Saksi Sejarah: Desa Asal Pak Harto, Kemusuk Jadi Sasaran Belanda, Ratusan Warga Tewas

RABU 1 MARET 2017

YOGYAKARTA—Diakui atau tidak, posisi Letkol Suharto sebagai Komandan Brigade 10 Wehrkreise III, sekaligus pelaksana Serangan Umum 1 Maret tahun 1949 memiliki peranan sangat penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Hal itu setidaknya ditunjukkan dengan adanya bukti sejarah dimana Letkol Suharto menjadi salah satu incaran utama pihak Belanda pada saat itu. 

Bibit, (77) warga Kemusuk, saksi sejarah.

Berdasarkan catatan sejarah Moseum Memorial Suharto, pihak Belanda bahkan sempat melakukan pencarian terhadap Letkol Suharto di desa asalnya Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul. Peristiwa yang akhirnya menewaskan 23 orang warga desa Argomulyo, termasuk ayah Probosutejo, R Atmo Prawiro, itu terjadi sebelum peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, yakni pada bulan Januari.

Salah seorang saksi hidup peristiwa itu, Bibit (77) warga Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, menceritakan pasca Agresi Militer II pihak Belanda memasuki Dusun Kemusuk untuk memburu Letkol Suharto. Diceritakan awalnya pihak Belanda menculik salah seorang warga setempat bernama Solet. Tukang kebon itu dipaksa oleh pihak Belanda menunjukkan rumah kepala desa sebelum akhirnya ditembak tepat di kepala.

“Setelah mendapat informasi dan menembak Solet, Belanda lalu mendatangi dan menculik Kepala Dukuh Panggang bernama Mangun Sahar dan Joko Boyo atau Keamanan Desa, bernama Joyo Wigeno serta istrinya Imah. Ketiganya diculik pada malam hari untuk menunjukkan posisi pak Harto. Namun ketiganya akhirnya dieksekusi mati karena membohongi Belanda,” katanya belum lama ini.

Diceritakan Bibit, siang harinya tentara Belanda menyerang desa Kemusuk dari arah utara, dan menembak mati seluruh warga laki-laki yang ditemui. Mereka juga membakar rumah-rumah warga karena kesal tidak menemukan buruannya. Sebanyak 19 orang tewas ditembak mati dalam peristiwa ini. Termasuk salah satunya ayah Probosutejo, R Atmo Prawiro. Untuk mengingat peristiwa ini dibuat monumen gunung Jepati di dusun Srontakan, Argomulyo, Sedayu, Bantul

“Saat itu saya berumur 9 tahun. Saat serangan itu suasana desa mencekam. Saya mendengar sendiri suara brondongan tembakan. Rumah-rumah warga desa dibakar. Saat peristiwa itu saya sendiri berada di rumah bersama kakak, simbok dan simbah, semuanya perempuan. Karena bapak saya sembunyi. Rumah saya digeledah Belanda, namun tidak dibakar karena berada di ujung paling selatan dan dekat rel kereta. Saya sendiri disuruh oleh simbok agar tidak memakai baju dan seluruh badan dilumuri kotoran agar dikira gila,” katannya dalam Bahasa Jawa.

Monumen Watu, Argomulyo, Sedayu, Bantul.

Tak hanya itu, Dusun Kemusuk tempat lahir Letkol Suharto, setelahnya diserang bom oleh pesawat pembom Belanda. Beruntung, sebagaimana dikatakan Bibit, bom tersebut mengenai pepohonan sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

“Saat dibom itu saya juga lihat sendiri. Semua warga desa ketakutan. Saya sendiri sembunyi di jugangan bersama simbok dan simbah. Bapak saya dan semua warga desa laki-laki lainnya jarang sekali di rumah karena sembunyi. Saat itu suasana desa sepi. Tidak boleh memasak saat siang hari. Genting kaca rumah harus dicopot. Lampu senthir juga harus dihidupkan di dalam anglo. Sehingga setiap malam seluruh desa gelap gulita,” katanya.

Pasca Serangan Umum 1 Maret, tepatnya tanggal 18 Maret 1949 pihak Belanda kembali menyerang Desa Kemusuk, sebagai balasan. Tentara Belanda mengepung Argomulyo dan melakukan pembersihan. Sejumlah warga mengungsi bersama para pejuang ke salah satu bukit. Belanda mengejar dan terjadi kontak tembak yang tidak berimbang. Sebanyak 100 orang lebih warga sipil termasuk sejumlah anggota brimob gugur dalam peristiwa ini. Untuk mengenang peristiwa tersebut dibuat monumen Watu, Argomulyo, Sedayu, Bantul.

“Sejak awal pertempuran Agresi Militer II itu, Letkol Suharto sendiri memimpin pasukan dengan berpindah-pindah. Beliau bahkan harus meninggalkan istrinya yang saat itu sedang mengandung 8 bulan anak pertama. Beliau bahkan baru bisa menemui istri dan anaknya setelah dipertemukan oleh Hendro Budjono kepala rumah tangga keraton di kompleks Keraton. Dengan menyamar sebagai piyayi mengenakan batik, surjan dan blabgkon,” imbuh Wakil Kepala  Moseum Memorial Suharto, Gatot Nugroho.

Monumen gunung Jepati, dusun Srontakan, Argomulyo, Sedayu, Bantul (biru)

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...