MINGGU, 30 APRIL 2017
PONOROGO — Ponorogo memang identik dengan sebutan Bumi Reog. Bagaimana tidak, reog merupakan kesenian asli asal Ponorogo dan bahkan termasuk kedalam salah satu warisan budaya dunia, Unesco. Meski begitu ternyata seiring berjalannya waktu, reog mulai bertransformasi.
![]() |
| Jathil wedhok atau jathil festival. |
Memperingati hari tari internasional setiap 29 April, ratusan seniman reog Ponorogo berkumpul dan membuat acara Festival Kampung Paju. Di sini ada 300 penari yang menunjukkan kemampuannya dalam menari, tak tanggung-tanggung Festival Kampung Paju ini digelar selama tiga hari dua malam.
Ketua Sanggar Kartika Putri, Dirman saat ditemui mengatakan kegiatan ini untuk lebih mengenalkan kepada masyarakat terhadap kelebihan Paju. Selain sebagai sentra pembuatan gamelan juga sebagai sentra perkembangan seni tari.
“Di sini ada tari dan karawitan yang ingin saya tonjolkan,” jelasnya kepada Cendana News, Minggu (30/4/2017).
Menurutnya, dengan digelarnya festival seperti ini mampu membuat Ponorogo lebih dikenal lagi sebagai kota budaya, tidak hanya reog saja tetapi juga kesenian lain.
![]() |
| Dirman. |
“Ikut melestarikan seni budaya tidak harus menjadi pelaku seni tapi juga melihat dan memperhatikan itu juga termasuk melestarikan,” ucap bapak tiga orang anak ini.
Ia berkeinginan mengenalkan kembali reog glamour seperti pada 1940 – 1970-an. Kini reog berbeda. Jika dulu ada potro joyo dan potro tholo (dua penari pengiring sebelum masuk ke pementasan utama.red) kini sudah tidak ada lagi.
Hal serupa juga diungkapkan oleh dalang sekaligus pemerhati budaya, Purbo Sasongko ia mengaku prihatin dengan perubahan penari jathil (penari berjumlah 10 orang didalam pagelaran reog.red) dari tahun ke tahun.
“Awalnya dulu jathil itu ditarikan oleh laki-laki lengkap dengan kuda kepang, seiring bertambahnya waktu sekarang diganti perempuan namun tetap memakai kuda kepang, lalu berkembang lagi jathil perempuan tidak memakai kuda kepang atau yang lebih dikenal dengan jathil obyok,” tuturnya.
![]() |
| Jathil obyok. |
Purbo mengambil kesimpulan, jika adanya jathil tanpa kuda kepang, penari harus pandai mengeksplorasi gerakan tarinya. Kalau tarian tidak bagus dan kompak maka akan terlihat sekali.
Di hari peringatan tari sedunia ini, ia berharap kembalinya pagelaran seni reog seperti jaman dulu. Lengkap dengan potro joyo dan potro tholo serta jathil lanang (laki-laki.red). Di sudut kota Ponorogo ini pasti ada sanggar tari, tapi keaslian tarian reog masih belum terjaga.
“Saya berharap dengan adanya peringatan hari tari, tarian bisa berkembang dan dijaga keasliannya, bak peringatan itu saklar lampu, ketika saklar itu dipencet bisa langsung menerangi sekitarnya, begitu pula dengan tarian di Ponorogo,” pungkasnya.
![]() |
| Purbo Sasongko. |
Jurnalis: Charolin Pebrianti/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Charolin Pebrianti
Source: CendanaNews



