Peringati SU 1 Maret Elemen Masyarakat Yogyakarta Gelar Upacara Bendera

RABU, 1 MARET 2017

YOGYAKARTA — Memperingati peristiwa Serangan Umum (SU) 1 Maret, elemen masyarakat Kota Yogyakarta menggelar Upacara Bendera bertempat di Plaza Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta, Rabu (01/03/2017), pagi.  Upacara ini diikuti berbagai eleman masyarakat baik pelajar, mahasiswa, TNI, Polisi, PNS, para veteran pejuang hingga masyarakat umum dari berbagai wilayah Yogyakarta.

Suasana upacara bendera di plaza Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta.

Mengenakan kalung janur kuning, seluruh peserta mengikuti upacara bendera dengan khidmat. Dua buah janur kuning juga tampak menghiasi lokasi upacara bendera. Bertindak selaku pemimpin upacara adalah Komandan Korem 072 Pamungkas DIY, Brigjen Fajar Setiawan. Upacara juga dihadiri sejumlah pejabat DIY antara lain Wakil Gubernur DIY Sri Pakualam X, Kapolda DIY, Brigjen Pol Ahmad Dofiri, setra sejumlah pejabat lainnya.

Dalam sambutannya, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono ke X yang dibacakan Komandan Korem 072 Pamungkas DIY Brigjen Fajar Setiawan, menyatakan, peristiwa Serangan Umum 1 Maret tahun 1949 merupakan peristiwa penting bagi bangsa Indonesia pada masa itu. Melalui peristiwa yang diiniasi Sri Sultan Hamengkubuwono ke IX, dengan koordinasi Jenderal Sudirman dan pelaksana Komandan Brigade 10 Wehrkreise III, Letkol Soeharto, kedaulatan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara akhirnya diakui.

 “Peristiwa Serangan Umum 1 Maret atau kembalinya Yogyakarta sebagai ibu kota negara saat itu ke tangan republik, menjadi awal kedaulatan bangsa Indonesia. Untuk pertama kalinya penjajah meninggalkan Indonesia dan tidak kembali lagi,” katanya.

Peristiwa Serangan Umum 1 Maret juga menjadi sebuah aksi heroik yang dilakukan TNI bersama masyarakat sipil dalam menepis anggapan dunia internasional bahwa tentara Indonesia sudah tidak ada lagi. Melalui Serangan Umum 1 Maret itulah Indonesia membuktikan bahwa TNI masih ada. Sehingga memperkuat posisi Indonesia dalan perundingan PBB sekaligus mematahkan moral Belanda.

“Serangan Umum 1 Maret memiliki tujuan politik dan psikologis militer. Lewat radio-radio, serangan itu disampaikan ke seluruh penjuru dunia untuk memberitahukan TNI masih ada. Keberhasilan serangan ini dapat terjalin karena kekompakan dan kerjasama antara tentara dan rakyat. Peristiwa Serangan Umum 1 Maret juga menjadi wujud nyata persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa, ” katanya.

Karena itulah, dalam memperingati 68 tahun Serangan Umum 1 Maret ini, ia berpesan agar semua elemen masyarakat dapat mewarisi dan meneladani nilai-nilai tersebut dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Semangat persatuan, serta rasa patriotisme dan nasionalisme yang ditunjukkan para pejuang harus dapat diteruskan oleh generasi saat ini.

Upacara yang berjalan berlangsung khidmat.

“Dengan kondisi dan situasi bangsa dan negara yang terus berubah, semangat nasionalisme dan patriotisme serta rasa persatuan dan kesatuan harus tetap dimiliki semua elemen masyarakat. Hal ini sangat penting agar bangsa Indonesia tidak kehilangan jati diri dan karakter yang dimilikinya,” pungkasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto:  Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...