Kota Makassar Bangun Shelter Pelindung Anak dari Kekerasan
MAKASSAR —Masalah kekerasan pada anak yang dilakukan orang-orang sekitarnya kerap terjadi. Kekerasan pada anak bisa membawa dampak buruk secara psikis bahkan hingga dia dewassa nanti.
Kekerasan yang dialami anak tidak saja dilakukan orang yang lebih tua, tetapi juga oleh teman sebayanya. Untuk meminimallisir kasus-kasus kekerasan pada anak ini, kota makassar membuat shulter tindakan kekerasaan pada anak dan perempuan. Untuk di kota Makassar sendiri sudah membangun shelter (tempat aman) di tingkat RT dan RW, di 10 kecamatan.
Keberadaan Shelter ini melibatkan partisipasi warga. Lina, salah satu warga yang tinggal di daerah Toa Daeng III, Lorong Mawar, Kecamatan Panaikang yang menyulap rumahnya sebagai Shelter untuk anak sejak tahun lalu.
“Ini merupakan kerja sama dengan P2PT2A. Dan juga merupakan salah satu program dari kementrian perlindungan anak dan perempuan dalam meminallisir kasus kekerasan pada anak, ” jelas Linda pada Cendana News di kediamannya, Senin(24-07-2017).
Tidak hanya menangani kasus kekerasan pada anak di Shulter ini, juga diadakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi anak-anak. Seperti kegiatan membuat prakarya, belajar bahasa inggris dan bernyanyi kegiatan seperti ini sering dilakukan setiap malam minggu di shulter ini. Kegiatan ini. Disini juga sebagai tempat bimbingan konseling untuk anak.
Tidak hanya mengadakan kegiatan untuk anak-anak saja, Linda juga sering turun ke daerah yang ada di sekitar Kecamatan Panaikang untuk mensosialisasikan tindak-tindakan kekerasan pada anak.
Linda berendapat bahwa kasus tindakan kekerasan pada anak saat ini masih sulit untuk terditeksi. Hal ini dikarenakan anak-anak masih takut untuk menceritakan kejadian-kejadian yang sudah dialami.
Linda menambahkan dirinya mempunyai cara tersendiri agar bisa mengorek keterangan dari anak-anak. Dia ingin mengetahui apa yang anak-anak alami selama satu minggu, apa yang mereka dapati.
“Saya biasa melakukan pendekatan secara persuasif ke anak. Di antaranya anak-anak menulis dengan spidol dikertas berwarna hal yang tidak menyenangkan yang mereka dapati selama seminggu ini. Dari sinilah biasanya saya mendapatti bahwa anak-anak ini sering mendapatkan tindakan kekerasan dari keluarga mereka sendiri,” imbuhnya.
Semejak shelter ini berdiri di tengah warga yang tinggal di perumahan Toa Daeng III, perannya sebagai tempat perlindungngan sangatlah efektif dalam mengurangi tingkat kekerasan pada anak. Bahkan seminggu pertama berdiri, sudah ada kekerasan pada anak yang ditangani.
Semejak shelter ini berdiri hanya terjadi 2 kasus kekerasan pada anak dalam sebulan yang di tangani. yaitu kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan anak yang dicekoki obat-obat pada teman sebayanya pada Mei lalu.
Anak-anak yang tinggal di sini sering memanggil Linda dengan sebutan bunda. Semua anak-anak yang tinggal di kawasan Kecamatan Panaikang sering bermain di shelter milik Linda ini. Tidak hanya dari kawasan Kecamatan Panaikang saja bahkan shleter ini kedatangan anak-anak dari Kecamatan Manggal, yang berdekatan dengan Panaikang.
Ahmad salah satu anak yang sering mampir di shelter ini mengaku sangat senang dengan kegiatan di shelter ini.
“Biasanya bunda selalu mengajari kami mewarnai, mengajak kami bercerita, memgambar dan membuat prakarya dari bahan tidak terpakai,” ungkap Ahmad.
Warga juga sangat mengapresiasi adanya shelter milik Linda. Ria salah satu warga Lorong Mawar ini misalnya. Menurutnya anak-anak di daerah sini jadi memiliki kegiatan yang bermanfaat, selain itu juga di shelter sering mensosialisasikan bagaimana cara memperlakuka anak.
Menurut Ria, Linda sering memanggil kami para ibu-ibu di sini untuk datang ke shelternya. Untuk mensosialisasika bagaimana cara memperlakukan anak.
“Dari situ saya jadi tau hal-hal seperti ini yang dilakukan pada anak. Tidak boleh membentak anak. Bahkan Bu Linda sering menasehati kami untuk memperlakukan anak secara lembut,” ungkap Ria.