SELASA, 21 MARET 2017
SLAWI — Jumlah pengangguran di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dari tahun ke tahun diketahui terus meningkat. Jumlah lowongan pekerjaan yang tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja, dituding sebagai penyebabnya. Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan setempat, pun melakukan berbagai upaya pelatihan, guna mengurangi ketergantungan terhadap lowongan pekerjaan.
![]() |
| Ovi Utami |
Dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik, diketahui jika dari total jumlah penduduk di Kabupaten Tegal, terdapat 64,59 persen angkatan kerja, dan 35,41 persen bukan angkatan kerja di 2012. Dari jumlah tersebut, orang yang bekerja sebanyak 93,95 persen, dan 6,05 persennya dinyatakan menganggur. Pada 2013, jumlah angkatan kerja sebesar 62,75 persen, dan bukan angkatan kerja 37,25 persen. Sedangkan yang bekerja 93,07 persen dan 6,93 persen dinyatakan menganggur.
Tahun berikutnya, 2014, jumlah angkatan kerja sebesar 63,65 persen dan bukan angkatan kerja sebesar 36,25 persen. Sedangkan jumlah yang bekerja 91,53 persen dan 8,47 persennya menganggur. Lalu, pada 2015, jumlah angkatan kerja sebanyak 60,91 persen dan bukan angkatan kerja sebanyak 39,09 persen. Sedangkan yang bekerja sebanyak 90,48 persen dan 9,52 persennya menganggur. Dengan kata lain, dari sebanyak 629.471 orang angkatan kerja di Tegal, sebanyak 59.925 di antaranya adalah pengangguran.
Bidang Pengatur Kerja Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan Kabupaten Tegal, Ovi Utami, ditemui di ruang kerjanya, Selasa (21/3/2017), mengatakan, data tersebut dibuat berdasarkan jumlah masyarakat yang membuat kartu kuning pada 2016, yang tercatat ada sebanyak 11.788 pencari kerja, dengan kriteria SD sebanyak 70 orang dan mendominasi pekerjaan sebagai Pembantu Rumah Tangga ke Luar Negeri, SMP sebanyak 252 orang, SMA sebanyak 4347 orang, SMK sebanyak 5263 orang, D1 sebanyak 6 orang, D2 sebanyak 3 orang, DIII sebanyak 826 orang dan S1 sebanyak 1021 orang.
Namun demikian, lanjut Ovi, dari data tersebut hanya 715 orang yang telah melaporkan penempatan kerja mereka, sedangkan sisanya sebanyak 11.703 orang tidak melaporkan, sehingga dianggap masih menganggur. Kepastian jumlah pengangguran tersebut, akan terlihat saat masa perpanjangan kartu kuning atau kartu pencari kerja.
Menurut Ovi, jumlah pengangguran yang terus meningkat itu disebabkan jumlah pencari kerja dan jumlah lowongan kerja yang tersedia sangat tidak sebanding. Sementara itu, terkait upaya Dinas Tenaga Kerja dalam mengurangi angka pengangguran, pihaknya tahun ini merencanakan 28 paket pelatihan yang akan dilaksanakan di desa-desa. Pelatihan itu meliputi tata boga, menjahit, rias, dan sebagainya. “Mudah-mudahan, kegiatan pelatihan itu nanti akan membekali keterampilan wirausaha bagi masyarakat, sehingga bisa mandiri dan tidak tergantung pada lowongan pekerjaan,” pungkasnya.
Jurnalis: Adi Purwanto/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Adi Purwanto