Posdaya Baitussalam Bantu Warga Produksi Minuman Sari Buah

MALANG – Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri – Membantu perekonomian keluarga tidak harus selalu bekerja di luar rumah, tapi dapat juga dilakukan dengan memulai sebuah usaha yang dapat dikerjakan di rumah. Seperti halnya yang dilakukan oleh ibu-ibu di Dusun Robyong, Desa Wonomulyo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang yang sembilan puluh persen penduduknya bekerja sebagai petani.

Saat ini, warga di daerah tersebut khususnya ibu-ibu sudah mulai mengembangkan berbagai jenis usaha dan salah satunya adalah usaha minuman Sari Buah. Hal itu tidak terlepas dari peran Posdaya Masjid Baitussalam dalam memberikan pelatihan kewirausahaan kepada warga Dusun Robyong.

“Masyarakat di sini khususnya ibu-ibu sebenarnya sejak dulu ingin memiliki usaha sampingan untuk membantu perekonomian keluarga. Hanya saja mereka masih bingung harus melakukan apa. Alhamdulillah sekarang dengan adanya Posdaya Baitussalam, mereka diberi pelatihan mengenai cara memulai usaha dan pengembangan usaha,” jelas Ketua Posdaya Baitussalam, Miftakul Ulumudin kepada Cendana News.

Sebagai upaya tindak lanjut dari pelatihan yang sudah diberikan Posdaya, sudah dikirimkan data lima orang warga Dusun Robyong ke Dinas Tenaga Kerja untuk mendapatkan pelatihan lanjutan.

Lebih lanjut Ulumudin menceritakan, untuk masalah di bidang ekonomi, sebenarnya Posdaya Baitussalam sudah berusaha untuk merangkul dan mengajak semua masyarakat di lingkungan masjid. Pada tahun 2014 yang lalu, Posdaya Baitussalam sudah pernah mengadakan pelatihan jamur sekaligus mengirimkan beberapa warga untuk belajar cara budidaya jamur. Tapi mungkin karena kurang telaten, jadi untuk usaha budidaya jamur sementara ditunda dulu dan dialihkan untuk pengembangan usaha-usaha yang lain seperti usaha minuman sari buah.

Produk minuman sari buah Mekar Sari. Foto: Agus Nurchaliq

“Alhamdulillah dari Posdaya beserta Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, memberi fasilitas di tahun 2016 berupa pelatihan. Salah satunya yaitu membuat minuman sari buah dimana usaha minuman tersebut sudah berjalan hingga sekarang. Pesanan minuman sari buahnya juga sudah semakin meningkat dan sudah memiliki ijin edar dengan merek dagang Mekar Sari, akunya.

Untuk harganya jika dijual secara eceran 23 ribu rupiah per satu kardus. Tapi kalau beli banyak atau kerjasama harganya bisa lebih murah antara 19-20 ribu per kardus. Menurut Ulumudin, kebanyakan orang dalam memulai sesuatu biasanya selalu melihat hasilnya dulu. Cara berpikir seperti itu yang ingin diubah.

Jadi, kalau mereka ingin menghasilkan sesuatu maka mereka harus berusaha dulu baru bisa mendapatkan hasilnya. Untuk itu Posdaya Baitussalam sedikit demi sedikit mencoba untuk merangkul warga termasuk ibu-ibu PKK juga dilibatkan supaya lahan-lahan kosong yang dimiliki warga bisa ditanami dengan buah-buahan yang bisa dibuat bahan baku minuman sari buah diantaranya Markisa dan Jambu.

Untuk buah Markisa kebanyakan warga sudah punya tanaman ini. Bahkan dulu sebelum dimanfaatkan untuk minuman sari buah, warga tidak tahu mau menjual Markisanya kemana. Jadi sekarang Markisa tersebut dimanfaatkan untuk minuman sari buah.

“Alhamdulillah setiap satu keranjang kecil buah Markisa kita hargai 15 ribu, jadi kebun-kebun warga sedikit demi sedikit sudah bisa menghasilkan dan ada nilai ekonomi di situ. Sedangkan untuk Jambu, sekarang kami sudah menanam 100 pohon Jambu yang nantinya bisa digunakan untuk minuman sari buah,” terangnya.

Ulumudin berharap untuk ke depan sesuai dengan tujuan awal Posdaya Baitussalam yaitu pemberdayaan masyarakat yang berbasis masjid. Jadi masyarakat senang bisa datang ke masjid dan masyarakat juga bisa terangkat perekonomiannya.

“Jadi masjid bisa memakmurkan dan bisa dimakmurkan,” harapnya.

Sementara itu salah satu warga pembuat minuman sari buah, Siti Rochmah, mengaku bahwa untuk memproduksi minuman sari buahnya semuanya masih dilakukan dengan cara manual. Ia sendiri dapat pengetahuan cara membuat sari buah dari pelatihan yang diadakan Posdaya dan pelatihan di balai latihan kerja.

Selain dari pelatihan-pelatihan tersebut Siti Rochmah juga terus belajar dari kesalahan-kesalahannya dalam proses produksi. Bahkan Siti mengaku tidak sedikit sari buah yang terbuang karena hasilnya tidak sesuai yang dia inginkan. Karena menurutnya dari teori yang ia dapat, hasilnya tidak selalu sama dengan praktik.

Dalam sehari, Siti Rochmah bersama dengan kelompoknya mampu memproduksi 10 kardus minuman sari buah.

“Alhamdulillah bahan baku buahnya sendiri tidak sulit untuk mendapatkannya karena di daerah sini banyak warga yang sudah mulai membudidayakan tanaman buah seperti Markisa dan Jambu,” akunya. Selain dua buah tersebut, ia juga memproduksi sari buah belimbing, jeruk, dan apel.

Siti Rochmah menunjukkan produksi minuman sari buah. Foto: Agus Nurchaliq

 

Lihat juga...