BPS Klaim Daya Beli Masyarakat Indonesia Relatif Tinggi
JAKARTA — Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat melaporkan bahwa rendahnya Inflasi yang terjadi sepanjang Juli 2017 yaitu sebesar 0,22 persen menujukkan indikator bahwa kemampuan daya beli orang Indonesia masih cukup bagus.
Namun BPS Pusat juga menyebutkan bahwa data secara utuh baru akan diketahui setelah pertumbuhan ekenomi kuartal II Tahun 2017 atau dalam waktu beberapa hari kedepan. Demikian penyataan tersebut disampaikan oleh Kepala BPS Pusat Suhariyanto saat jumpa pers di Jakarta.
Menurut pendapat Suhariyanto, indikator turunnya tingkat Inflasi sepanjang Juli 2017 tersebut menunjukkan bahwa kemampuan dan daya beli masyarakat secara umum masih sangat baik. Daya beli masyarakat akan turun jika terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat.
Rendahnya tingkat inflasi disebabkan karena tidak ada kenaikan harga kebutuhan pokok atau pangan meskipun sebelumnya telah melewati bulan puasa dan Lebaran Hari Raya Idul Fitri 2017.
Padahal biasanya pada tahun-tahun sebelumnya selalu diiringi adanya kenaikan beberapa harga komoditas kebutuhan pokok.
“Perkembangan harga-harga kebutuhan pokok yang paling dibutuhkan masyarakat umum misalnya seperti beras, bawang merah, bawang putih, gula, minyak goreng, daging ayam ras, telur ayam ras, daging sapi dan juga kebutuhan pokok lainnya cenderung stabil, sehingga membuat daya beli masyarakat mengalami peningkatan,” kata Suhariyanto, Selasa (1/8/2017).
Berdasarkan laporan BPS, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya Inflasi pada bulan Juli 2017, misalnya karena faktor kenaikan Inflasi yang dipengaruhi oleh naiknya beberapa harga kebutuhan seperti kelompok bahan makanan misalnya seperti beras, kemudian rokok dan minuman juga mempengaruhi terjadinya Inflasi Juli 2017.