BALIKPAPAN — Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tenaga kerja dituntut untuk memiliki kompetensi dan sertifikasi yang mampu bersaing dengan sumber daya manusia (SDM) luar negeri.
![]() |
| Ketua Apindo Balikpapan Slamet Brotosiswoyo. |
Menurutnya, sertifikasi kompetensi menjadi tolak ukur sebuah perusahaan dalam merekrut tenaga kerja. Kompetensi sertifikasi berbeda dengan dengan program pemagangan. “Kalau pemagangan yang belum bekerja kemudian ikut magang atau mau kerja, tapi belum punya sertifikasi kompetensi,” katanya.
Disebutkannya dari dua juta tenaga kerja di Kalimantan Timur, baru sekitar 1000 naker yang memiliki kompetensi sertifikasi.
“Kompetensi sertifikasi sangat penting karena perusahaan bisa melihat keahliannya,” ujar Slamet.
Menghadapi persaingan global ini pihaknya mendorong tenaga kerja di Kalimantan Timur untuk memiliki sertifikasi sesuai dengan keahliannya. Dan untuk mendorong itu, Apindo juga akan bekerjasama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai instansi yang menerbitkan sertifikasi.
“Untuk pelatihan sertifikasi ini kendalanya pada biaya. Latihan sertifikasi tidak satu minggu atau dua minggu. Namun bisa satu bulan. Biaya tidak murah,” keluhnya.
Slamet berharap tenaga kerja mampu bersaing dengan tenaga kerja pendatang maupun mancanegara. Karena saat ini tidak bisa dipungkiri, persaingan kemampuan tenaga kerja sangat ketat. Apabila tidak memiliki keahlian, maka akan kalah bersaing dengan tenaga kerja yang sudah tersertifikasi.
Jurnalis: Ferry Cahyanti/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Ferry Cahyanti