NEW YORK – Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan, Dana Anak PBB (UNICEF) mengatakan, anak-anak terus memikul beban kondisi darurat di Sudan. Sementara, negara itu menghadapi penyebaran cepat diare berair akut.
“Situasi parah tersebut terjadi setelah arus besar pengungsi Sudan Selatan, dan tingginya angka gizi buruk, terutama di Daerah Jebel Marra di Darfur Tengah”, jelas Stephane Dujarric, dalam satu taklimat di Markas Besar PBB, New York, belum lama.
Menurutnya, UNICEF sangat memerlukan 22 juta dolar AS untuk menyediakan bantuan penyelamat jiwa untuk lebih dari 100.000 anak. “Dengan berlanjutnya konflik di Sudan Selatan dan meluasnya kondisi rawan pangan, Sudan diperkirakan menerima pengungsi tiga kali lebih banyak pada 2017, dibandingkan dengan yang diperkirakan pada awal tahun ini,” kata Stephane.
Dalam 10 bulan belakangan, lebih dari 16.600 kasus diare berair akut ditemukan, dengan 317 kematian, kata Xinhua –, yangn terpantau pada Jumat (30/6/2017), pagi. Negara Bagian Nil Putih di Sudan Tengah adalah wilayah yang paling terpengaruh dengan lebih dari 5.800 kasus dilaporkan. Hampir 20 persen orang yang terserang adalah anak kecil.
“Jumlah kasus yang saat ini dilaporkan setiap pekan sama dengan jumlah yang kami hadapi pada puncak musim hujan tahun lalu. Di Negara Bagian Nil Putih, yang menampung hampir 100.000 pengungsi, kebanyakan di kamp, situasi bisa bertambah parah saat musim hujan dimulai,” kata Wakil UNICEF di Sudan, Abdullah Fadil.
Selain itu, lebih dari 155.000 pengungsi dari Sudan Selatan telah mengungsi di Sudan sejak awal tahun ini, termasuk 100.000 anak kecil. Menurut perkiraan, belum lama ini di daerah yang baru bisa didatangi di Jebel Marra, Darfur Tengah, ada banyak kasus gizi buruk akut. Angka imunisasi juga sangat rendah, dan anak-anak yang berusia 7 tahun tak pernah diberi vaksin, sementara tak kurang dari 23.000 anak usia sekolah memerlukan dukungan pendidikan. (Ant)