PANGKALPINANG – Perum BULOG Subdivisi Regional Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengaku kesulitan memasarkan gula pasir, karena permintaan masyarakat di daerah itu rendah.
“Permintaan gula pasir rendah, karena harga komoditas itu lebih tinggi dibandingkan gula pasir yang dijual pedagang,” kata Kepala BULOG Subdivre Bangka, Tri Novianti di Pangkalpinang, Selasa (22/8/2017).
Ia menjelaskan, harga gula pasir BULOG sebesar Rp11.000 per kilogram atau lebih tinggi dibandingkan harga pasaran Rp10.500 per kilogram, sehingga masyarakat lebih memilih membeli gula pasir yang dijual pedagang.
“Kami kurang tahu pasti, harga gula pasir di pedagang ini lebih rendah, apakah gula pasir di pedagang ini tidak dikenai pajak atau bea cukai atau stok gula pasir di pedagang berlimpah,” ujarnya.
Novianti mengatakan, penyerapan gula pasir yang rendah ini, pihaknya terpaksa membatasi stok sebagai antisipasi kerugian. “Selama ini kita hanya menggandalkan pasar murah untuk memasarkan gula pasir dengan tingkat penjualan yang kurang,” ujarnya.
Namun demikian, kata dia, pihaknya terus memperkuat stok komoditas itu, dalam upaya menjaga stabilitas harga di masyarakat. “Saat ini stok gula pasir di gudang mencapai 800 ton dan cukup hingga enam bulan ke depan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah ini,” katanya. (Ant)