RABU, 12 APRIL 2017
PADANG — Tidak dapat dipungkiri bahwa anak muda sekarang lebih memilih bekerja di kantoran dengan berpakaian dinas rapi dan berdasi, serta ruangan yang ber-AC. Namun, ada yang berpendapat lain soal dunia kerja yang terlihat elite itu.
![]() |
| Aldi saat berada di sawahnya. |
Aldi, anak muda kelahiran Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, mengakui siapa yang tidak tergiur dengan pekerjaan yang terlihat elite, akan tetapi baginya menjadi seorang petani adalah profesi yang mulia di mata keluarga dan agama.
Pria berusia 25 tahun itu, sudah mencicipi panas terik matahari dan berlumpur, sejak duduk di bangku sekolah pesantren. Baginya, ada suatu sisi pemahaman yang membuatnya bersemangat menjadi petani. Hal itu soal usaha dan hasil yang diperolehnya menjadi seorang petani.
“Kerjanya memang keras dan bahkan kuli tpun menjadi hitam dan kuku di jari kaki pun menguning, tapi saya menikmati pekerjaan ini. Karena, apa yang saya nikmati, murni dari usaha dan keringat saya, bukan soal uang suap atau korupsi, atau bahkan pengemis,” ujarnya, ketika dihubungi via telpon dari Padang, Rabu (12/4/2017).
Aldi, saat ini memiliki sejumlah luas lahan sawah di Surantih tepatnya di Padang Limau Manis, mulai dari membajak sawah, menebarkan benih, bertanam padi, merawat, hingga memanennya, dilakukan langsung oleh Aldi dan turut dibantu oleh ayah dan adik-adiknya. Keluarga Aldi memang semuanya petani, sehingga segala hasil dari panen padinya dinikmati secara bersama.
Terkadang, Aldi pun sempat berpikir, jika menjadi seorang pekerja kantoran, mungkin untuk berkumpul bersama keluarga akan sulit, dari pagi hingga terbenam matahari duduk di dalam ruangan. Kalau soal pakaian memang bagus, tapi hari-hari bersama keluarga bakal tidak optimal. Namun, jika menjadi petani, jam kerja pergi ke sawah tidak buru-buru, siang hari menikmati hidangan makan siang di hamparan sawah bersama keluarga, dan waktu untuk libur pun tidak ditentukan.
“Kalau soal hasil atau gaji, saya rasa petani lebih beruntung dari pekerja kantoran. Ya, meski tidak menerima bulanan, tapi pada saat panen datang, enam bulan biaya hidup bisa dipenuhi, dan yang terpenting ibadah tidak ditinggalkan,” ucapnya.
Bukti nyata Aldi menikmati hasil usahanya menjadi seorang petani, dalam waktu dekat ia berencana bakal membeli motor sport, setelah hampir 50 karung gabah padi dipanennya. Kendati demikian, Aldi berharap adik perempuannya yang tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi di Kota Padang, tidak menjadi petani, tapi jadilah seorang pegawai di pemerintahan. Hal itu dikatakan Aldi, karena seorang perempuan tidak boleh turun ke sawah, tapi bekerjalah di tempat yang lebih cocok, perkantoran.
Ke depan Aldi berencana akan mencoba bertani gambir. Dari hasil panen sebelum-sebelumnya ia kumpulkan untuk membeli ladang di perbukitan yang ditanami oleh gambir.
![]() |
| Hamparan sawah yang dikelola Aldi bersama keluarganya |
“Selain sawah yang telah ada, saya ingin punya ladang gambir. Kalau gambir hasilnya bisa dinikmati satu kali dalam dua minggu, dan padi satu kali dalam empat bulan. Hal ini saya lakukan untuk kedua orang tua saya, dan masa depan saya,” kata Aldi.
Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko / Foto: Istimewa
Source: CendanaNews

