RABU, 1 MARET 2017
YOGYAKARTA — Peristiwa Serangan Umum 1 Maret terjadi sebagai sebuah puncak serangan balasan terhadap Agresi Militer Belanda II yang ditandai sejak tentara Belanda menyerbu Yogyakarta dengan memborbardir dan menduduki Pangkalan Militer Bandar Udara Adisucipto Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Serangan Umum 1 Maret tahun 1949 di Yogyakarta sebenarnya merupakan serangan balasan ke 5 yang dilakukan tentara Indonesia.
![]() |
| Letkol Soeharto di Museum Memorial Soeharto. |
Berdasarkan catatan sejarah Museum Memorial Soeharto, serangan balasan pertama dilakukan tentara Indonesia dengan dipimpin Letkol Soeharto selaku Komandan Brigade 10 Wehrkreise III, sejak tanggal 29 Desember 1948. Serangan pertama ini dinilai sangat penting untuk menghambat pergerakan tentara Belanda sekaligus menunjukkan eksistensi keberadaan tentara Indonesia sebagai penjaga martabat bangsa dan negara Indonesia.
“Sebelum peristiwa Serangan Umum 1 Maret, pasukan tentara Indonesia sebenarnya sudah melakukan serangan serangan balasan pada tentara Belanda dengan menggunakan taktik perang gerilya. Dengan persenjataan seadanya mereka menyerang secara berkala untuk menghambat tentara Belanda. Setelah serangan balasan pertama tanggal 29 Desemer 1948, tentara Indonesia melakukan serangan kedua pada 9 Januari 1949. Diikuti serangan ketiga pada 16 Januari 1949, serangan keempat pada 4 Februari 1949. Puncaknya pada 1 Maret 1949,” ujar Wakil Kepala Museum Memorial Soeharto, Gatot Nugroho, belum lama ini.
![]() |
| Diorama Serangan Umum 1 Maret 1949 di Museum Memorial Soeharto. |
Berdasarkan sumber sejarah, sebagaimana dijelaskan Gatot, serangan balasan tentara Indonesia sejak awal serangan pertama hinga serangan ke empat selalu dilakukan pada malam hari. Hal itu dilakukan sebagai bagian taktik perang gerilya. Yakni untuk meminimalisir jumlah korban di kubu pejuang Indonesia mengingat minimnya persenjataan yang dimiliki.
“Pasukan tentara Indonesia menyusun serangan dengan cara berpindah-pindah. Ini dilakukan untuk menyulitkan Belanda. Serangan pertama dirancang di Ngotho, Banguntapan, Bantul. Serangan kedua hingga keempat dirancang di markas komando Wehrkreise III Segoroyoso, Imogiri, Bantul. Sedangkan serangan kelima dilakukan di markas Staf Komando, Bibis, Bangunharjo, Kasihan, Bantul,” katanya.
![]() |
| Diorama seputar pertempuran 1 Maret 1949. |
Dalam melakukan setiap serangan, Letkol Soeharto sebagai pimpinan tertinggi Komandan Brigade 10 Wehrkreise III membagi pasukannya menjadi 7 Sub Wehrkreise yang disingkat SKW. Pada serangan puncak 1 Maret 1949, Letkol Soeharto memerintahkan menyerang pada saat siang hari yakni dengan sasaran utama melakukan pengepungan dan penyerangan serta menduduki titik konsentrasi musuh. Seperti Benteng Vredeburg, Kantor Pos Besar, Istana Presiden, Hotel Tugu, Stasiun Tugu hingga Markas Besar Tentara Belanda di Kotabaru. Serangan diinstruksikan dimulai tepat saat sirine berbunyi pukul 06.00 sebagai tanda berakhirnya jam malam.
“Sebelum penyerangan, Letkol Soeharto bersama 40 pasukannya berada di Rumah Joglo Mbah Djoyo Prawiro, Dusun Sanggonan Godean. Ia sempat meminta seorang remaja setempat bernama Darmo Pardjo memanjat pohon kelapa dan mengambil janur kuning untuk dipasang di lengan semua pasukannya,” katanya.
Sehari sebelum penyerangan itu diketahui juga sempat terjadi salah hitung waktu penyerangan yang dilakukan oleh Letnan Komarudin bersama pasukannya. Letnan Komarudin diketahui menyerang dari sisi Alun-alun Utara dan Kantor Pos Yogyakarta pada pagi hari pukul 06.00 saat masih tanggal 28 Februari 1949. Ia mengira saat itu sudah memasuki tanggal 1 Maret 1949. Namun ia kemudian diperintah untuk mundur agar tidak merusak rencana penyerangan pada keesokan harinya.
![]() |
| Wakil Kepala Museum Memorial Soeharto Gatot Nugroho. |
“Setelah Serangan Umum 1 Maret berhasil dilakukan, Letkol Soeharto memerintahkan semua pasukan untuk meninggalkan kota dan melakukan penyerangan pada pos-pos Belanda di luar daerah. Hal ini dilakukan untuk membingungkan pihak Belanda. Letkol Soeharto juga menyiapkan 2 kompi pasukan yang dipecah untuk menyerang pos-pos Belanda di Sleman, Bantul, hingga Wonosari. Berkat kegemilangannya ini, Jenderal Sudirman menyebut Letkol Soeharto sebagai bunga pertempuran,” katanya.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana


