MATARAM — Musim panen tahun ini harga gabah petani anjlok dan terjun bebas jauh di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP) yang telah ditetapkan pemerintah pusat. Anjloknya harga gabah tersebut dikeluhkan banyak petani, membuat Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) meradang dan menuding Badan Urusan Logistik (Bulog) NTB tidak Profesional.
![]() |
| Kepala Dinas Pertanian NTB, Husnul Fauzi. |
Kepala Dinas Pertanian NTB, Husnul Fauzi mengungkapkan, anjloknya harga gabah kering giling (GKG) petani di bawah HPP dengan kisaran harga Rp2.200 sampai Rp2.500 per kilogram. Itu terjadi karena Bulog serta lamban dalam melakukan penyerapan gabah hasil panen petani.
“Kalau bicara kualitas dan hasil, kualitas gabah petani hampir di seluruh Kabupaten NTB sekarang sangat bagus, karena curah hujan cukup. Tidak ada alasan bagi Bulog untuk tidak membeli gabah petani dengan HPP,” kata Fauzi di Mataram, Jumat (10/3/2017).
Selain harus segera melakukan penyerapan, Fauzi juga meminta Bulog bisa membeli gabah petani dengan HPP, karena kalau langkah tersebut tidak sampai dilakukan, kasihan petani dan akan sangat merugi, tidak sebanding dengan biaya dikeluarkan.
Untuk diketahui produksi gabah petani saat ini sudah mencapai 40 persen atau sekitar 1.500 ton GKG. Menurutnya penyerapan gabah petani oleh Bulog harus maksimal dilakukan, supaya harga gabah petani tidak terjun terlalu jauh.
Lebih lanjut Fauzi menambahkan, target GKG tahun ini sendiri adalah 2,5 juta ton atau sekitar 1,35 juta ton beras, dengan areal tanam mencapai 475 hektar, target tersebut meningkat dibandingkan tahun 2016 sebesar 2,4 juta ton GKG dengan 1,3 juta ton beras.
Jika langkah penyerapan tersebut dilakukan sekarang, lalu kapan bulog akan membeli gabah petani, sebab memasuki April mendatang, mereka sudah pasti kalah dengan tengkulak, karena harga sudah pasti naik.
Jurnalis: Turmuzi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Turmuzi