Direktur WTM Carolus Winfridus Keupung dan para fasilitator lapangan.
“Setelah dilakukan pantau beberapa kebun kakaot yang sudah dilakukan pemangkasan, kebun hortikultura dan kandang ayam, dilakukan diskusi rombongan,” tuturnya.

Dalam diskusi tersebut, Daniel sangat bangga karena para petani sudah memulai dengan sebuah pola usaha tani yang menjadikan kelestarian lingkungan hidup sebagai salah satu hal penting.
Lebih dari itu, dirinya mengakui bahwa wilayah ini masih sangat hijau dan poptensial untuk pengembangan pertanian tanpa merusak hutan dan malah ia juga mempertanyakan tentang bagaimana rakyat memenuhi kebutuhan kayu.
Menurut Anselmus Gogu Ketua Kelompok Tani Lero Bekor yang sekaligus kader tani. penebangan pohon dilakukan setelah para petani mendapatkan ijin dari Dinas Kehutanan melalui survei ke lokasi.
Namun, Anselmusi juga tidak memungkiri kalau ada yang melakukan ilegal logging karena ingin mendapatkan banyak uang. Tetapi dia menyebutkan hampir sudah setahun aktivitas ilegal logging tidak ditemukan dan semoga hal ini terus terjadi sehingga kawasan Egon Ilimedo hutannya tetap terjaga.