JAKARTA – Si bau yang menggoda, jengkol, oleh sebagian besar orang identik dengan makanan khas orang Betawi yang kadang dibenci karena dianggap sumber bau mulut dan juga ketika buang air kecil. Namun dirindukan oleh sebagian orang karena cita rasanya yang begitu menggoda dan tak tergantikan.
Tapi lain ceritanya bila jengkol yang terdapat di rumah makan Republik Jengkol tidak membuat bau mulut dan tidak bau ketika buang air kecil bagi orang yang menyantapnya.
Adalah Fatoni, Presiden Republik Jengkol menceritakan awal berdirinya Republik Jengkol. Kuliner serba jengkol ini bermula dari istrinya yang hobi makan jengkol. Walaupun makan secara sembunyi tetapi aroma bau dari jengkol yang istrinya makan tidak dapat disembunyikan dari dirinya. Dari situlah akhirnya ide untuk mendirikan Republik Jengkol tercetus.
Menurut Fatoni, hobi memasak yang ia gandrungi sejak kecil dan juga mengenal herbal, membuat dirinya terpacu untuk mencari bagaimana caranya agar jengkol yang dimakan tidak menimbulkan aroma bau mulut dan ketika buang air kecil. Dengan memiliki pengetahuan herbal, kemudian dirinya mencoba menetralisir agar jengkol tidak membuat bau bagi yang menyantapnya tanpa menghilangkan rasa jengkol tersebut.
Dengan cara memasak atau mengolah jengkol yang dirinya lakukan, baik ketika disantap maupun ketika buang air kecil tidak meninggalkan aroma bau jengkol tersebut. Untuk menghilangkan aroma bau jengkol, dirinya memilih jengkol yang baik dan bagus, kemudian di rendam sehari semalam, lalu dikupas bersih, setelah itu barulah dimasukkan ke dalam presto dengan air secukupnya, dan di bagian atasnya dikasih lengkuas yang sudah dimemarkan, daun salam, daun jeruk, sereh, selanjutnya ditutup, dimasak selama 1 jam.
“Alhasil, jengkol yang saya jual sekarang ini tidak membuat takut bagi yang menyantapnya karena sudah tidak lagi menimbulkan aroma bau jengkol dan tentunya tidak mengurangi ciri khas rasa dari jengkol tersebut,” jelasnya, Sabtu (29/7/2017).
Dirinya menjelaskan bahwa, Republik Jengkol berdiri pertama kali tepatnya pada 27 Maret 2012, bertempat di Komodor Halim. Setelah menjalani dua tahun di Komodor Halim, selanjutnya pindah tempat di jalan Kerja Bakti, Kramat Jati, hingga sekarang ini dan pada tahun ini juga membuka cabang di Ciracas, jalan raya Bogor KM 24.
Nama Republik Jengkol digunakan pertama bahan baku dan olahannya semua serba jengkol, yang kedua bila diartikan Re itu berarti kembali, Publik itu masyarakat, sehingga memiliki arti kembali ke selera masyarakat. Logo RJ yang dipakai juga banyak mengandung arti, bisa Raja Jengkol, Ratu Jengkol, Rejo (makmur), dan terdapat mahkota di atasnya memposisikan bahwa Republik Jengkol itu di atas dan di dalamnya terdapat Presiden Jengkol. Dengan falsafah itulah dirinya mencoba untuk memposisikan Republik Jengkol berada di atas.
Untuk modal awal membangun usaha ini, dirinya menghabiskan dana kurang lebih sekitar 50 juta untuk sewa tempat, membeli alat-alat masak yang dibutuhkan dan sebagainya. Dalam sehari untuk dua tempat menghabiskan 50 kilo jengkol yang didatangkan dari teman yang sudah memang dipercaya. Walaupun sekarang ini jengkol sedang melimpah, dirinya tidak serta merta menerima dari orang-orang yang menawarkan. Dirinya memang sudah menjalin kerjasama dengan temannya yang memasok jengkol untuk usahanya ini.
“Grafik peningkatan yang menyukai Republik Jengkol terlihat di tahun ketiga di lokasi Kramat Jati ini, yang biasanya sehari menghabiskan 10 hingga 25 kilo jengkol, naik menjadi 30 kilo dalam sehari. Omzet yang didapatkan dalam sehari berkisar 3 hingga 4 juta. Dari pendapatan itulah, alhamdulillah mulai berkembang hingga memiliki cabang di Ciracas,” katanya lagi.
Dikatakan lagi, kurang lebih sekitar 13 varian menu untuk pecinta kuliner jengkol, dengan harga standar yang ditawarkan, dan yang menjadi favorit pengunjung yakni Jengkol Lada Hitam serta Tongseng Jengkol. Buka dari hari Senin sampai Kamis, Jumat libur, Sabtu dan Minggu buka, mulai dari pukul 11.00 hingga pukul 21.30 WIB. Untuk karyawan sendiri, di Kramat Jati terdapat 4 karyawan, sementara di Ciracas kurang lebih sekitar 17 karyawan yang dipekerjakan di Republik Jengkol ini.
Yang menjadikan daya tarik pengunjung untuk menyambangi Republik Jengkol ini dikarenakan olahan jengkol yang tidak menimbulkan aroma bau mulut dan bau ketika buang air kecil, juga karena varian menu yang kreatif, sehingga pengunjung merasa tertantang ingin mengetahui dan merasakan menu yang ditawarkan.
“Ke depan saya ada rencana untuk mengembangkan usaha ini di wilayah Jakarta Barat dan Utara, tidak menutup kemungkinan di wilayah Depok, melihat dari pengunjung yang datang pada Sabtu dan Minggu kebanyakan dari jauh semua,” jelasnya.
