JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat Republik Indonesoa bekerjasama dengan United Nations Children’s Emergency Fund (UNICEF) hari ini baru saja meluncurkan buku “Analisis Kemiskinan Anak dan Deprivasi Hak Hak Dasar Anak”.
Pelaksanaan acara peluncuran buku yang kemudian dilanjutkan dengan talk show tersebut digelar di Hotel Sari Pan Pacific, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat.
Dalam pidato sambutannya, Kepala BPS Pusat Suhariyanto menjelaskan bahwa hingga saat ini masalah kemiskinan masih manjadi persoalan yang mendasar dan termasuk persoalan yang tak kunjung usai.
Ini sebenarnya bukanlah semata-mata hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun juga menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk masyarakat itu sendiri.
Suhariyanto menerangkan bahwa mungkin jaman dahulu ada salah satu istilah yang dikenal masyarakat luas salah satunya afalah “banyak anak, banyak rezeki”.
Namun sekarang faktanya justru bertolak belakang, berdasarkan survei yang dilakukan BPS, anak yang hidup dengan 5 anggota keluarga atau lebih malah mempunyai kecenderungan rentan berada dalam kemiskinan.
Menurut keterangan saat menggelar acara jumpa pers di Jakarta menyebutkan bahwa ada fenomena atau penemuan bahwa dalam sebuah lingkungan yang mempunyai anak atau anggota keluarga yang lebih dari 5 orang atau beresiko lebih tinggi menjadi miskin dibandingkan dengan anak yang tinggal bersama anggota keluarga mereka yang lebih sedikit jumlahnya.
“Mungkin dahulu sebagian orang berpendapat bahwa banyak anak banyak rezeki. Namun sekarang faktanya justru sebaliknya bahwa semakin banyak jumlah anggota keluarga justru semakin rentan hidup dalam garis kemiskinan. Selain itu sebagian besar anak-anak kebanyakan hidup di daerah pedesaan cenderung lebih beresiko lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang hidup di perkotaan,” kata Suhariyanto di Jakarta, Selasa (25/7/2017).
Berdasarkan analisa BPS, ternyata 2 dari 3 atau sekitar 63 persen anak miskin kebanyakan hidup di daerah pedesaan. Sedangkan sisanya 37 persen tinggal di daerah perkotaan.
Sementara itu sekitar 52 persen keluarga miskin yang tinggal di daerah pedesaan kebanyakan mempunyai mata pencaharian atau bekerja di sektor pertanian.