Pembuat Telur Asin di Yogya Mulai Menjerit

YOGYAKARTA – Kenaikan harga garam yang melambung tinggi hingga hampir 3 kali lipat dari harga normal, membuat sejumlah pelaku industri rumah tangga seperti pembuatan telur asin menjerit. Salah satunya, Marsilah, warga Dusun Samben, Argomulyo, Sedayu, Bantul. 

Ibu dua anak ini terpaksa harus menghentikan usaha pembuatan telur asin yang selama ini menjadi mata pencahariannya sehari-hari. Ia menghentikan produksi telur asin semenjak kenaikan harga garam, karena mengaku tak mendapat untung.

“Sudah seminggu terakhir ini tidak produksi. Ya, sejak harga garam mahal,” katanya, kepada Cendana News, baru-baru ini.

Marsilah menuturkan, dalam sebulan ia biasa memproduksi telur asin hingga 500 butir. Ia mengolah telur asin dari hasil ternak itik yang ia pelihara sendiri. Ia biasa membuat telur asin setiap 10 hari sekali. Untuk membuat 100 butir telur asin, ia membutuhkan garam sekitar 5-10 kilogram.

“Sejak harga garam naik, dari Rp3.000 menjadi Rp6.000 per kilogram, saya memilih tidak produksi. Kerena harga otomatis harus dinaikkan dari Rp2.800 menjadi Rp3.000. Sementara harga segitu sulit dijual,” katanya.

Hal serupa juga dialami pengusaha telur asin lainnya, Yumi Astuti, (50) warga Kuturaden, Sinduadi, Mlati, Sleman. Ia mengaku sejak harga garam naik, produksi telur asinnya menurun dari 3.000 butir per bulan menjadi sekitar 1.000 butir per bulan. Harga telur asin juga mengalami kenaikan dari Rp2.500-menjadi Rp3.000 per butir.

“Karena harga garam naik terus dari Rp1.600 lalu jadi Rp2.500, lalu Rp5.500 dan sekarang Rp8.000 per pak, otomatis kan harga jual harus dinaikkan. Padahal, kalau dinaikkan konsumen tidak mau beli. Omset pun jelas jadi turun,” katanya.

Lihat juga...